Pasca Akuisisi Amazon, Masih Adakah Independensi Pembaca di Goodreads?

Sejak menerima kabar Goodreads telah menjadi bagian dari keluarga Amazon sejak 29 Maret 2013 dari blog Goodreads, saya sebagai salah satu anggota Goodreads.com sejak September 2007 berhak terpukul dan merasa kecewa pada keputusan yang diambil Otis Chandler, founder Goodreads. Barangkali Otis perlu tahu sejumlah alasannya.

NewsGoodreads

Pertama, Goodreads bukan lagi sekedar platform jejaring sosial para pembaca, brand Goodreads sudah tumbuh menjadi ekuitas yang bermakna positif sebagai ruang publik independen bagi para pembaca. Saya ingat bagaimana dulu pada tahun 2007 saya berupaya menjelaskan entitas Goodreads ini di kalangan para penerbit dan para pembaca di Indonesia, salah satu kata kunci yang selalu saya dengungkan mengenai Goodreads adalah KEJUJURAN.

Kata JUJUR itu didapat karena di Goodreads anggotanya bisa bebas dan tanpa pretensi menuangkan pendapatnya atas isi buku yang telah dibacanya atau mau dibacanya, menilai satu bintang sama dihargainya dengan lima bintang (sistem rating Goodreads, satu bintang berarti “did not like it” sampai lima bintang berarti “it was amazing”), semua diberikan semata-mata karena pengalaman personal saat seorang pembaca berinteraksi dengan buku yang dibacanya, baik dari isi, sampul, bahkan tipografi, atau bisa saja pengalaman emosional di saat membacanya. Kejujuran di Goodreads memang tiada duanya, yang dalam banyak kesempatan juga mempunyai dampak: tidak semua kejujuran itu bisa diterima dengan lapang dada. Saya menyaksikan sendiri bagaimana penulis bisa demikian tersinggung atas kejujuran ulasan pembaca di Goodreads dan kemudian balik menghina pembacanya “tidak punya otak”.

Kedua, Goodreads bukan lagi sekedar mencintai membaca dengan menunjukkan apa yang sedang, akan, dan belum ia baca, tetapi Goodreads sudah menumbuhkan iklim “konstruktif” yang membuat orang mau AKTIF membangun kebudayaan membaca di tingkatan lokal, regional, bahkan negara. Macam-macam yang telah bersusah payah di dalamnya. Saya sudah menemui sejumlah orang yang AKTIF menjadi Goodreads Librarian yang secara tekun memasukkan satu per satu daftar buku yang ia miliki ke dalam database Goodreads hanya untuk melihat betapa kayanya khasanah literasi yang dimiliki negerinya. Belum lagi pegiat komunitas dalam skala klub buku, sampai komunitas membawa bendera negara seperti Goodreads Malaysia dan Goodreads Indonesia. Para agen literasi yang aktif menggunakan saluran komunikasi yang beragam, mulai dari  program radio, webisode, event tahunan, hingga acara televisi. Dan tentu saja para pecinta buku yang AKTIF membantu melengkapi kebudayaan membaca ini dengan beragam pendapat dari perspektif yang beragam.

Ketiga, Goodreads bukan sekedar anggota jejaring biasa, tetapi ia telah MENJADI SUARA PEMBACA yang mulai diperhitungkan oleh penerbit dan penulis. Suara pembaca ini didengar karena ada kehendak kuat dari para pembaca untuk menyikapi persoalan perbukuan yang bukan hanya sekedar isi buku bagus atau tidak bagus, tetapi juga semesta yang melingkupinya: kehidupan para penulis yang terpinggirkan, perhatian pada perpustakaan yang terlantar, nasib bahasa lokal yang menghilang, dan lain sebagainya.

Keempat, Goodreads bukan sekedar bisnis lagi. Ia diperlukan dalam industri buku ini untuk tetap mendukung KEJUJURAN, KEAKTIFAN, MENJADI SUARA PEMBACA ketika berhadap-hadapan dengan kepentingan kapital/modal yang cenderung bertolakbelakang dengan semua itu. Ia tetap perlu berdiri sendiri, independen dari kepentingan yang menggerusnya.

Saya berhak mengutarakan keempat alasan ini untuk menggambarkan arti Goodreads bagi banyak pembaca di Indonesia. Ada banyak keuntungan yang didapatkan oleh para pembaca sejak Goodreads dibangun, tetapi kabar gembira yang diumumkan Otis barangkali tidak merefleksikan kegembiraan bagi saya dan mungkin banyak orang lain seperti saya.

Meskipun dijanjikan tidak ada perubahan dalam independensi Goodreads pasca akuisisi Amazon, saya pikir ada baiknya kita membuka mata pada persoalan ini secara lebih dalam.

AmazonGoodreads

Akuisisi adalah persoalan bisnis. Dari sisi bisnis, Amazon memiliki banyak kepentingan untuk mengakuisisi Goodreads, lebih daripada Goodreads membutuhkan Amazon. Dengan mengakuisisi Goodreads, Amazon mengakuisisi kemampuan Goodreads untuk membuat buku benar-benar berhasil didiskusikan. Sedangkan Goodreads, hanya akan mendapat sisi perkembangan buku digital yang tak terhindarkan yang disediakan Amazon lewat perangkat baca digitalnya.

Baik Goodreads dan Amazon sama sekali tidak membahas bagaimana implikasi akuisisi ini pada keempat alasan yang sudah diutarakan sebelumnya: bagaimana akuisisi ini akan berdampak pada kualitas kejujuran yang ada di review-review yang tersaji, pada tingkat keaktifan para anggotanya, juga pada suara pembaca yang disampaikan.

Akuisisi adalah persoalan kompromi. Tidak mungkin tidak ada perubahan, karena dana  sejumlah 1 Milyar Dolar Amerika yang digelontorkan Amazon untuk mengakuisisi Goodreads — mengutip Mizan.com— pastilah menuntut return of investment. Apakah return of investment yang diharapkan, tentu saja revenue yang berlipat-lipat dari nilai akuisisi. Siapa yang dapat menjamin ulasan-ulasan di dalam Goodreads tidak digunakan untuk kepentingan marketing Amazon? Siapa yang dapat menjamin keaktifan pembaca tidak disalahgunakan? Siapa yang dapat menjamin suara pembaca tetap tulus dan jujur di dalam Goodreads seperti semula?

Inilah persoalan yang mengerucut pada pertanyaan utama: pasca akuisisi Amazon, masih adakah independensi pembaca di Goodreads?

Dan tentu saja, sebagai sekedar anggota Goodreads dari 16 juta pengguna di seluruh dunia dan satu dari hampir 10.000 anggota komunitas pembaca aktif Goodreads Indonesia, keberatan saya ini tak akan mengubah apapun dari akuisisi yang telah terjadi. Yang bisa saya lakukan segera adalah berpamitan pada Goodreads dan seluruh entitas di dalamnya.

Goodreads Account

Saya telah mengemasi semua kekayaan pengalaman yang pernah saya dapatkan di dalamnya selama menjadi moderator Goodreads Indonesia selama tiga tahun (2007-2010) dan menutup 2 klub buku yang saya kelola: Jakarta’s Bookworms dan Bersejarahlah, dan beringsut pergi dengan menahan agar tetes airmata ini tidak jatuh terlalu banyak.

Selamat tinggal Goodreads.

[dam]

Silakan baca juga:

Alasan Kekecewaan Ronny Agustinus http://titiktiga.wordpress.com/riwayat/

We are all just data now… http://www.salon.com/2013/03/31/amazon_buys_goodreads_were_all_just_data_now/

Why Goodreads Is So Valuable to Amazon http://www.theatlantic.com/business/archive/2013/04/the-simple-reason-why-goodreads-is-so-valuable-to-amazon/274548/

Iklan

10 pemikiran pada “Pasca Akuisisi Amazon, Masih Adakah Independensi Pembaca di Goodreads?

  1. Meskipun saya anggota goodreads pasif, saya bisa memahami bahwa “kolaborasi” dengan Amazon akan menjadi sekedar bisnis belaka.Dan ya… membuat saya juga ingin hengkang dari sana 😀

    Suka

  2. ah saya gak mau berburuk sangka sebelum melihat perkembangan ke depan dan toh gak selamanya akuisisi itu buruk….seperti akuisisi yg dilakukan Amazon terhadap Zappos tidak mengubah culture apapun dalam perusahaan Zappos. Jeff Bezos dalam pandangan saya,tipe orang yg senang melakukan sinergi daripada menjadi sekadar predator pengejar profit. Well, let us see….

    Suka

  3. Aku sedih nerima pemberitahuan penutupan jakarta bookworms & bersejarah dan mas amang keluar dari goodreads. :(( Untuk kegiatan klub buku Jakarta bookworms dialihkan ke facebook saja bagaimana?

    Suka

  4. mohon izin untuk ikut nimbrung…

    kalo saya berpikir malah dari sisi lain mas.

    soalnya Indonesia belum mendapatkan fasilitas lengkap dari amazon terutama dari produk kindle. saya sih berharap akuisisi ini akan membuat amazon hadir secara total di Indonesia, karena komunitas goodreads di sini sudah cukup aktif.

    untuk review dan independensi sendiri, memang ini akan bisa diperdebatkan tetapi saya pikir perusahaan modern tahu bahwa kejujuran adalah aset. independensi adalah bagian dari kejujuran dan amazon tau itu karena kekuatan goodreads adalah di sana.

    tentunya kita memang belum bisa menilai, akuisisi pun dikatakan baru akan selesai pada kuarter kedua tahun 2012. jadi untuk strategi ke depan dll saya kira masih terus dibahas. pengumuman kemarin baru kesepakatan tetapi masih terus berproses.

    intinya saya sih berharap, akuisisi goodreads oleh amazon ini bisa memberikan dampak bagi pengguna Indonesia, semoga saja bisa dengan mudah membeli produk buku digital di kindle. termasuk menemukan perangkat kindle dengan harga khusus untuk pasar lokal. karena komunitas goodreds di sini aktif. jika ini bisa terjadi maka akan pula membuka peluang perluasan pangsa pasar para penerbit lokal.

    tapi sayangnya saya sendiri dulu sempat aktif di goodreads karena pernah mendirikan distributor buku, karena sudah keluar dari bisnis tersebut saya malah jarang aktif, hanya sesekali bertemu dengan teman yang aktif di sana atau melihat di berbagai event ada komunitas goodreads hadir. jadi mungkin pendapat saya kurang sahih. saya lebih melihatnya sebagai kesepakatan dua entitas digital, yang siapa tau bisa memperluas fasilitas konsumen di sini.

    terima kasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s