Perjumpaan dengan Penulis yang (Pernah) Menamakan Dirinya Gola Gong

ROY adalah lelaki tulen. Saya salah satu pembaca yang pernah menganggap sosok ideal lelaki ada pada diri Roy, anak muda Indonesia yang gemar berpetualang, berkemeja kotak-kotak flanel, celana jeans, menyukai makan nasi sumsum, gemar bersiul lagu Beatles. Citra lelaki itu terpatri dalam di benak saya, begitu berarti.

image

Roy tentu saja tokoh fiktif,  sama seperti halnya Lupus dan Boy. Tapi dia yang paling akrab saya kenal. Satu-satunya yang mengusik saya sejak dulu, mengapa penulis yang (pernah) menamakan dirinya Gola Gong membubuhkan kata “balada” atas kisah avonturir Roy. Tapi pertanyaan itu tak pernah saya sampaikan. Bahkan dalam sekian kali perjumpaan kami berdua.

Tulisan bersambungnya “Balada Si Roy” sudah saya akrabi sejak sekolah menengah pertama dari majalah remaja HAI. Ketika terbit buku seri sampai 10 nomer di tahun 1994, kembali lagi kisah Roy saya baca selagi menjaga perpustakaan SMA. Selama itu pula saya mengagumi banyak hal pada kisah Roy dan sosok penulisnya. Saya ingat pernah membaca kisah petualangan Gola Gong naik sepeda keliling Asia berikut fotonya. Hidup tanpa tangan kiri bukan jadi kendala bagi Heri Hendrayana Harris untuk maju, berpetualangan, menjadi pribadi yang lebih baik dengan menulis dan banyak lagi.

Seingat saya, kali pertama perjumpaan saya dengan kang Heri  dan teh Tias Tatanka terjadi tahun 2009 di Hari Buku Sedunia. Teh Tias sempat membisikkan kalau kang Heri harus banyak gerak, tak boleh banyak duduk. Kemudian saling kontak lagi menjelang terbitnya bundel “Balada Si Roy” hardcover tahun 2010, perubahan nama Gola Gong menjadi Gol a Gong, dan kesibukan pencarian dana untuk Rumah Dunia. Tahun-tahun belakangan lebih sering saling beri kabar lewat social media. Sempat mengikuti bagaimana suami-istri ini berpetualang berdua, menulis buku lagi, sampai akhirnya 12 Maret 2013 ini kami bertemu lagi.

image

Perjumpaan kali ini terjadi di kediamannya, Rumah Dunia, semesta yang diciptakan untuk memberdayakan masyarakat Serang pada khususnya,  dan sekaligus Indonesia pada umumnya.

Saat itu saya datang ke Rumah Dunia untuk jadi pembicara, bersamaan dengan Agustinus Wibowo yang juga didaulat untuk berbicara tentang travel writing. Setelah dijamu dengan gonjlengan, makan siang bersama di atas daun pisang, barulah saling sharing. Saya kembali menemukan Roy di mata Gol A Gong. Saya kembali mengenali sosoknya itu, yang pemberani dan penuh semangat, yang suka avonturir, yang usil, di balik T-shirt, rambut kusut beruban, dan perut yang mulai membuncit.

Siapapun nama penulis di balik  Gola Gong yang kemudian jadi Gol A Gong, kepadanya saya berhutang terima kasih. Tanpa Roy, saya tidak akan berani tidur di jalanan, menggelandang dari kota ke kota, dan menjadi lelaki perkasa.

image

“Untuk Amang

Lelaki perkasa berusaha mengubah Indonesia.

3 Juni 2010. Gol A Gong.”

[dam]

Iklan

5 pemikiran pada “Perjumpaan dengan Penulis yang (Pernah) Menamakan Dirinya Gola Gong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s