Perjumpaan dengan Erwin Arnada dan Seribu Ombaknya

Pertemuan pertama antara saya dan mas Erwin Arnada sendiri sebetulnya sudah terjadi cukup lama. Sebelum kejadian Front Pembela Islam tahun 2009-2010 dan dalam konteks hubungan produser dengan penulis. Yang memperkenalkan Salman Aristo dan waktu itu pertemuan terjadi di kantor Rexinema di daerah Ampera, Jakarta Selatan. Salman meminta saya menulis sebuah skenario yang ide ceritanya berasal dari mas Erwin ini. Waktu itu kesan saya pada sosok mas Erwin adalah dia produser yang tahu betul pentingnya cerita yang baik dan punya intuisi tajam pada apa yang disukai penonton Indonesia. Jam terbang mas Erwin dalam urusan memproduseri film-film Indonesia memang panjang.

Waktu bertemu lagi dengan mas Erwin Arnada di bulan Februari 2012 ini, saya sudah mendengar tentang novel yang baru diterbitkan Gagas Media ini dan proses berjalannya pembuatan film berdasarkan novel tersebut. Apalagi novel “Rumah di Seribu Ombak” sudah selesai saya baca dan mas Erwin sudah bersedia menjadi tamu di obrolan #Twitteriak Eps. 6 akhir Januari 2012.

Sebetulnya saya ingin bertemu mas Erwin Arnada untuk dua alasan. Pertama, saya ingin bersilaturahmi lagi karena sejak berhentinya penulisan skenario itu saya tidak pernah bertemu mas Erwin. Memang skenario itu sendiri dihentikan dan filmnya tidak jadi diproduksi oleh Winmark Pictures selaku production house. Kedua, keinginan saya untuk mendukung keputusan mas Erwin untuk menjadi penulis. Seperti dulu mas Erwin memberi dukungan waktu saya menuliskan skenario film untuknya, sekarang saya ingin hadir untuk mendukungnya. Rasanya tak cukup hanya dengan memberi forum #Twitteriak –lagipula mas Erwin pantas mendapatkan forum yang lebih besar– dan saya ingin beri dukungan penuh pada penerbitan buku dan filmnya.

Pertemuan hangat dengan mas Erwin ini terjadi di Diners cafe di Cilandak Town Square. Saya sempatkan minta mas Erwin menandatangani novel tersebut dan cukup senang saya kecipratan cerita “seribu ombak” yang tak didengar oleh kebanyakan orang lain. Mas Erwin cerita tentang kejadian-kejadian sewaktu proses pembuatan novel ini di penjara Cipinang dan juga tentang pohon yang ditebang oleh art director, hingga pemain Yanik yang ternyata tidak bisa berenang, padahal dalam cerita ia harus mahir berenang bersama lumba-lumba.

Rasanya senang sekali mengobrol bersama mengenai proses kreatif novel ini dan sejumlah rencana yang akan dibuat oleh mas Erwin menyambut pemutaran film “Rumah di Seribu Ombak” lepas lebaran.

Dan ternyata mas Erwin tidak melupakan pertemuan hangat ini begitu saja, karena sebelum lebaran saya — dan bahkan istri saya — diberi kesempatan untuk melihat pemutaran perdana film “Rumah di Seribu Ombak”. Betul-betul tak putus rasa terima kasih saya atas pertemanan yang tulus dari mas Erwin ini. Semoga saya kelak mampu membalas kebaikannya.

[dam]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s