Mencicipi Cerita Anak yang Berkelas

Pedagang Peci Kecurian
karya Suyadi

Terbit 2004 oleh Penerbit Djambatan (cetakan pertama Februari 1971) | Binding: – | ISBN: 979-428-534-X | Tebal: 26 halaman

MEMILIKI anak kecil menjadikan saya bertanggungjawab untuk mencarikan cerita yang menghiburnya, tapi lebih penting lagi mengisinya dengan kekayaan cerita lokal. Saya tak pernah berpikir untuk menjejali anak saya dengan cerita penyihir, drakula, atau pangeran berkuda. Sesederhana saya tak ingin meninabobokan dia dengan cerita yang terlalu jauh dari kenyataan.

Maka menemukan buku ini, yang ditulis oleh Suyadi, yang akrab dikenal sebagai Pak Raden, kreator cerita boneka Si Unyil, laksana menemukan apa yang saya cari itu. Cerita lokal, dengan tokoh-tokoh yang lokal, dan ternyata, menghiburnya. Apa yang istimewa dari cerita Suyadi berjudul “Pedagang peci kecurian” ini?

Pertama, dia tidak buru-buru membebani cerita dengan pesan moral. Suyadi bercerita tentang pedagang peci, yang menjajakan peci keliling desa. Capek berjualan, dia istirahat di bawah pohon. Pembukaan cerita ini ringan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita hanya menduga akan ada pencuri, itupun dari judulnya. Tapi siapa yang mencuri? Penulis pandai menyembunyikannya.

Cerita berlanjut, ternyata saat tertidur itulah, ada banyak kera turun dari pohon, lalu mencuri peci dan memakainya di kepala mereka. Kejadian itu terjadi di halaman kelima, belum terlalu jauh dari depan. Kedua, dituliskan dengan teknik cerita modern. Penulis secara cerdik meletakkan setiap kejadian dalam tempo yang terukur. Seperti halnya teknik penceritaan modern, “we enter fast, but then leave early“. Apa yang terjadi kemudian antara pedagang peci dan kera ini dengan sungguh luar biasa telah membuat anak saya yang masih di bawah 4 tahun itu tertawa-tawa tanpa henti.

Ketiga tentang pesan moral, bukannya tidak ada. Secara apik, penulis meletakannya secara implisit. Dengan halus ia berkata yang membedakan manusia dengan kera adalah manusia menggunakan otaknya untuk berpikir, tak seperti kera yang bodoh. Tetapi pesan ini tak perlu digembar-gemborkan dari sejak awal cerita.

Yang dapat saya katakan, cerita anak lokal ini dituliskan dengan baik dan berkelas. Kaya teknik cerita, ilustrasinya yang digambar sendiri oleh penulis menawan, dan gabungan keduanya menunjukkan kekayaan cerita anak lokal kita.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s