Bila Pak Raden Menulis Soal Kucing

1000 Kucing Untuk Kakek
karya Suyadi

Terbit 2004 oleh Penerbit Djambatan (cetakan pertama 1974) | Binding: – | ISBN: 979-428-535-8 | Tebal: 38 halaman

KUCING. Ini barangkali sosok yang paling dekat dengan sosok kehidupan Suyadi. Mainlah ke rumah Suyadi atau Pak Raden ini dan minta ia untuk menceritakan tentang Si Kachung dan Si Pushy, dua dari kucing yang kini menemani masa tuanya. Maka langsung dengan riang, penulis ini akan bertutur banyak tentang kucing-kucing ini. Pada masa lalu, penulis ini pernah memelihara lebih dari 30 kucing di rumahnya.

Sesudah itu, maka tak sulit untuk menemukan tali-temali kenapa akhirnya penulis ini menganggap buku cerita “1000 Kucing untuk Kakek” ini sebagai masterpiece-nya. Salah satu kredo teknik penulisan adalah “tulislah apa yang paling kamu kuasai dan cintai” maka cerita ini adalah salah satu buktinya.

Cerita “1000 Kucing untuk Kakek” ini dimulai dengan sederhana. Di situasi malam yang gelap, kakek dan nenek berbincang-bincang. Kakek punya gagasan untuk memelihara anak kucing kecil, untuk mengisi hari-hari mereka berdua. Kakek dan nenek itu tidak punya anak apalagi cucu. Itu sebabnya, kakek ingin anak kucing untuk disayang.

Esoknya, nenek diminta mencari kucing. Kenapa nenek? Karena nenek setiap hari pergi ke pasar dan di pasar ada begitu banyak orang yang bisa dimintai anak kucing. Maka nenek pun pergi dengan misi mencari anak kucing itu.

Sampai di sini, pembaca disuguhi pertanyaan: berhasilkah nenek menemukan anak kucing? Logikanya harusnya tidak sulit. Bukankah kita sering melihat anak kucing terlantar. Tapi penulis begitu piawai mempermainkan pembaca. Misi nenek gagal total. Di rumah, ia temui kakek yang juga gagal total cari anak kucing.

Lalu bagaimana? Saya pikir ada baiknya saya berhenti bercerita dan teman-teman yang penasaran mencari buku cerita ini. Buku ini merupakan salah satu bukti kepiawaian bercerita yang mengingatkan saya pada penulis skenario Star Wars George Lukas, sekali waktu ia berujar “A lot of people like to do certain things, but they’re not that good at it. Keep going through the things that you like to do, until you find something that you actually seem to be extremely good at. It can be anything.”

Sekarang saat saya membaca buku cerita ini sambil kemudian mengingat Suyadi, saya menemukan korelasi yang teramat dekat. Bukan mengenai kucing dan usia tua, tetapi tentang rasa sepi yang ia alami. Betapapun, ia menyimpan harapan di hari tuanya Pak Raden masih ingin dekat dan disapa oleh para pembaca cilik.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s