Tiga Wajah Baru dari Seorang Pemain Lama

Tiga Manula: Jalan-Jalan ke Singapura
karya Benny Rachmadi

Terbit Desember 2011 oleh Penerbit KPG | Binding: – | ISBN: 9789799104045 | Halaman: 92

LANSKAP dunia komik Indonesia kedatangan bukan hanya satu, tapi tiga wajah baru. Ketiganya memiliki kesamaan: sama-sama manula. Manula itu kependekan dari MANusia Usia LAnjut, sebuah istilah yang lahirnya berbarengan dengan singkatan Balita dari Dinas Kesehatan (dinkes). Istilah ini boleh dibilang sudah ‘kuno’ dan ‘tak lagi dipakai’. Banyak yang keberatan dengan pemakaian kata ‘manula’ yang dinilai kasar.

Di UU No. 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, istilah ‘manula’ sudah diganti dengan bahasa resmi Lanjut Usia atau biasa disingkat Lansia. Biasa lah, ganti menteri, ganti kebijakan, ganti cara panggil. Tapi semua merujuk hal yang sama: orang yang biasa kita panggil kakek, mbah, engkong, dll. Masyarakat Indonesia memiliki cara pandang unik pada generasi ini. Secara antropologis, kedudukan generasi ini seringkali didudukkan sebagai orang yang perlu didengar pendapatnya.

Itu sebabnya, barangkali Benny Rachmadi, menaruh tiga karakter ini dalam rentang umur yang renta. Ketiganya berusia 70 tahunan dengan latar belakang etnis yang berbeda-beda: Mbah Waluyo (76 tahun), Engkong Sanip (72 thn) dan Liem (68 thn), lengkap dengan karakter dan visual yang berbeda. Celotehan mereka bukan sekedar banyolan, menurut saya, tetapi sebuah upaya reflektif.

Apa yang hendak direfleksikan? Dalam kisah “Jalan-Jalan ke Singapura” ini, Liem mentraktir kedua sahabatnya, Waluyo dan Sanip, jalan-jalan ke negeri tetangga, Singapura. Tentu ini suatu pengalaman baru Sanip dan Waluyo karena seumur hidup mereka belum pernah sekalipun keluar negeri. Entah apa alasannya. Barangkali ekonomi.

Geger terjadi. Masyarakat modern dan sedinamis Singapura, harus kedatangan tiga karakter yang polos dan ‘ndeso’. Keluarlah minyak angin PPO yang membuat seluruh pesawat mabok, rokok klembak menyan yang baunya disangka mariyuana, mandi di kolam Merlion, nyebrang jalan, dll.

Tapi sendeso dan sepolosnya tiga manula itu, tetap kita bisa mendapat wejangan, bukan sekedar sindiran tentang manusia Indonesia. Jangan konsumtif seperti orang-orang yang menghamburkan uang di Orchard Road. Jangan gila gadget. Hormati orang tua dengan memberi hak duduk nyaman di MRT. Indonesia memang perlu berkaca dari Singapura. Dari sana, saya kemudian paham kenapa settingnya harus di Singapura. Karena bila meletakkan tiga karakter baru itu di Jakarta, kita hanya akan menganggap tiga manula ini tak lebih dari kakek-kakek nyinyir.

Siapa pencipta tiga karakter ini? Tak lain tak bukan adalah Benny Rachmadi. Betul, ini karyanya terbaru selepas 100 Peristiwa. Masih jeli, masih reflektif. Satu hal yang saya soroti sebagai keberhasilan Benny Rachmadi adalah tidak terjebaknya Benny untuk menstereotipekan tiga karakter ini. Tidak kita temukan kata-kata selipan bahasa Tionghoa, Betawi, atau Jawa di sini. Semua tampil sama: wajah dan pribadi Indonesia.

Dua hal yang saya sayangkan tidak muncul di komik ini: bagian urusan bikin paspor, pastinya Benny bisa mengkritik pihak imigrasi yang rakus uang. Juga urusan di Bandara lengkap dengan segala kerepotan pemeriksaan X-ray hingga kapal gak on-time. Tapi tanpa kedua hal itupun, saya menyambut baik dan menantikan kisah Tiga Manula selanjutnya.

Rating: 3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s