Fiksi-Musikal ala Fahd Djibran

Hidup Berawal dari Mimpi
karya Fahd Djibran, Bondan Prakoso & Fade 2 Black (Kontributor)

Terbit Agustus 2011 oleh Kurniaesa Publishing | Binding: Paperback | ISBN: 9786029934915 | Halaman: 231

PENULIS Fahd Djibran ingin memasukkan karya penulisannya ini dalam genre fiksi-musikal (musical fiction). Pernyataan Fahd ini memudahkan saya sebagai pembaca untuk mendudukkan buku Hidup Berawal Dari Mimpi (HBDM) ini di antara jenis buku lain yang pernah saya baca. Kita tahu Dee sudah melakukannya dalam Rectoverso. Dee mengawinkan musik dan fiksi, yang dua-duanya ditulisnya sendiri. Kita juga tahu duet penulis Agnes Davonar mengawali debutnya justru juga dengan genre ini dengan Misteri Kematian Gaby dan Lagunya Jauh di blog mereka. Tapi tentu genre fiksi musikal paling klasik dan dipuja adalah Le Fantôme de l’Opéra karya Gaston Leroux pada tahun 1910. Karya ini lalu diterjemahkan menjadi The Phantom of The Opera.

Gaston Leroux hidup di pesisir Perancis dan bercita-cita hendak menjadi penulis. Ia menulis puisi, cerpen, dan mempelajari karya Victor Hugo dan Alexandre Dumas. Tapi akhirnya ia menjadi reporter kriminal dan rajin mendatangi ruang sidang, mewawancarai tahanan dan menjadi saksi eksekusi hukuman mati. The Phantom of The Opera kemudian menjadi novel kesekian yang ditulis Gaston Leroux.

Di tangan musisi Andrew Llyod Webber, cerita ini diadaptasi ke proyek musikal dan dipertontonkan di London pada 1986 dan New York pada 1988. Tahun 2006, The Phantom of The Opera muncul di panggung Broadway dan menumbangkan Cats menjadi show terlama dimainakn yang pernah ada dalam sejarah Broadway, paling tidak sudah dipentaskan sebanyak 9.100 kali.

Alih-alih terdistraksi oleh karya Gaston, lebih baik menggunakan karya Dee yang sedikit banyak mirip. Dee menyebut Rectoverso sebagai kumpulan cerita pendek dari sebelas lagu yang diciptakannya, dan kemudian ditutup dengan ajakan untuk mendengar cerita dan membaca lagunya, sedang Fahd mendefinisikan HBDM secara mirip. “Buku ini merupakan fusi-sinergis antara cerita dan lagu. Bacalah kisah-kisah yang terangkum di dalamnya sambil mendengarkan lagu-lagu Bondan Prakoso & Fade2Black yang bersesuaian dengan setiap kisahnya, lalu rasakan sensasinya.” Lagu dan cerita pendek saling berperan sebagai teks sekaligus konteks. Bedanya, Fahd tidak menulis lirik lagu. Lagu-lagu ini telah lebih dulu dilahirkan oleh Bondan Prakoso dan Fade 2 Black.

Karena sifatnya yang complimentary atau saling melengkapi, maka sudah menjadi syarat untuk mendengar dulu lagu-lagu Bondan dan F2B sebelum membaca bukunya. Bila tidak, barangkali pembaca akan lebih dulu bereaksi seperti saya: mengapa Bondan? Bicara soal lirik, musikalitas, gerakan, menurut saya Iwan Fals lebih menarik atau God Bless atau Slank. Tetapi Fahd telah memberi apologia yang terbuka dengan menyatakan bahwa ia langsung jatuh cinta begitu mendengar lagu karya Bondan Prakoso (tentu yang dimaksud bukan lagu Si Lumba-Lumba).

Saya mengimajinasikan kejadiannya seperti ini: Pagi hari. Fahd sedang menyetir di tengah kemacetan Jakarta. Di tengah keluhnya atas situasi porak poranda yang memutarbalikkan kemanusiaan, lamat-lamat ia dengar sebuah lagu enak diputar di radio. Volume ia keraskan dan telinga ia pasang. Tak lama terdengarlah lagu Bondan: “apapun yang terjadi / Ku kan slalu ada untukmu / janganlah kau bersedih/ cause everythings gonna be ok.” Fahd terhenyak. Lalu tak ubahnya Andrew Llyod Webber, Fahd kemudian berinisiatif melakukan interpretasi brutal pada lagu “Ya Sudahlah” itu. Ia menikmatinya, lalu terus dilakukannya untuk lagu-lagu lain dan tersajilah pada pembaca buku ini.

Maka memang tak bisa diperdebatkan mengapa yang dipilih adalah Bondan Prakoso dan Fade 2 Black. Tapi ada beberapa hal yang bisa diperdebatkan di dalam buku ini. Semisal mengenai pemuatan lirik lagu. Perlukah dituliskan kembali secara utuh di dalam cerita? Kalaupun dituliskan, dapatkan ia dihadirkan sebagai kesatuan yang utuh? Tidak sekedar tempelan pada cerita, tetapi diletakkan sebagai apa yang diucapkan atau digerakkan oleh karakter. Lalu juga mengenai tata letak. Apakah yang demikian itu cukup nyaman, senyaman saya memandang sampul yang dikerjakan secara istimewa.

Meskipun beberapa cerita dalam fiksi-musikal ini tampaknya kelewat panjang dan terlalu diterang-terangkan, saya pastikan cerita-cerita dalam buku HBDM ini berpotensi kuat karena karakter yang dimunculkan ditulis dengan memikat dan terikat oleh satu tema yang kuat: menghargai mimpi dan usaha kerja keras untuk mewujudkannya.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s