Yuk belajar dari anak!

30 Hari Jadi Murid Anakku
karya Mel

Terbit Mei 2009 oleh Akoer | Binding: Paperback | ISBN: 9791038163 (ISBN13: 9789791038164) | Halaman: 224

TIDAK semua orang bisa sampai tahap hidup menjadi orang tua. Apalagi menjadi kakek/nenek. Tapi semua orang pasti melalui tahap menjadi anak. Apakah artinya menjadi anak itu?

Kahlil Gibran menggambarkan hubungan anak dan orang tua demikian dalam puisinya “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu”:

Mereka adalah anak-anak yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan dirimu
Meski mereka bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Pada mereka engkau dapat memberikan cinta tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok
yang tidak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka

Tapi…
Jangan coba jadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu
Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu
Menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian
Ia menggerakanmu dengan kekuatannya
sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur tepat dan jauh

Jadikan tarikan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang,
maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya
dengan sepenuh kekuatan

Kearifan demikian, dengan menyatakan Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu / menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan seperti diputarbalikkan oleh Mel dalam bukunya ini. Tidak tepat sebetulnya memasukkan buku ini ke dalam buku parenting, karena justru orang tua yang harus banyak belajar kehidupan ini justru dari anak. Memahami kepolosan dan kemurnian mereka dalam memandang dunia ini, belajar untuk jujur, adil, dan mencintai tanpa prasangka.

Mel membalikkan logika bahwa anak itu ibarat kertas putih yang masih polos yang perlu orang tua tulisi. Karena dalam renungan-renungan khasnya yang pendek — namun bertuah, ia justru merasa jangan-jangan orang tua justru mengotori kertas putih yang polos itu dengan hal-hal yang tak perlu.

Saya sepakat, bahkan cenderung sangat sepakat dengan pengantar dari Eep Saefulloh Fatah betapa anak di zaman sekarang ini sudah menjadi korban ketidakadilan. Korban dari ambisi orang tua. Korban dari kurikulum sekolah yang memasung kreativitasnya. Korban dari sistem yang busuk, korup, sehingga mereka tidak tumbuh dengan semestinya.

Benar bila Kafi Kurnia mengatakan isi buku ini ibarat harta karun. Betapa tidak, sebagai orang tua kita jarang mau belajar, cenderung merasa benar, dan melupakan bahwa anak bisa menjadi guru kehidupan yang sejati.

Maka benar, “anak-anak adalah empunya kerajaan surga”.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s