Menghargai sosok ayah, betapapun rumit dan tak sederhananya

Ayahku (Bukan) Pembohong
karya Tere-Liye

Terbit April 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9789792269055 | Halaman: 304

WAKTU kali pertama draft buku ini dikirim penulisnya, saya tertegun. Sepintas jadi ingat ayah saya sendiri. Sosoknya suka memotivasi. Suka menginspirasi untuk menjadi orang yang tidak mudah putus asa. Selebihnya memang berbeda, tak sepenuhnya sama seperti ayahnya Dam yang suka bercerita tentang El Capiten, meskipun sama-sama menggemari bola. Mungkin sama-sama suka kesebelasan Brasil. Tapi biarpun begitu, kami berdua “berseberangan”. Terutama dalam hal pemikiran dan kegiatan politik. Seolah ada garis transparan yang menjadi tembok pemisah kami berdua.

Ayah adalah orang yang tidak pernah setuju saya jadi penulis. Ia juga tidak suka dengan haluan politik saya. “Contohlah angkatan 66!”, ujarnya di suatu sore setelah saya selesai berdemo. “Mereka kerjasama dengan tentara untuk menumbangkan Soekarno!” Saya langsung naik pitam. Sekali-kali haram buat saya berjabat tangan dengan tentara. Lalu kami bertengkar panjang.

Sehari sebelum ayah meninggal, saya masih berdemo hari buruh. Saat kami berpisah, usai sudah episode pemikiran dan kegiatan politik saya. Rasanya ada perasaan bersalah demikian panjang pada ayah. Untuk semua pertengkaran di masa lalu. Untuk semua debat politis itu.

Selepas membaca draft cerita yang semula berjudul “Ayahku, Sang Kapten & Apel Emas” ini, saya kembali ingat bahwa sesungguhnya ikatan cinta kita pada ayah adalah sebuah cinta tanpa prasyarat. Kita boleh punya riwayat panjang perselisihan dengan ayah kita. Kita boleh tak bersepakat dengan ayah kita, kita boleh pula tak sama tindakan dengan ayah kita, asalkan kita tidak menafikan adanya cinta yang menyatukan hubungan ayah dan anak.

Tere-Liye apik membangun ceritanya dengan peristiwa Dam dan ayahnya. Dam yang bergelora di saat muda, dengan kegiatan renangnya, dengan kegemarannya pada sepak bola. Dan ayah dengan cerita dongengnya yang ternyata bukan sesumbar belaka.

Ketika kemudian hari, saya menerima buku ini, saya membacanya lagi. Dan lagi-lagi buku ini berhasil mengembalikan kesadaran saya untuk menghargai sosok ayah, betapapun rumit dan tak sederhananya dalam praktik kesehariannya. Tere-liye sungguh-sungguh berhasil menggugah saya sebagai pembaca dan sekaligus seorang anak dari seorang ayah yang sangat saya banggakan.

Kesamaan gaya penceritaan buku ini yang saya singgung ke penulis dengan novel The Big Fish karya Daniel Wallace tidak lagi penting, karena buku ini menemukan maknanya tersendiri bagi saya sebagai pembaca.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s