Pembunuhan Karakter dan Empati Sosial

Ojekers
karya Nezaretta

Terbit 2008 oleh Gagas Media | Binding: Paperback | ISBN: 9797802515 | Halaman: 202

MEMBACA cerita ringan seperti ini kadang-kadang membuat saya sebal. Sebal membacanya karena sepertinya si penulis tak punya empati pada kehidupan sosial. Tuduhan serius ini terpaksa saya layangkan juga, gara-gara dalam penokohan Endang Pelung nampak betul upaya ‘membodohkan’ dirinya. Apalagi dipakai bahan pembanding adalah Izhar, yang memang jauh lebih beruntung. Bukan saja pendidikan, tetapi juga penghasilan, dan secara kurang ajar digambarkan penulis, diposisikan sebagai “orang pintar” yang pandai memberi nasihat, solusi, dan sebagainya.

Tipologi penokohan/karakter ini bagi saya terdengar sangat dua dimensional. Serba hitam dan putih. Tidak mencerdaskan. Barangkali si penulis dan teman-temannya akan bilang “namanya juga teen-lit…” sebagai justifikasi/pembenaran atas pilihan eksekusi cerita, tetapi saya juga bisa berkelit dengan menajamkan pertanyaan “memangnya kalau teen-lit boleh memasang karakter-karakter yang tak bernyawa begitu saja?” Menurut saya tidak, paling tidak seingat saya, ada teen-lit yang tidak ditulis secara demikian. Seberapa ringannya sebuah cerita dan misi yang diembannya –justru misi menghibur menurut saya adalah misi yang sangat teramat serius– penokohan/karakter tidak boleh dibuat secara sambil lalu.

Sambil lalu karena semata-mata ia seorang tukang ojek, maka ia dikarakterkan oleh penulis disebabkan karena ia bodoh. Semata karena ia tukang ojek, maka istrinya begitu jelek sejelek-jeleknya orang jelek. Semata karena ia tukang ojek, maka ia tidak pernah naik mobil sedan Honda Stream. Semata karena ia tukang ojek, maka ia bisa percaya setengah mati pada omongan dukun. Barangkali saya yang salah, tetapi di lingkungan saya, nyaris yang menjadi tukang ojek itu paling tidak sudah mengenyam pendidikan sekolah menengah, atau bahkan diploma. Angka pengangguran terbuka yang demikian tinggi (Tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2010 tercatat menurun 0,73 persen menjadi 7,41 persen dibanding dengan Februari 2009 yang sebesar 8,14 persen), serta tekanan ekonomi yang mendorong mereka menjadi tukang ojek. Istilah mereka: ngojek aja yuk, daripada jadi pengangguran. kan malah berpahala. Iya, benar berpahala. Karena dalam pandangan mereka, mengantarkan orang yang kesusahan sampai ke tujuan ada pahalanya. Maka menurut saya, pekerjaan tukang ojek itu tidak bisa dipandang sepele.


Sebal juga membacanya karena pembabakan dalam cerita ini sungguh tidak rapi. Konteks waktu seringkali dilupakan dan koherensi antar bab tidak terjaga. Semisal, saya tidak bisa menemukan sebab mengapa Endang Pelung sekeluarga kesurupan. Baru ternyata di pertengahan bab selanjutnya dijelaskan lewat karakter Izhar bahwa itu “trik” Endang untuk membantu memenangkan calon kades dalam pilkades. Belum lagi, morat-maritnya plot waktu saat Endang dan calon kades pergi ke Jakarta.

Lebih sebal lagi karena saya tidak kunjung terhibur oleh bacaan ringan yang harusnya gampang mengundang tawa dan senyum ini. Leluconnya garing.

Satu-satunya yang sangat saya hargai dari buku ini adalah tambahan kosa kata Sunda sehari-hari plus terjemahannya yang dicantumkan sebagai catatan kaki buku ini. Jadi saya berani memberi poin tambahan bagi cerita ringan ini.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s