Antara Romo, Cinta, dan Perjuangan

Balada Becak
Karya Y.B. Mangunwijaya

Terbit 1985 oleh Balai Pustaka | Binding: Paperback | Halaman: 64

PERTANYAAN ini yang seingatku bergayut saat menimang-nimang untuk mulai membaca novel ini: Tahu apa seorang romo/pastur soal cinta? Apa bisa ia menulisnya menjadi sesuatu yang menarik?

Bagi siswa menengah atas di zamanku, Romo Y.B. Mangunwijaya ini terlanjur dicap “mblalelo” oleh Soeharto, presiden Orde Baru gara-gara ia nekat demo membela masyarakat Kedungombo tahun 1987 (sebetulnya ia sudah mendampingi sejak tahun 1986). Romo ini juga nekat “melawan” bukan dengan bersembunyi di dalam gereja, tetapi langsung turun ke lapangan. Sesuatu langkah yang tak lazim. Sekonyong-konyong orang kemudian mengaitkan dengan Teologi Pembebasan.

Adalah konteks sosial yang terjadi di Amerika Latin saat itu yang kental dengan penindasan, pemiskinan, keterbelakangan, dan penafian harkat manusia — dianggap tak ubahnya dengan kondisi di Indonesia. Dalam konteks itu, refleksi bersama terjadi dalam perenungan-perenungan keagamaan. Mereka mempertanyakan tanggung jawab agama itu seperti apa? Apa yang harus dilakukan agama dalam konteks pemiskinan struktural seperti itu? Barangkali oleh karena Romo Mangun seorang imam dan ia berada di garda depan “pembangkangan” atas proses penindasan, pemiskinan, keterbelakangan itu serta-merta orang mengait-ngaitkan dengan Teologi Pembebasan. Yang pasti, aku penasaran betul ingin tahu isi pikirannya.

Maka begitu menimang novel cinta ini, aku cuma bisa bertanya-tanya: apa kaitan perjuangan dan pemikiran progresif Romo Mangun dengan soal cinta? Kapan terakhir kali ia memikirkan cinta, sedang kami yang di asrama saja seperti diminta “vakuum” memikirkan cinta di usia kami yang begitu labil dan deru-deru asmara mungkin sedang menggebu-gebu di dalam hati kami.

Pembacaan pun dimulai. Pertama, aku geli dengan teknik penulisan Romo Mangun ini. Ia gemar mengaksarakan bunyi. Semisal bunyi tarikan nafas Yus saat menggenjot becak yang berat ditumpangi Bu Dullah yang gemuk — itu gambar di sampul buku ini — sementara Riri mendompleng di belakang, ia aksarakan begini: hosh-hosh-his-ngik-kreyeet-kreyeeet-hosh-hosh. Dalam bahasa, pengaksaraan bunyi ini disebut onomatopoeic atau menirukan suara alam. Romo Mangun juga gemar menyisipkan anak kalimat yang selalu ia awali dengan “–“. Teknik-teknik penulisan yang khas ini menjadi pemikat bagiku.

Kedua, cerita cinta dalam balutan melodi antara Yus dan Riri ternyata tidak linier. Riri, anak Bu Dullah penjual gori, rupanya naksir Yus. Tapi Yus naksir mahasiswi, tapi cuma cinta dalam hati. Bolehlah dikatakan balada karena pada akhirnya cinta-cinta ini bertepuk sebelah tangan. Boleh juga dibilang novel cinta, meski tak ada cinta-cintaan sama sekali di dalamnya (coba bandingkan dengan novel Motinggo Busye misalnya).

Sehingga saat tuntas membaca buku ini, pertanyaan-pertanyaan: “tahu apa seorang romo/pastur soal cinta? Apa bisa ia menulisnya menjadi sesuatu yang menarik?” tampak seperti sesuatu yang mandul. Karena definisi cinta itu luas. Cinta pun bisa antar umat manusia. Toleransi. Mencintai perbedaan. Memahami keunikan setiap orang. Justru romo ini tahu banyak arti cinta. Dan pandai menuliskannya secara menarik. Meskipun boleh dikatakan bukan karya terbaiknya, tetapi novel ini menjadi “pembuka” untukku mau membaca karya-karya lain, termasuk karya-karya pemikirannya dalam esai dan buku non-fiksi lainnya

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s