Jangan panggil aku, Cassius Clay

Mohammad Ali: The Greatest
karya Comic Tribe

Terbit 2008 oleh PT Elex Media Komputindo | Binding: Paperback | ISBN: 9789792734287 | Halaman: 64

KALAU ketemu Mohammad Ali di jalan, jangan sekali-kali kau memanggilnya dengan Cassius Clay. Jangan. Itu saran saya. Patuhi saja, kecuali kalau hidung Anda mau mencium kerasnya aspal dan sejenak kemudian, dokter menyatakan sebaiknya segera operasi plastik agar wajah Anda tidak lagi dikenali oleh petinju yang satu itu. Dan maaf, Anda bukan orang pertama yang dijadikan sansak begitu.

Senin, 6 Februari 1967 di Astrodome, Houston Texas. Ernie Terrel vs. Mohammad Ali. Ernie Terrel, penyandang gelar WBA, dengan tinggi nyaris 2 meter (1,98 meter). Dengan sengaja Terrel memanggil nama Ali dengan Cassius Clay. Akibatnya, Ali menghajar Terrel habis-habisan tanpa jeda dengan terus mengulang-ngulang pertanyaan, “Siapa namaku? Siapa namaku, Uncle Tom? Siapa namaku?”

Muhammad Ali. Ia lebih besar dari apa yang tercantum di komik seri tokoh populer ini. Muhammad Ali adalah sebuah icon. Bukan saja bagi kaum Afro-Amerika, tetapi lebih lagi bagi negara-negara Selatan. Ia adalah tokoh oposan sejati. Ia berdiri di titik yang berseberangan dengan mayoritas masyarakat Amerika: mualaf, anti perang Vietnam, anti kolonialisme, anti kemiskinan, anti rasisme. Perangnya adalah perang pemikiran. Mediumnya selalu sama: ring tinju. Tetapi Ali mengatakan itu hanyalah awal. Karena sejatinya, pertarungan yang Ali menangkan adalah kehidupan yang kini kita nikmati ini.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s