Kronik Hoakiauw di Semarang dan penjuru negeri

Riwayat Semarang
Karya Liem Thian Joe

Terbit 2004 oleh Penerbit Hasta Wahana | Binding: Hardcover | Halaman: 319 | ISBN: –
Cetak ulang dari terbitan Boekhandel Ho Kim Joe, tahun 1931.

APA pentingnya sebuah catatan peristiwa? Seandainya Liem Thian Joe masih hidup, ia mungkin akan mengatakan titik persoalannya bukan penting atau tidak pentingnya catatan peristiwa, tetapi kebenaran yang dapat dipetik di kemudian hari. Penyusun buku ini yang pada tahun 1933 masih aktif sebagai wartawan/juru berita menilai ceceran catatan penting yang ada di bekas gedung Kongkoan (Chineesche Raad) sayang bila tidak diteruskan ke pembaca dan hancur dimakan rayap.

Kongkoan (Chineesche Raad) sendiri adalah lembaga formal bentukan pemerintah Hindia-Belanda untuk mengatur masyarakat Hokkian. Kongkoan berdiri pada tahun 1885 dan ditutup pada tahun 7 Februari 1931. Apa yang tersimpan di catatan peristiwa Kongkoan itu?

1. Catatan Kedatangan Orang Hokkian Pertama di Semarang

Menurut catatan yang tersimpan di Kongkoan, leluhur orang Hokkian pertama kali mendarat di Bantam, kemudian baru berpencar ke daerah lain, seperti Jepara, Lasem, Rembang, Demak, Tanjung, Buyaran, dan akhirnya sampai di Semarang.

Orang pertama yang mendarat di Semarang adalah Sam Poo Tay Djin. Hal ini dibuktikan dengan catatan dalam arsip Kongkoan Semarang:

Dulu, pada masa Kaisar Soan Tik bertahta di Tiongkok, ada seorang thay-kam (sida-sida) bernama Ong Sam Poo. Sekarang dia lebih dikenal dengan sebutan Sam Poo Kong. Dia mendapat perintah dari Kaisar untuk mencari mustika, maka bersama The Hoo dan lainnya mereka lalu berlayar ke arah Utara.

Ia pertama-tama mendarat di Jambi, lalu turun di Bantam, kemudian di Semarang. Di sampaing goa Sam Poo, terdapat sebuah kuburan yang menurut penuturan orang pada zaman dulu, itu adalah kuburan jurumudi Sam Po Tay Djin.

Sam Po Tay Djin tak lain dan tak bukan adalah Laksamana Cheng Ho. Meski tak banyak disebut tentang identitas kemuslimannya, namun arsip ini kemudian menceritakan bagaimana orang Hokkian yang tinggal di Semarang kemudian mengenang dirinya dan bahkan kemudian mendirikan kelenteng baginya, meskipun itu jelas-jelas tidak sinkron dengan kepercayaan yang dipeluk Cheng Ho.

2. Nasib Hoakiauw (Perantau Hokkian) dari zaman ke zaman

Siapa bilang nasib Hoakiauw itu enak? Catatan yang terdapat di Kongkoan mencatat tidak semua bisa menikmati hidup nyaman. Para perantau yang datang dari China daratan malah tidak punya apa-apa ketika mendarat di Jawa. Hidupnya tergantung pada “sanak-saudara” sekampung yang kemudian memberi modal sedikit hanya untuk bertahan hidup. Mereka sendiri yang harus berjuang agar bisa survive di negeri rantau.

VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda memberlakukan aturan yang luar biasa ketat bagi para hoakiauw ini. Mereka dikenakan wijkmeesterstelsel yakni aturan tempat tinggal yang mengharuskan mereka tinggal di daerah khusus yang kemudian disebut Pecinan. Juga mereka dikenakan passenstelsel yakni aturan yang mengharuskan mereka mengurus izin perjalanan bila ingin jualan ke daerah lain. Aturan-aturan yang demikian ketat itu sangat memberatkan para hoakiauw. Sebagai pelaksana dan pengawas aturan-aturan ini, VOC dan kemudian pemerintah kolonial Belanda memberi tugas kepada para Kapiten, Mayoor dan Lieutenant dari kalangan mereka sendiri. Kepangkatan ini bukan kepangkatan militer, tetapi kepangkatan administratif.

Salah satu pemberlakuan yang ketat dilakukan VOC pada periode 1740 di seluruh wilayah Hindia-Belanda. Di Batavia, pada November 1740 sebanyak 10.000 hoakiauw dieksekusi hingga mati untuk mengurangi jumlah penduduk di Batavia. Derasnya pendatang membuat VOC kewalahan mengatur makanan dan pekerjaan bagi seluruh penduduk di Batavia. Pembantaian itu kemudian berimbas pada para hoakiauw di kota lain, seperti yang tinggal di Semarang. Mereka lekas-lekas membangun gerbang keamanan di empat sudut pintu masuk ke Pecinan. Lalu semua laki-laki mendapat tugas jaga di gerbang keamanan ini secara bergantian.

Pendapatan para hoakiauw termasuk para pembesarnya lama-lama dipangkas oleh VOC/pemerintah Hindia-Belanda. Pajak garam dilarang. Pajak madat juga dihapus. Akhirnya ambruk juga pijakan ekonomi para hoakiauw ini.

Zaman malaise dan kelaparan hebat di Jawa pada awal abad XX juga berimbas pada para hoakiauw. Mereka yang memiliki gudang beras dan gula akhirnya dipaksa untuk menjual beras dan gulanya untuk mengatasi kelaparan.

3. Nasionalisme China dan Pendidikan Hoakiauw serta dampaknya bagi seluruh negeri

Meski jauh dari tanah air, tetapi ikatan cinta tanah air membuat para hoakiauw tidak merasa jauh dari negerinya. Apalagi selepas China menjadi republik, perhatian pada para perantau sangat besar hingga pemerintah China mengirim utusan untuk mengunjungi para perantau yang tinggal di Semarang dan kota-kota besar lain di negeri ini.

Mulailah sejak saat itu, para hoakiauw merasa perlu membekali bangsanya dengan pendidikan. Akhirnya didirikan Tiong Hoa Hwee Koan atau Rumah Perkumpulan Tionghoa, yakni sebuah organisasi yang didirikan tanggal 17 Maret 1900. Tujuan pendirian THHK ini adalah mengenalkan kembali para hoakiauw ini dengan identitasnya dan pendidikan, termasuk di dalamnya mendirikan perpustakaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan. Catatan sejarah kemudian mencatat THHK ini akhirnya ditutup oleh Soeharto pada tahun 1966/1967.

Juga pada kisaran waktu yang sama, para laki-laki Hoakiauw memotong kuncir rambutnya. Orang pertama yang meminta adalah Oet Tiong Ham dengan mengajukan surat rekest kepada Gouverneur Generaal supaya ia diperkenankan memotong kuncir dan memakai pakaian Eropa di tempat umum.

Oei Thiong Ham dijuluki sebagai Raja Gula dan merupakan konglomerat pertama di Asia. Ia mengajukan usulan itu karena merasa kuncir/tauwcang itu merupakan keharusan dari Dinasti Qing (Manchu) yang tidak perlu lagi diikuti. Tepatnya potongan rambut ini seperti ini: batok kepala dibagi 2, depan dan belakang. 1/2 bagian depan kepala dibotakkan sedangkan rambut di 1/2 bagian belakang kepala dibiarkan panjang dan dikuncir (diikat).

Surat itu diajukan bulan November 1889 dan segera diikuti oleh banyak laki-laki Hoakiauw dengan mengajukan surat serupa. Gelombang ini juga diikuti oleh para perempuan yang mengajukan permintaan berpakaian bebas, tidak lagi memakai kebaya encim.

Gerakan-gerakan emansipasi ini memiliki dampak juga bagi seluruh negeri. Kalangan pergerakan pribumi mengikuti langkah memasuki dunia pendidikan dan mulai memperjuangkan nasib mereka sendiri.

Sungguhpun data-data yang terdapat dalam buku ini sangat centang-perentang dan tidak tersusun secara rapi, namun sebagai pembaca gambaran-gambaran peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu hingga 1933 cuku
p memberi pemetaan bagaimana kehidupan para Hoakiauw di Semarang. Barangkali penamaan kronik jauh lebih tepat daripada riwayat, karena sesungguhnya tidak terlalu banyak riwayat kronologis yang dipaparkan di buku ini. Bahkan sebagai pembaca, sangat sulit membedakan mana yang bersumber pada arsip Kongkonan dan potongan berita dari koran/majalah yang dikutip Liem Thian Joe karena tidak ada cantuman keterangan yang memadai darinya, semisal dengan catatan kaki.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s