Bahasa, Mitos dan Seputar Kamus

The Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English Dictionary
Karya Simon Winchester

Terbit 2006 oleh Penerbit Serambi | Binding: Paperback | ISBN: 9791112533 | Halaman: 342

Original title:
The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary
Penerjemah: Bern Hidayat

PEPATAH lama berbunyi “Bahasa menunjukkan bangsa”. Apa artinya pepatah itu? Pertama ia bisa diartikan demikian. Tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka. Kalau tabiatnya penuh kasih, maka ia akan berbicara dengan penuh kelembutan. Terlepas benar tidaknya, tapi zaman sekarang tidak menentukan juga. Kedua, pepatah ini dapat diartikan demikian bahwa kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya. Ini pun bisa dengan mudah diperdebatkan sampai sejauhmana kebenarannya. Lalu ketiga, pepatah ini berarti bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut. Nah, sampai di sini, izinkan saya terhenyak sebentar.

Alif Danya Munsyi, atau dikenal dengan nama lain Remy Sylado, atau dengan nama aslinya Yapi Panda Abdiel Tambayong atau disingkat Yopie Tambayong, barangkali adalah seorang filolog yang sampai hari ini masih saya ikuti kiprahnya. Ia rajin menulis esai-esai tentang bahasa Indonesia, lalu kemudian ia kumpulkan dan diberi judul seperti pepatah lama tadi: Bahasa Menunjukkan Bangsa, terbit tahun 2005. Yang hendak ia sampaikan lewat bukunya adalah bahwa bahasa Indonesia juga menunjukkan pukau sebuah bangsa yang besar dengan kosa-kata yang kaya. Ia menyayangkan bahwa akhirnya bahasa Indonesia dikhianati oleh bangsanya sendiri yang tadinya sudah bersumpah untuk bukan saja berbangsa dan bertanah air satu, tetapi juga berbahasa satu, tetapi pada prakteknya kita ber-dwi bahasa. Bahasa Inggris menjadi begitu penting dibandingkan bahasa sendiri. Mampirlah ke sekolah-sekolah dasar sekarang yang begitu bangga memasang di plakat sekolahnya, SD …. Bilingual! Tunggu, tunggu, saya bukan seorang chauvinis yang hanya bangga akan bahasa sendiri! Tetapi saya akan lebih bangga kalau kita bisa menguasai lebih banyak bahasa, namun yang terutama bahasa Inggris. Yang begitu miris adalah dalam prakteknya, penggunaan bahasa Inggris di sini pun cukup mengundang rasa prihatin.

Mari saya contohkan. Baru-baru ini ada sebuah kampanye yang sedang dilancarkan oleh Pemprov DKI Jakarta. Demikian stiker besarnya di belakang bus (ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris):

“Busway. Take the Bus No It’s Way” Sejurus saja saat saya membaca ini, membuat saya gatal ingin berkata: “Ya sudah kalau tidak bisa bahasa Inggris, gunakanlah bahasa Indonesia!” Tetapi anjuran itu pun saya pikir masih keliru. Saat membaca versi bahasa Indonesia-nya, ternyata ada kekeliruan juga dalam menggunakan kata “busway”. Betul, yang benar adalah Bus Transjakarta, bukan “busway”. Tapi tengoklah rambu-rambu jalan, di sana marak ditulis “Hati-hati Busway”. Apakah ini kesengajaan atau kelalaian?


Rambu di atas adalah “palsu.” 🙂 Tetapi mengandung semangat ejekan pada gaya bertutur bahasa Inggris yang berlebihan seperti yang biasa dilafalkan oleh artis Cinta Laura.

Kembali lagi soal “busway”. Akankah “busway” ini akan dimasukkan dalam lema baru di Oxford English Dictionary (OED) Edisi Ketiga yang dijadwalkan akan selesai tahun 2037? Saya pikir tidak mungkin! Namun yang dapat dipastikan, per bulan Maret 2011, singkatan yang marak digunakan di internet seperti LOL, OMG, dan IMHO dipastikan masuk dalam bahasa Inggris yang baku. OED menjelaskan bahwa OMG (Oh My God), LOL (Laughing Out Loud) dan IMHO (In My Humble/Honest Opinion) marak digunakan dalam bahasa internet, tetapi dari segi sejarah singkatan kata ini sudah hadir jauh sebelum era Internet. Seperti misalnya OMG, OED menemukan bukti penggunaan singkatan kata ini dalam sebuah surat pribadi yang ditulis tahun 1917, dan FYI (For Your Information) ternyata berasal dari bahasa memo pada tahun 1941. Ketiganya sudah pasti masuk ke dalam OED Edisi Ketiga.

Pertanyaan berikutnya: apakah pepatah “bahasa menunjukkan bangsa” ini masih kontekstual? Jawaban saya, justru sekarang ini adalah waktu sangat tepat untuk memperbincangkan bahasa dan bangsa ini. Delapan puluh tiga tahun (1928-2011) kita terikat oleh “sumpah” para pemuda di Kongres Pemuda II untuk berbahasa Indonesia. Tentulah menarik untuk menilai selama kurun 80-an tahun ini, sejauh mana perkembangan bahasa ini? Dan sejauh mana, bangsa ini menghargai bahasanya sendiri?

Saya pikir salah satu ukuran yang menarik adalah melihat perkembangan kamus kita. Sewaktu saya masih di sekolah menengah dulu, teramat sering dicantumkan definisi tentang segala sesuatu yang dikutip dari Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI), 1988. Hampir di semua paper Sidang Akademi selalu diawali dengan kutipan definisi ini. Pada waktu itu, fisik KUBI memuat 62.100 lema. Itupun sudah tampak luar biasa, karena sangat membantu tugas-tugas yang diberikan guru bahasa Indonesia untuk mencari definisi kata yang sering tercantum di surat kabar. Dalam perkembangannya, pada tahun 1991, terbit Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi kedua dengan penambahan 5.900 lema sehingga total lema pada edisi kedua menjadi 68.000. Perhatikan beda penamaannya dari “umum” menjadi “besar”. Kedua kamus inilah yang sering saya gunakan semasa sekolah menengah.

Edisi ketiga punya kenangan lebih dalam. Waktu saya sakit, karena semua buku sudah saya baca, yang tertinggal hanya tinggal KBBI 2001. Maka jadilah lema sebanyak 78.000 itu dibaca sebagai pengisi waktu. Waktu itu saya amat terpukau pada penjelasan KBBI tentang “perang”. Silakan buka taut ini untuk mencari tahu: http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/

Secara luar biasa, tentang “perang” ditulis demikian panjang dengan penjelasan 33 cara pemakaian, mulai dari kata “perang asabat” hingga “perang urat syaraf” yang sama-sama berarti perang saraf. Darimana mereka mendapatkannya? Saya tidak dapat menerka bagaimana Pusat Bahasa bekerja mencarinya, tetapi saya merasa salut dan bangga.

Ketika tujuh tahun kemudian, tepatnya tahun 2008, terbit edisi KBBI keempat. Saya ingat berkali-kali saya ingin memiliki KBBI yang berisi 90.000 lema ini, tetapi selalu urung hingga hari ini. Mengapa bagi saya penting memiliki KBBI ini, karena kamus ini adalah “acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku”. Bahkan mungkin yang terlengkap dan yang paling akurat yang pernah diterbitkan. Begitu pikir saya. Sebagaimana juga tercatat pada penjelasan Pusat Bahasa tentang kamus ini.

Tapi kebanggaan ini langsung luluh berantakan saat saya membaca buku ini. Buku ini berkisah tentang upaya meneliti mitos terbesar sastra modern Inggris, tepatnya mitos seputar penyusunan OED untuk menjawab pertanyaan utama: benarkah James Murray, editor utama OED, baru bertemu William Chester Minor, kontributor paling aktif dalam OED, setelah 20 tahun korespondensi dan baru pada saat itu sang profesor disadarkan bahwa kontributornya itu adalah seorang
pasien Rumah Sakit Jiwa? Simon Winchester mengajukan argumen bahwa semua itu tidak benar.

Sebagai bungkusnya, Simon Winchester menceritakannya dengan detil bak detektif, mencari latar belakang siapa tokoh-tokoh tersebut dan menemukan fakta bahwa William Chester Minor adalah dokter tentara yang kemudian menjadi skizofrenia gara-gara perang dan dalam paranoia yang berlebihan ia menembak George Merret. Dan James Murray sebetulnya tidak pernah mengenyam bangku kuliah dan mengajarkan bahasa Latin pada sapi-sapi semasa mudanya.


James Murray duduk tersenyum dengan toga di Scriptorium. Di belakangnya tampak bundelan kertas yang tadinya disusun dalam kotak-kotak penyimpanan (di buku ini dengan alasan yang tak jelas diterjemahkan menjadi “sarang tawon”) dan sejumlah editor yang bekerja di bawah arahan James Murray. Kursi James Murray masih tampak lebih tinggi dibandingkan editor lain, untuk menunjukkan otoritasnya.

Bungkus lain yang juga diceritakan secara luar biasa adalah kisah penciptaan kamus besar (yang ini saya setuju disebut besar) Oxford English Dictionary. Mengapa saya setuju disebut “besar” karena paling tidak kalau OED ini dikerjakan oleh satu orang akan dibutuhkan waktu 120 tahun untuk memasukkan istilah-istilah ini hingga terkumpul 59 juta kata (OED Edisi Kedua), 60 tahun untuk memeriksa kata demi kata (proofedit) dan kapasitas 540 megabyte untuk menyimpannya.

Harus saya akui, ini hal yang sangat luar biasa bagi saya. Saya besar dengan membaca kamus Grolier International Dictionary, Merriam-Webster Dictionary, yang beratnya sudah berkali-kali membuat repot, tetapi saya sama sekali belum pernah melihat OED. Membayangkan kemasifannya yang tercantum dalam buku ini membuat saya menganga. Ini sungguh sebuah monumen kejayaan bahasa Inggris. Sepadan dengan kebesaran bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. Proyek kaum chauvinis yang boleh digadang-gadang sepanjang masa.

Simak prakata yang ditulis secara jelas ini:
The aim of this Dictionary is to present in alphabetical series the words that have formed the English vocabulary from the time of the earliest records [ca. AD740] down to the present day, with all the relevant facts concerning their form, sense-history, pronunciation, and etymology. It embraces not only the standard language of literature and conversation, whether current at the moment, or obsolete, or archaic, but also the main technical vocabulary, and a large measure of dialectal usage and slang.

Lalu dilanjutkan:
Hence we exclude all words that had become obsolete by 1150 [the end of the Old English era] … Dialectal words and forms which occur since 1500 are not admitted, except when they continue the history of the word or sense once in general use, illustrate the history of a word, or have themselves a certain literary currency.

Kajian historis pada kata, bahkan sampai menyasar pada istilah, itu adalah hal-hal yang tidak terdapat pada KBBI kita. Tapi tentu saja, ini adalah sebuah upaya bodoh untuk memperbandingkan langsung KBBI dan OED. Tentu orang dengan mudah berkata, jelas saja karena umur bahasa Indonesia lebih muda, lebih banyak serapan, tidak jelas mana yang benar-benar asli (ini aneh mengingat sejarah bahasa kita adalah sejarah bahasa politik), bahkan si Alif Danya Munsyi sendiri (‘munsyi’ di sini berarti ahli bahasa) berujar sinis bahwa 9 dari 10 kata Indonesia adalah asing. Tetapi tidak ada upaya seserius macam The Philological Society yang digawangi James Murray untuk merekrut filolog-filolog yang ada untuk masuk ke dalam Pusat Bahasa.

Inilah sebab-sebab yang menurut saya menyebabkan saya menjadi sedikit sedih saat membaca lagi pepatah “bahasa menunjukkan bangsa”. Barangkali kita sebagai bangsa kurang berusaha untuk menghargai bahasa sendiri, sedikit chauvinis juga tak mengapa, asalkan kita betul-betul serius mengembangkan bahasa sendiri, daripada berusaha menggunakan dwibahasa tetapi malah amburadul seperti kasus “busway” tadi.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s