Menempatkan Krakatau dalam Konteks Global

Krakatau: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883
Karya Simon Winchester

krakatauketikaduniameledak27agustus1883_9425Terbit April 2006 oleh Penerbit Serambi | Binding: Paperback | ISBN: 979160097x | Halaman: 509

Original title: Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883
Penerjemah: Bern Hidayat

KRAKATAU — sebuah nama yang selama ratusan tahun telah tertanam di kesadaran kolektif seluruh dunia, bagian dari leksikon dunia. Akrab tetapi sekaligus samar-samar. Itu yang menjadikannya eksotik. Bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini, Krakatau bagai sebuah artefak. Sama halnya seperti Tambora. Kita hanya mengenalinya dari daftar 10 Letusan Gunung Terdahsyat di Dunia. Sebelumnya tidak ada sebuah kekhususan untuk mengenangnya, kecuali bila negeri ini dilanda kembali bencana. Seperti letusan Merapi 1 November 2010 lalu. Atau semakin gawatnya status sejumlah gunung belakangan ini sampai-sampai pemerintah pada 7 Maret 2011 lalu memutuskan untuk mencermati aktivitas tiga gunung berapi yakni Gunung Tambora, Anak Krakatau, dan Pusuk Buhit di Toba untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi mengingat ketiga gunung itu masih berstatus aktif. Di luar itu, siapa yang ingat kejadian pada hari Senin, 27 Agustus 1883 jam 10.02 pagi? Bahwa setelah 20 jam 56 menit kejang-kejang, Krakatau meletus.

“Kami dengan jelas mendengar, gelegar sebuah gempa bumi di kejauhan,” demikian salah satu saksi mata berkata. Bukan hanya mereka yang hidup di dekat gunung itu yang mendengar, tetapi suara itu terdengar hingga 2.986 mil jauhnya. Berapakah jauhnya 2.986 mil itu ngomong-ngomong?

Seorang penulis sains populer Eugene Murray Aaaron menjelaskan mengapa angka 2.986 mil itu seharusnya membuat mereka semua tercengang:

Andaikata ada orang yang bertemu dnegan seorang penduduk Philadelphia dan mengatakan bahwa ia mendengar sebuah ledakan di Trento, New Jersey, yang 30 mil jauhnya dari sana, ia mungkin dipercaya, sekalipun ada sedikit keraguan mengenai daya imajinasinya. Tetapi andaikata ia menyampaikan pernyataan yang sama tentang ledakan tadi di Wheeling, West Virginia, yang 300 mil jauhnya, semua keraguan mengenai akurasinya akan lenyap. Tetapi andaikata ia dengan penuh semangat menegaskan mendengar sebuah ledakan di San Fransisco, 3.000 mil jauhnya dari sana, ia akan disambut dengan senyuman belas kasihan, dan pendengarnya akan diam-diam menjauh. (hal. 328)

Namun buku ini ditulis bukan atas nama mengenang letusan ini saja dengan segala pukaunya. Lewat buku ini, Simon Winchester berhasil menempatkan letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 dalam konteks global. Selepas membaca buku ini, pembaca akan mendapat kesan bahwa letusan Krakatau bukan sekedar muntahan material dari badan gunung itu, bukan pula sebuah peristiwa alam yang dikategorikan bencana karena membunuh 36.000 pribumi dan 37 ekspatriat lewat gempa dan tsunami setinggi 40 meter, tetapi saling terkait dengan banyak hal di dunia ini: pergeseran lempeng tektonik, lesatan komunikasi informasi dari telegraf, pergolakan Islam, dan lainnya. Sebuah konteks global yang merefleksikan eratnya alam dan manusia, serta sebuah pembuktian ilmiah bahwa ketidakseimbangan yang terjadi pada alam akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung pada manusia. Inilah yang membuat buku ini saya pikir penting untuk dibaca. Bukan saja dalam konteks perencanaan mitigasi bencana, tetapi dalam konteks yang lebih besar yakni mempersiapkan perubahan-perubahan sosial yang akan terjadi karena Indonesia berada di jalur “cincin api” (ring of fire) Pasifik.

Ambil contoh terhadap tsunami Aceh dan letusan gunung Merapi yang terjadi kemarin. Perubahan-perubahan sosial sekarang berangsur-angsur terjadi di kedua daerah itu, terutama karena gempa di banyak tempat itu pada akhirnya mengakibatkan “gempa-gempa” lain dalam konteks sosial-politik misalnya yang dicerminkan lewat menurunnya tingkat kepercayaan pemerintah (dalam menangani bencana khususnya, tetapi kemudian meluas), juga terjadi pada konteks moralitas yang terkait dengan semakin maraknya aksi filantropi, keimanan, dan lainnya.

Kembali lagi ke Krakatau. Bahwa selepas meletusnya, Royal Society di Inggris menugaskan sebuah komite keilmuan bernama Komite Krakatoa untuk menyelidiki dampak-dampak yang ditimbulkan oleh letusan Krakatau. Komite ini dengan teliti mengumpulkan catatan-catatan tsunami yang tersebar ke seluruh dunia, seperti yang tercatat di bandar Panama di Ceylon (Srilanka). Di tahun yang sama, terbit laporan paling komprehensif tentang letusan Krakatau yang hingga hari ini dijadikan sumber referensi utama.

Harus disadari bahwa buku ini terbit tahun 2003 dan merupakan bagian dari 1.083 buku yang pernah ditulis mengenai Krakatau. Namun secara mengesankan buku ini tetap bisa menampilkan pembahasan berbeda, yang lebih menarik dan faktual. Ini tentu saja dikarenakan kekuatan penulisnya. Maka rasa salut yang luar biasa saya tujukan kepada penulisnya, yang demikian tekun mencermati dokumen-dokumen yang tersebar luas dan menarik tali-temali hubungan satu sama lain dalam jalinan cerita yang asyik untuk dibaca.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s