Pendar kehangatan dalam 9 Summers 10 Autumns

9 Summers 10 Autumns
karya Iwan Setyawan

Terbit 20 Februari 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9789792267662 | Halaman: 238

ALMOST summer in Bangkok, tapi udara begitu dingin. Hati saya pun bertambah dingin dan bergidik takut memandang bencana kemanusiaan yang terjadi di Jepang. Bukan hanya gempa 8.9 Magnitude, tetapi juga karena tsunaminya yang begitu parah. Menyeret-nyeret segala hal, menggulungnya ke dalam lautan, dan menyisakan porak-poranda dan kematian. Belum lagi krisis nuklir dari reaktor Fukushima Daiichi yang semakin menyelimuti saya dengan ketakutan. Bayangan kematian, akhir dunia, membentang begitu luas, menyatupadu dengan hembusan angin menusuk di kota Bangkok. Ini memang almost summer, tapi yang ada hanya rasa dingin.

Di pelukan saya ada novel biografis 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan — anak sopir angkot dari Batu, Malang yang meraup sukses hingga menjadi direktur di New York– yang dalam diamnya menemani perjalanan saya. Ada kehangatan di sana, yang memancar dari kisah persaudaraan masa kanak-kanak yang begitu dekat, intim, dan saling mendukung meski dalam kesusahan. Susah senang ditanggung bersama, itu yang menjadikan anak-anak supir angkot yang hidup di kaki Gunung Panderman itu bertahan dalam ketidakpunyaan, bahkan impian pun terasa begitu mewah.

Dalam novel ini saya menemui puisi Chairil Anwar berpadu dengan puisi Paul Verlaine, roman Fyodor Dostoevsky, pementasan opera, untuk melukiskan suasana psikologis tokoh aku yang “bergulat” dengan sosok anak kecil berseragam merah putih yang tak lain adalah dirinya sendiri. Pergulatannya bukan dalam bentuk fisik, melainkan sebuah swawawancara yang dalam ilmu psikologi disebut self-reflection. Who do you see when you look in the mirror? Who are you looking for? Apa yang terlihat saat memandang di cermin? Siapa yang dicari?

Dalam novel ini, tampak jelas bahwa yang sedang dipandang penulis adalah sosok dirinya sendiri ketika kecil, yang memandang impian itu begitu mewah, yang meradang atas ketidakpunyaan yang mendera keluarganya yang ia sampaikan dalam lontaran aku kapok dadi kere, yang masih polos. Ia memandang masa lalunya, mengunjunginya kembali dalam 35 bab di dalam novelnya, dimana ia menuliskan secara jelas di awal bab 6 bahwa “Menulis kembali kenangan masa lalu butuh sebuah keberanian.”

Memang butuh keberanian untuk mengunjungi masa lalu kita, berekonsiliasi dengan apa yang telah terjadi, membuka pintu maaf dan memutuskan untuk terus berjalan dalam kedamaian. Untuk semua upaya itu, menurut saya novel ini berhasil menjalankan tugasnya.

Namun novel ini juga mengemban tugasnya yang lain, yang memotivasi orang lain untuk terus berusaha dan percaya pada kemampuan. Bahwa semesta tidak diam begitu saja, ia bekerja dengan misterius, membukakan pintu-pintu penjelajahan dan mengalirkan setiap insan ke dalam samudera kehidupan. Bahwa kita, harus menyiapkan perahu untuk bisa mengarunginya agar selamat sampai di tujuan. Tugas inipun saya pikir telah berhasil dijalankan oleh novel ini.

Almost summer in Bangkok dan matahari seperti enggan membagikan semburat panasnya pada kami. Saya pun berpikir bahwa novel ini akan tambah menarik bila dinilai dalam struktur opening-middle-ending. Ia menyajikan opening yang cepat, cerdas dan memikat. Saya seolah ikut sesak dan tercekat saat menghadapi peristiwa perampokan, dan jatuh penasaran untuk tahu bagaimana kelanjutannya. Namun dalam bagian middle hingga ending, gaya yang cepat dan repetitif ini tidak mampu menjaga rasa penasaran karena saya tidak merasakan adanya kedinamisan dalam plot. Tidak ada klimaks, kalaupun klimaks yang disajikan adalah keputusan pulang si penulis, tetapi tidak tersaji sebagai klimaks –seolah keputusan pulang itu hanyalah sebuah keputusan psikologis yang hanya boleh diketahui oleh penulis–. Apa yang membuatmu ingin pulang? Kejenuhan kah? Kekosongan dan kehampaan kah? Dingin yang menggigit di sana kah? Saya tak sampai hati untuk menerka-nerka.

Udara masih dingin saat saya meninggalkan Bangkok. Tapi saya tetap ingat bahwa dalam perjalanan di sana, ada pendar kehangatan yang membuat saya tetap bertahan: membaca novel biografis ini. Selamat atas terbitnya novel pertamamu ini…

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s