Menjelajahi Negeri Debu

Selimut Debu
karya Agustinus Wibowo

selimutdebuTerbit Januari 2010 oleh PT Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback |

ISBN13: 9789792252859 | Halaman: 468

SEORANG Maggie Tiojakin dalam pengantar buku ini menulis bahwa Agustinus Wibowo bukanlah sekedar traveler, tetapi ia pantas dijuluki explorer. Saya merasa harus sepenuhnya mengamini pendapat Maggie ini. Sederet nama-nama besar para penjelajah seperti Ptolomeus, Marco Polo, Ferdinand Magellan, Columbus, dan banyak nama lain telah kita kenal saat mereka menjelajahi setiap jengkal daerah-daerah yang tak pernah terdengar namanya, kemudian menuliskannya dalam sebuah laporan perjalanan yang dikisahkan dengan begitu menggugah selera, sehingga orang yang membacanya seolah ikut berada dan mengembara bersama sang penjelajah. Masing-masing pergi dengan misi sendiri-sendiri, di samping rasa ingin tahu. Begitu pula Agustinus Wibowo dengan perjalanannya ke Afghanistan berhasil menyuguhkan bukan hanya kisah indah atau sedih, tetapi juga dimensi yang seutuhnya atas Afghanistan yang barangkali kita kenal hanya dari siaran berita televisi. Bukan sekedar satu dimensi seperti yang saya kenal.

Buku ini menemani perjalanan saya ke Bali, Singapura dan Bangkok. Dan di setiap perjalanan itu, mulut saya seolah ikut menelan debu perjalanan yang selalu diceritakan Agustinus Wibowo. Khaak yang menyelimuti penjelajahannya ke setiap sudut Afghanistan, mulai dari titik paling aman hingga paling berbahaya seperti di Kandahar, dimana ledakan bom dianggap kejadian yang lumrah. Mulai dari menengok tempat pembuatan pot yang indah hingga ‘bengkel’ senjata ilegal di Darra Adam Khel. Menyusuri lokasi dimana hanya ada salju dan bukit-bukit pegunungan di Wakhan.

Namun bagi saya, keindahan buku ini ada pada penjelajahan yang sebenarnya pada manusia-manusia yang hidup di Afghanistan. Pengenalan yang diawali hanya dari sekedar buku travelling klasik tentang Afghanistan yang ditulis Nancy Dupree tentang sifat baik di balik tampang keras para penduduknya, kemudian berkembang menjadi pemahaman yang utuh atas masing-masing suku yang hidup di Afghanistan, lengkap dengan “pertarungan” gagasan tentang burqa dan kemerdekaan perempuan, Syiah-Sunni-Ismail, derita negara Islam di bawah rezim Taliban dan romantisme kejayaan komunis semasa Uni Soviet masih negara adikuasa. Bahkan yang paling mengagetkan tentang adat istiadat kaum Pashtun untuk memelihara “baachi” alias bocah rupawan. Semua dituliskan tanpa pretensi yang berlebihan.

Semua hal ini disampaikan secara terang-benderang di hadapan saya sebagai upaya penulis untuk memberi gambaran seutuhnya dan sebenarnya, apa yang sedang terjadi di Afghanistan hari ini. Bahwa setelah 3.000 tahun, ada yang berubah, tetapi ada hal-hal yang tetap tidak berubah di Afghanistan. Afghanistan yang di zaman yang demikian modern ini masih belum seluruhnya mengenal listrik, bahkan baca tulis menjadi terpinggirkan oleh karena kemiskinan. Kaum perempuan yang semakin terdomestifikasi, dan semakin digilas oleh hukum Taliban yang melarang mereka berpendidikan dan keluar dari rumah tanpa burqa. Narasi deskriptif yang dituliskan oleh Agustinus Wibowo merekam jejak seluruh apa yang terjadi di Afghanistan dalam 4 tahun penjelajahannya di sana. Rekam jejak yang demikian menggugah dan mengejutkan. Bukan saja bagi penulisnya, tetapi juga bagi para pembacanya yang menjadi ikut resah saat mobil Falang Coach yang ditumpanginya terperosok di sungai, takut saat ia hendak di’kerjai’ oleh laki-laki Pashtun, ngeri saat bom meledak di pasar ketika Agustinus asyik ngobrol dengan Lam Li, kawan sejawat penjelajahannya.

Dalam surat pribadi saya ke penulis, saya menanyakan apa sesungguhnya yang sedang ia cari dalam penjelajahannya. Saya ingin tahu apa misi yang diembannya. Karena sungguh di mata saya, penulis ini sepertinya tidak akan pernah berhenti untuk menjelajah. Mungkin baginya ini adalah sebuah peziarahan panjang, sebuah meditasi batin yang ditemukannnya ketika menyusuri perjalanan demikian panjang dari satu tempat ke tempat lain hingga beratus-ratus kilometer. Malahan bisa saya sebutkan bahwa ia telah mengabdikan dirinya untuk selalu berada di perjalanan dan tak akan pernah sampai… setidaknya sekarang ini sampai nantinya semua pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya akan terjawab seiring dengan waktu.

Monda naboshi, Bung! Tasakhor telah berbagi pengalamanmu di negeri yang terselimuti debu.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s