Kesaksian Atas Sumatera

Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marcopolo sampai Tan Malaka
Karya Anthony Reid (ed).

Terbit Desember 2010 oleh Komunitas Bambu | ISBN: 979373194X (ISBN13: 9789793731940) | Binding: Paperback | Halaman: 448

PADA dasarnya buku ini merupakan kumpulan kesaksian. Kesaksian dari mereka yang pernah hidup dan hadir pada sebuah peristiwa lalu menceritakan lewat pandangan subjektif mereka sendiri tentang Gould island, Taprobana, Swarnadwipa, pulau emas, pulau Jawa (Minor/kecil). Penamaan yang jauh lebih mitologis dari namanya yang sekarang, Sumatera, yang diambil dari nama kerajaaan besar di Nusantara yang jaya hingga ke manca negara: Samudera (Pasai) atau ditulis Samatraz dan lain sebagainya.

Para pemberi kesaksian bukanlah sekedar orang-orang sekedar numpang lewat, tetapi adalah penjelajah-penjelajah yang amat terkenal, mulai dari Sulayman, Marco Polo, Ibn Batutta yang diakrabi dengan julukan “Penjelajah Islam” hingga tokoh-tokoh terkemuka dengan telaah yang selalu membuat mereka kagum pada apa yang tersaji di Sumatera: Thomas Stamford Raffles, Laszlo Szekeley, dua pribumi yang menulis demikian detil Tan Malaka dan Muhammad Radjab. Sebaran kesaksian pun merangkum peristiwa dari abad ke-8 hingga tahun-tahun ketika Sumatera dipenuhi dengan gejolak pemberontakan terhadap pemerintahan di Jawa.

Inilah Sumatera! Orang Medan akan berkata dengan gagah: Ini Medan, bung! Para pemuda di Deli akan berkoar-koar bahwa mereka tak takut mati dan siap bertarung sampai mati. Pengkarakteran manusia yang hidup di Sumatera digambarkan begitu bangga dan tak kenal takut dibandingkan dengan manusia-manusia yang hidup di Jawa. Bahkan kolonial pun bergidik bila harus bertarung menundukkan orang-orang Sumatera. Tak ingatkah kita pada peperangan paling panjang dan paling membuat Belanda tekor saat harus menaklukkan Aceh?

Setelah membaca kesaksian-kesaksian yang ada di dalam buku ini, menurutku ada banyak yang berubah dari Sumatera, tapi ada juga yang tak ada yang berubah. Bahwa tak benar lagi bila dikatakan orang-orang Sumatera kurang pendidikannya dibanding orang Jawa. Justru dari Sumatera banyak lahir pemikir-pemikir Indonesia modern yang selalu dikenang dengan penuh hormat: Mohammad Hatta, Tan Malaka, Sutan Syahrir, dll. Tetapi ada yang tak berubah, semisal primordialisme yang seperti tak lekang oleh waktu. Barangkali feodalisme telah digerus oleh gerakan kaum republik di awal-awal kemerdekaan, tetapi kesukuan orang-orang Sumatera masihlah kental hingga hari ini. Itu hal yang tak bisa kita pungkiri keberadaannya.

Di tengah Indonesia yang galau dan bimbang akan masa depannya, banyak upaya untuk menemukan kekayaan kebudayaan dan sejarah lokal yang dituangkan dalam semangat mengembalikan kebesaran Sumatera, seperti mengembalikan nama Bencoolen atas Bengkulu. Atau bentuk-bentuk lain yang memperlihatkan betapa Sumatera tidak bisa dipandang sebelah mata oleh masyarakat yang tinggal di Jawa misalnya.

Perhatian besar sejarawan dunia juga masih berupaya mengungkap misteri di balik Sumatera, semisal penelitian di situs Lobu Tua untuk mengupas keberadaan masyarakat negara awal di Barus. Atau banyaknya penemuan-penemuan situs megalitikum yang tersebar di Lahat dan banyak lainnya yang menimbulkan asumsi bahwa sebetulnya Sumatera pernah didiami oleh suku bangsa yang jauh lebih tua, barangkali dari Proto-Melayu yang lebih hebat dan dikait-kaitkan dengan kesaksian Ptolomeus akan negeri yang maju budayanya yang kemudian hilang masuk ke dalam lautan. Tak terhitung yang mencoba mengkaitkannya dengan Taprobana dimana terdapat Gunung Ophir yang terkenal dan unicorn yang hidup. O Sumatera yang penuh misteri, masih banyak yang kita belum tahu tentang pulau ini.

Yang kurang dari buku ini adalah catatan kaki untuk setiap kesaksian, yang dapat digunakan untuk membaca keterangan yang lebih dalam lagi daripada sekedar preambule di muka setiap kesaksian, yang bisa disediakan oleh Anthony Reid, sejarawan yang berkutat mengumpulkan kesaksian untuk memberi gambaran bagaimana Sumatera tempo dulu.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s