Versus Djenar Maesa Ayu

1 Perempuan 14 Laki-Laki
Karya Djenar Maesa Ayu dkk.

Terbit 11 Januari 2011 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN13:

9789792266085 | Halaman: 110

Berisi kolaborasi cerpen Djenar Maesa Ayu versus Agus Noor • Arya Yudistira Syuman • Butet Kartaredjasa • Enrico Soekarno • Indra Herlambang • JRX • Lukman Sardi • Mudji Sutrisno, SJ• Nugroho Suksmanto • Richard Oh • Robertus Robet • Sardono W. Kusumo • Sujiwo Tejo • Totot Indrarto


SETELAH tak hadir di launching yang juga bertepatan dengan ultah Djenar pada 14 Januari lalu, coffewar yang dikelola Yogi di bilangan Kemang menggelar diskusi buku tanggal 27 Januari bersama Djenar dan sejumlah penulis yang ikutan keroyokan menulis buku ini 1 Perempuan 14 Laki-laki ini. Riuh sekali beritanya di twitter, sebelum acara dimulai. Saya akhirnya tergoda juga untuk datang, paling tidak ingin tahu seperti apa keriuhannya. Tapi apa daya, pekerjaan mengharuskan saya tetap tinggal di kantor sampai semua usai. Karena nggak bisa datang minta tanda tangan, saya berpikir untuk membuat penilaian atas buku ini saja setelah tuntas membacanya. Oh ya, di Gramedia Plaza Semanggi tempat saya membeli buku ini, buku ini laris manis, sampai hampir sulit mendapatnya. Tinggal satu itupun hanya buku display. Tapi akhirnya, ngobrol-ngobrol dan nemu buku ini di lantai 3A di tempat Gramedia menjual buku-buku obral seharga Rp 10.000-an. Tapi tentu saja buku ini tidak ikut diobral.

Pertama-tama, ini penilaian jujur saya sebagai pembaca, bukan siapa-siapa, bukan pula teman dari Djenar karena memang Djenar tidak kenal saya. Bukan pula sebagai laki-laki yang karena melihat penampilan fisik Djenar kemudian memberi ponten 100 begitu saja. Saya membaca 1 Perempuan 14 Laki-laki ini dengan kepolosan seorang pembaca tanpa berupaya mempedulikan apa yang terdengar tentang Djenar maupun karya-karyanya. Susah, tapi saya upayakan demikian.

Menurut saya, buku ini merupakan sebuah “comeback”. Istilah “comeback” datang dari saya sendiri. Djenar menggunakan istilah kerinduan “… setelah 4 tahun tidak menulis prosa fiksi.” Setelah hijrah menjadi sutradara untuk dua filmnya, Djenar akhirnya kembali menulis fiksi. Apa arti sebuah “comeback”? Kalau menurut saya, peristiwa “comeback” biasanya jadi peristiwa penting yang menunjukkan bahwa orang yang melakukannya kembali lagi menekuni dunia yang membesarkannya dan mencoba meraup sorotan publik atas segala aksinya. Lazim peristiwa “comeback” terjadi di dunia olahraga, musik, atau seni. Banyak alasan mengapa melakukan “comeback”. Rindu. Ingin eksis lagi. Sensasi. Manapun itu, kerangkanya cocok dengan upaya Djenar menulis cerpen lagi. Jadi ini bukan semata kerinduan belaka, tetapi ada yang lebih besar daripada “setelah 4 tahun tidak menulis prosa fiksi.”

Saya pikir tidak mungkin seorang penulis lupa caranya menulis. Seperti seorang naik sepeda, akan selamanya ingat bagaimana naik sepeda. Dengan analogi itu, Djenar tentu saja masih bisa menulis cerpen tanpa perlu orang lain. Masih punya idealisme. Masih menyimpan kata-kata yang mengundang decak pembaca. Tujuan Djenar mengajak teman-temannya untuk menulis bersama, dimulai dari Agus Noor, dan terlibat dalam proses kreatif menulis tanpa konsep yang ia namakan “memburu orgasme pikiran” bukanlah sebuah pertanda ia sedang tidak bisa menulis, malah saya cenderung setuju dengan istilah Agus Noor bahwa Djenar justru sedang menggelar “pertandingan tinju” melawan 14 lawan menulis yang ia pilih sendiri. Djenar menjadi promotor bagi dirinya sendiri, sekaligus manajer, sekaligus menjadi petinjunya. Dan karena ini pertandingan tinju (yang dilakukan secara spontan dan tanpa persiapan bila merujuk pada tidak adanya konsep), tentu sangat menarik untuk bisa mengikuti prosesnya ketimbang menonton hasilnya. Proses pertandingan yang biasanya 1 hari atau paling lama 2 hari itu, kalau bisa ditayang ulang, pasti akan membuat saya akan berpikir darimana datangnya sepenggal kalimat luar biasa itu. Kalimat siapakah itu? Apakah dari Djenar atau dari lawan mainnya? Tapi tentu saja, pembaca tidak bisa melihatnya karena yang disodori hanyalah hasil akhirnya. Ini sedikit membuat saya kecewa sebetulnya dan mendorong saya untuk melihat siapa yang telah “kena tonjok”.

Selama membaca 14 cerpen ini dan mencernanya, saya berulang kali berpikir, mengapa Djenar harus “melawan” laki-laki? Saat Djenar memilih sparring partnernya, apakah penting bila ia lelaki atau bukan? Memangnya kenapa kalau perempuan? Bukankah teman Djenar juga banyak perempuan (Mungkin. Saya tidak tahu pasti.)? Mungkin juga itu pertanyaan berlebihan yang diajukan oleh pembaca seperti saya. Ah, mana tahulah.

Ini laporan hasil “pertandingan tinju” vs. Agus Noor. *Teng* Dalam “Kunang-Kunang Dalam Bir”, Djenar membuka dengan kalimat “Di kafe itu, ia mereguk kenangan”. Seketika saya tahu ini tentang cerita orang yang meratapi masa lalu. Agus Noor membalas, “Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang akan direguknya.” Ia yang diceritakan adalah seorang laki-laki yang ditinggal kekasihnya untuk menikah dengan orang lain dan meninggalkan rasa sesal tak terkira. Orang bilang, penyesalan tiada guna. Ditutup dengan ending yang tertebak juga sih dari awal. Rasanya keduanya sama-sama loyo, mungkin terlalu asyik balas membalas sampai tidak bisa memberikan closing yang asyik.

Pertandingan berikutnya. Vs. Enrico Soekarno dalam “Cat Hitam Berjari Enam”. Kalimat pertama entah datang dari siapa, mungkin Djenar, “Di kepalanya ada setan.” Saya pikir tadinya ini akan jadi cerita horor. Tapi sebenarnya ini cerita tentang kisah duka tentang Ahmadiyah, bila saya tak salah. Pelintiran plot yang asyik, tak bisa saya duga. Sayang stamina keduanya loyo. Ceritanya lekas usai, ibarat terhenti di babak ketiga, karena dua-duanya lemas, sama-sama sering melakukan “klins” dan ditutup dengan amat terburu-buru dan putus asa. Ugh…

Wah, pertandingan berikutnya menarik. Vs. Indra Herlambang. Orang yang bersama-sama dengan Djenar meraih predikat sebagai penulis skenario terbaik tahun 2009. Pasti seru, pikir saya. Dan saya tak salah, dialog-dialognya rapat dan hidup. Persis dialog di film. Pengadeganan pun asyik. Baik opening sampai closing. Kolaborasi yang apik. Tapi… tapi… ini cerita tentang siapa ya? Oh, orang gila!

Nah, gimana kalau lawannya Vs. Richard Oh. Saya cuma bisa bilang begini… Oh Djenar Oh. Klop. Seperti pertandingan dari satu padepokan, karenanya saling menguatkan menyodorkan kisah Anthony dengan setting internasional.

Selebihnya saya punya catatan menarik tentang pertandingan yang saya tunggu-tunggu. Djenar Vs. Romo Mudji. Romo ini terkenal njelimet kalau menjelaskan sesuatu. Ada yang menarik di “pertandingan” itu, saya menduga inilah untuk pertama kalinya saya tidak melihat utuh jejak tulisan Djenar. Djenar hilang dan cukup digantikan oleh judul bukunya yang ditulis 3 sampai 4 kali dan nama Nayla. Tersublim. Closingnya pun sama njelimet meskipun menggelitik “Di surga, Romo Mangun sedang menulis cerita pendek.” Tidak cocok sebagai kalimat closing, tapi lebih cocok jadi kalimat pertama, tapi asyik. Dugaan saya saja kalau ini ditulis
Djenar. Mungkin tidak tepat, tetapi karena tidak bisa bertanya ya itu anggap saja asumsi.

Skor akhir buku ini? Karena saya tidak bisa menyaksikan pertandingan lengkap, saya hanya bisa memberi rating 2 dari 5 bintang. Itu artinya, buku ini oke. Tidak jelek, tapi juga tidak terlalu menarik. Oke saja. Kalau mau lebih oke, saya minta diundang ke pertandingan berikutnya. Biar bisa menonton siaran langsungnya.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s