Pandangan Klasik Terhadap Perempuan

Warna Tanah (Buku 1 Seri Warna)
Karya Kim Dong Hwa

Terbit Juli 2010 oleh PT Gramedia Pustaka Utama | ISBN13: 9789792259278 | Binding: Paperback | Halaman: 320

SEBAGAI sesama laki-laki, pertama-tama biarkan aku mendakwa pak Kim Dong Hwa sebagai lelaki yang punya pandangan ‘klasik’ tentang perempuan. Pandangan klasiknya ini direpresentasikan dirinya dalam cerita Ehwa dan ibunya, yang senantiasa membayangkan dirinya sebagai ‘bunga’. Ehwa itu bagai bunga hollyhock, ibunya bagai bunga labu, seperti dalam kutipan ini:

Dari jutaan bunga di dunia, tak ada yang seperti bunga labu. Bunga labu merekah hanya ketika semua orang telah tertidur. Menghias dirinya dengan warna putih yang diciptakan debu bulan, bunga labu dengan penuh hasrat menantikan kekasihnya sepanjang malam.
(Hal.76)

Ya, bukankah banyak sekali perumpamaan-perumpamaan pada cerpen, novel, maupun pada bait-bait syair puisi (pola pikir klasik) yang mengibaratkan perempuan sebagai bunga dan laki-laki adalah kumbangnya. Kenapa aku katakan klasik? Tentu saja karena pola pikir ini terlalu mengecilkan arti perempuan sendiri, sebatas pada yang indah semata. Tidak ada yang salah dengan pandangan klasik ini, hanya saja membayangkan perempuan seperti bunga itu kok terdengar seperti pikiran yang “dangkal” dan artifisial ya.

Memang sebagai manusia, kita kagumi betapa indahnya bunga itu. Mungkin karena indahnya itu kita menutup mata dan menyepakati saja logika pikir kalau perempuan itu bagai bunga, tetapi kalau dipikir-pikir perempuan itu bunga yang mana ya? Kalau seumpama ia bukan mawar, melati, atau yang indah-indah, lalu dimana tempat bagi bunga-bunga yang tidak memamerkan keindahan, yang fungsinya lebih digunakan bukan sebagai penghias? Apakabar bunga soka? Bunga bakung?

Kedua, well done pak Kim Dong Hwa. Art work yang disajikan dalam buku pertama seri Warna ini sangat luar biasa. Di buku kedua yang dijadwalkan terbit 30 Agustus 2010, semoga menuai pukau yang sama yah.

Ketiga, aku adalah seorang ayah dari anak perempuan. Buku ini membukakan sebuah hubungan antara ibu dan anak perempuannya, suatu jenis hubungan yang tidak mampu dialihkan kepada sang ayah hanya karena tidak pernah berada dalam situasi yang sama. Aku bayangkan diriku sendiri kalau harus menjelaskan soal biji kesemak, soal datang bulan, soal jatuh cinta, dan lain-lain. Ah, pastilah mulutku akan tersekat, tak pandai menjelaskan sepandai ibu Ehwa ini. Buku ini juga sekaligus menjadi jawaban, seandainya nanti anakku yang mulai banyak bicara itu bertanya soal-soal tadi. Aku akan dengan enteng menjawab: “Anakku, semua ada di buku ini. Bacalah!”

selamat membaca!
dari Lelaki penyuka bunga krisan/seruni (Chrysanthemum indicum)

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s