Di Balik Sepotong Keju

Kaas (Keju)
Karya Willem Ellschot

Terbit Mei 2010 oleh Gramedia Pustaka Utama (cetakan pertama 1933) | ISBN13: 9789792257670 | Binding: Paperback | Halaman: 176

Alih bahasa: Joegiarie Soegiarto

KEJU bagi sebagian orang hanya sekedar bagian dari sarapan sebagai isi roti atau sebagai bahan pembuat kue kering di hari raya, tapi buatku keju lebih banyak artinya. Sangat menarik bicara soal keju dari sisi historis maupun sosiologis.

Secara historis, ternyata keju punya sejarah yang terentang amat panjang. Pembuatan keju diperkirakan berusia 10.000 BC, setua upaya manusia menjinakkan hewan. Akar sejarahnya bagaimana, tidak dapat dipastikan. Hanya saja dipercaya keju berasal dari Mesopotamia, sekitar 8.000 tahun lalu yang mungkin terjadi secara kebetulan, akibat pengembara menyimpan susu di dalam kantong minuman yang terbuat dari perut sapi muda. Enzim di dalam perut itu, panas, dan gerakan selama mengembara membuat lapisan di atas susu menggumpal keras.

Studi arkeologis menunjukkan bahwa pembuatan keju betul dipraktikkan di Zaman Neolitikum. Beberapa laporan penelitian merujuk pada orang-orang Asia nomad pada 6.000 BC. Temuan lain, kereta pengangkut susu ditemukan di dasar Danau Neufchatel di Swiss, berangka tahun 5.000 BC.

Bahkan di Mesopotamia (sekarang Irak), ada bukti visual sebuah gambar memerah susu sapi dan juga pembuatannya di kuil Dewi Ninchursag (sekitar 3.000 BC). Di Portugal, peninggalan arkeologis pembuatan keju berangka tahun 2.500 BC.

Di Mesir Kuno, jejak keju dapat ditemukan pada kuburan Mesir dan lukisan mural. Sebuah lukisan dari 2.000 BC menggambarkan tahapan pembuatan keju dan mentega. Di Mesir Kuno, para pendeta bertanggungjawab untuk mengembangkan teknik pembuatan keju, dan cara pengembangannya disimpan rapat sebagai rahasia yang perlu dijaga.

Teks-teks klasik juga memuat soal keju selain dari kisah Daud. Semisal dalam mitologi Yunani, disebut bahwa Dewa-Dewi mengirim Aristaeus, anak Apollo, untuk mengajarkan bangsa Yunani bagaimana cara membuat keju. Dalam kisah Odiseus karya Homer, kita kenal Cyclops Polyphemus yang keranjangnya selalu penuh keju dan teknik-teknik pembuatan keju.

Lalu bagaimana keju bisa ada di Indonesia? Cukup banyak yang menduga, keju sebetulnya sudah dikenal sejak masuknya Portugis. Dugaan ini didasarkan dari etimologi keju yang menyerap kata ‘Queijo’ dari bahasa Portugis. Namun baru terkenal ketika Belanda mendatangkan bungkahan-bungkahan ini dari Belanda, hanya karena di Hindia-Belanda belum ada pabrik pengolahan keju.

Keju-keju tersebut didatangkan dari Belanda untuk dikonsumsi orang Belanda yang tinggal di Indonesia. Dengan kata lain, keju dinikmati hanya terbatas untuk kalangan Eropa. Toko Li Liong Hin di Pasar Senen, Batavia-Centrum misalnya, adalah salah satu toko yang menjual keju.

Keju cukup lama menjadi makanan kaum elit dan lambang modernitas. Dalam salah satu catatannya, K.H Agus Salim menceritakan pengalamannya ketika masih bersekolah di Europeese Lagere School (ELS) di Riau sekitar tahun 1890-an. Seorang kepala sekolah Belanda melihat bakat pada Salim kecil. Orang Belanda itu berpendapat bahwa Agus kecil memiliki tanda-tanda menjadi orang pandai. Oleh karena itu harus diberi lingkungan serta makanan yang tepat. Maka dimintalah Agus untuk tinggal dengan keluarga Belanda tersebut. Ayah Agus Salim, Sutan Salim berkeberatan anaknya dididik sepenuhnya oleh Belanda. Namun, dia menghargai maksud baik kepala sekolah tersebut. Jalan tengah pun disepakati. Agus akan berada di rumah kepala sekolah di waktu makan pagi, siang dan malam lalu sejenak sesudahnya. Di rumah kepala sekolah Belanda itu beliau diminta makan makanan bergizi, bisa jadi termasuk roti dan keju yang banyak supaya lancar berbahasa Belanda. Apa coba hubungannya lancar berbahasa Belanda dan makan keju? Tapi begitulah.

Maka di sisi inilah, kita mulai menginjak sisi sosiologis sepotong keju, ia meninggalkan wilayah makanan dan masuk ke status sosial yang disandang seseorang saat memakan keju. Masih ingat sepotong bait dari lagu “Singkong & Keju” karya Arie Wibowo?

Aku suka singkong / kau suka keju oh oh oh..
Aku dambakan / seorang gadis yang sederhana
aku ini hanya anak singkong / Aku hanya… Anak Singkong

Keju dipertentangkan dengan singkong, sebagai sebuah antitesa. Konteksnya tentu saja sosiologis, karena waktu orang-orang Eropa makan keju yang demikian mahal, orang-orang pribumi harus puas pada makanan olahan yang terbuat dari singkong.

Padahal, sesungguhnya singkong pun makanan produk kolonialisme. Tanaman singkong diperkenalkan di Nusantara oleh orang Portugis pada abad ke-16 dan mulai ditanam oleh masyarakat luas di Hindia-Belanda (Indonesia) sekitar tahun 1810. Dalam Handbook of the Netherlands East-Indies tahun 1930 dituliskan bahwa tepung tapioka adalah salah satu komoditas Hindia-Belanda yang banyak diproduksi di Jawa, untuk kemudian diekspor ke luar negeri sebagai bahan baku lem dan permen karet.

Tapi karena tidak tahu sejarah, kita telah terlanjur menerima stigma sosiologis itu, meskipun kini sudah menjamur makanan singkong-keju yang pernah laris-manis juga 1-2 tahun lalu.

Baiklah, bagaimana perihal sejarah keju ini dapat mengantarkan kita pada novel klasik Kaas karangan Willem Elsschot ini?

Pemahaman akan dunia keju ini justru yang tidak dipunyai oleh tokoh Frans Laarsman, yang di usia yang tak lagi muda, sudah beranak dua dan usia mencapai paruh baya, ingin banting setir dari pegawai rendahan (kerani) menjadi pedagang keju. Keju yang akan ia dagangkan tak tanggung-tanggung jumlahnya 20 ribu ton keju Edam yang datang dalam bongkahan-bongkahan besar yang melingkar, dibalut dengan pembungkus warna merah. Keju Edam terkenal sebagai keju iris karena bentuknya semi keras dan sudah sejak dulu biasa dibawa para penjelajah Belanda berkelana mengarungi samudera.

Salah satu mitos yang beredar tentang kekerasan keju Edam adalah ia bisa digunakan untuk mengisi meriam kapal, saat pelurunya habis. Tapi di salah satu episode Mythbuster, mitos ini akhirnya terbantahkan karena saat meriam meletus, keju Edam pun ikut remuk sebelum sampai ke sasaran.

Baik kembali ke Frans Laarsman. Tokoh ini dapat disejajarkan dengan Sisyphus dalam esai filosofis Albert Camus berjudul Mite Sisifus yang sama-sama dipotret sebagai “manusia tragis”.

Istilah “manusia tragis” sendiri adalah istilah yang dicetuskan oleh psikoanalis Heinz Kohut saat berbicara tentang psikologi diri. Adalah sifat alami manusia terjebak antara “bersalah” dan “tragis” dan dalam hal ini, ketika manusia hidup dalam prinsip kesenangan, segala upaya untuk memuaskan rasa senangnya mendorongnya untuk melepaskan tegangan yang telah muncul dalam zona erogeniknya. Faktanya bahwa manusia sering tak dapat mencapai tujuan ini bukan karena tekanan lingkungan, tetapi terutama karena konflik yang ada di dalam diri
nya. Hal ini yang diistilahkan dengan “manusia bersalah”.

Ketika novel Kaas ini mengawali ceritanya dengan hubungan yang buruk antara Frans Laarsman dengan ibunya, mau tidak mau mendorong kita untuk memberi penilaian bahwa ada yang “berbeda” dengan cara Frans Laarsman memandang ibunya dengan cara yang tak lazim, sekaligus cara ia menilai dirinya. Lihat bagaimana ia begitu mabuk di saat kematian ibunya dan berpikir bahwa meninggalnya si ibu merupakan hal yang baik bagi dirinya.

Relevan dengan itu, Kohut selalu mengatakan inti diri itu adalah “diri yang dwipolar”. Sejak awal sekali, melalui proses bercermin pada ibu dan melalui pembentukan diri yang diidealkan, inti diri itu mulai membentuk keinginan-keinginan, ambisi-ambisi dalam hidup dan kemampuan-kemampuannya. Kehidupan diri adalah suatu proses penafsiran atau suatu proses penulisan cerita naratif yang mempertahankan hubungan antara diri dengan dunia di luar diri secara koheren dan kontinyu. Tidak mulusnya hubungan Frans Laarsman dengan ibunya, serta bagaimana ia kemudian memandang dirinya bila dibandingkan dengan kakaknya dan kehidupan yang seolah berlaku tak adil pada dirinya, merupakan sebuah karakterisasi yang cerdas dilakukan Willem Ellshot untuk memulai novel ini.

Dalam kacamata Kohut, Frans Laarsman adalah seorang “manusia tragis” dan bukan “manusia kreatif” yang dapat mendefinisikan dirinya berdasarkan hal-hal atau benda-benda yang ada di sekitarnya. Sehingga sebagai “manusia tragis” sebagai kontras dari “manusia yang mampu mengungkapkan dirinya”, pembaca dapat dengan cepat menyetujui keputusan Frans Laarsman untuk keluar dari situasi “tragis” yang menghimpit dirinya itu.

Tanpa sadar, kita digiring untuk mengikuti upaya Frans Laarsman untuk mendefinisikan dirinya sendiri sebagai “manusia kreatif” lewat menempuh jalan menjadi pedagang keju. Kita senang saat ia dengan bangga menyebut dirinya direktur Gafta, bahwa ia orang yang patut diperhitungkan, bahwa ia layak disebut manusia daripada sebelumnya. Kita senang dengan upayanya mencari nama, membeli mesin ketik, dan lain-lain. Tapi apa daya bahwa Frans Laarsman, “manusia tragis” itu, pada akhirnya tak mampu menjadi “manusia kreatif” di tengah kebingungannya menarasikan dirinya sendiri di antara serbuan keju yang ada di sekitarnya.

Maka cerita tentang Frans Laarsman ini, menurutku, bukanlah sekedar bacaan ringan, tetapi sejatinya bacaan sosio-psikologis yang sarat hal-hal filosofis. Ini yang menjadikannya novel berkelas.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s