Mengenali anomali bernama Gieb

Dialah Ini dan Itu
Karya Gieb

Terbit Juni 2010 oleh Mijil Publisher | ISBN: 9786029690101 | Binding: Paperback | Halaman: 147

GIEB YANG MEMBACA

Dua tahun lalu kali pertama kukenal Gieb. Setahun pertama setiap kali kusodori buku, ia sering berucap: “Aku sudah berhenti membaca buku. Khatam.” Di akhir tahun pertama perkenalan dengan Gieb, ia mengatakan ini padaku: “Gara-gara Goodreads, aku jadi membaca lagi. Sialan… Hehehe.” Di satu setengah tahun perkenalan dengan Gieb, aku temui ia suka menulis puisi-puisi lagi. Lalu aku kirimkan sebuah puisi untuknya:

Aku disergap tanya penasaran
dari apakah hatimu terbuat, teman
Setiap kali cerita tentang sepi kau meringkuk
katamu oleh waktu kau tertusuk

Setiap luka kau gores dengan pena
kau benamkan kesumat dalam kata
Ubahnya menjadi sungguh perkasa
mengangkangi semua logika

Kata-kata berdiri jumawa
di bawah panji-panji sastra
dan berkibaran tanda-tanda
duka-duka-duka

Tapi di balik semua citra
di balik setiap pertanda
Aku disergap tanya penasaran
dari apakah hatimu terbuat, teman

Karena bila aku jadimu
kuberharap hatiku batu

Dan genap di dua tahun perkenalan dengan Gieb, ia menerbitkan buku puisi ini yang diprakarsainya sendiri, dieditnya sendiri, dicetaknya sendiri dengan bantuan sejumlah teman, dan diedarkan kepada semua kita.

Bagi yang mengenalnya di permukaan, Gieb seperti seorang pendiam. Tetapi belakangan kita akan tahu, Gieb adalah seorang yang ‘gaduh’ dengan kreativitasnya dan pemikirannya. Malah bagiku, Gieb adalah sebuah buku puisi yang gaduh.

GIEB YANG MENULIS PUISI

Yang kita tahu, akhirnya Gieb menulis lagi. Mungkin ia akan membantah apa yang ia tulis di buku ini adalah puisi. Karena sepertinya ia mengemohi “puisi” yang telah telanjur terhegemoni oleh yang liris, yang rimatik, yang pamflet, yang lucu, puisi pada umumnya yang kita temukan dalam puisi-puisi yang ditulis Sapardi Djoko Damono, Gunawan Maryanto, Jokpin, Rendra. Mungkin itulah alasannya mencantumkannya sebagai “racauan”.

Sebuah bentuk barukah yang sedang digagasnya? “Racauan”-nya lebih mengedepankan yang prosaik, dengan tuturan pendek, dengan diksi yang menantang kecerdasan pembacanya. Mengangkat yang prosaik, sekilas aku mengingat Wendoko dan Kiswondo. Wendoko mungkin kita kenal lewat karya-karyanya yang belakang sering dinominasikan dalam ajang Khatulistiwa Literary Award (KLA). Sedang Kiswondo adalah seorang sastrawan yang bergerak di arus pergerakan dengan salah satu karyanya yang menurutku sangat menarik: “Irama Kerja Perburuhan”.

Tetapi aku ingin terlebih dulu mengembalikan pemahaman akan puisi jauh sebelum terhegemoni oleh macam-macam pendapat setelahnya. Bahwa ketika puisi dituliskan, kita akan bersinggungan lagi dengan rima, aliterasi, asonansi, irama, dan repetisi, yang semua berkaitan dengan bunyi — asal-muasal kata itu sendiri. Puisi tampaknya sampai dengan hari ini masih bersandar ke bunyi: mulai dari gaya pantun lama sampai ke tembang, puisi lama hingga baru, sejatinya tetap tunduk pada hakikat kelisanannya, yakni bunyi.

Bagaimanakah puisi Gieb yang berada dalam kumpulan “racauan” ini berbunyi? Terus terang, aku penasaran karena belum pernah melihat Gieb membacakan karyanya sendiri. Ia selalu berujar, “Aku lebih senang membacakan karya puisi orang.” Sehingga untuk sampai kepada penjelasan bagaimanakah puisi Gieb ini berbunyi, aku melandaskan pada teks yang tersedia.

Teks “racauan” Gieb tampak begitu pampat, termaktub dalam ujaran yang pendek, yang bahkan hanya bisa terdiri dari satu kata, namun kompleks. Kata demi kata seolah “mahluk hidup” yang saling bersahutan, saling melengkapi, saling berkejar sehingga bunyinya, paling tidak menurutku amatlah ramai dan cenderung gaduh. Lupakan bunyi yang damai dan meliuk indah mempermainkan rima! Lupakan kesederhanaan! Lupakan semua! Teks-teks Gieb seperti menerjang, menghantam semua batasan, mendobrak dengan penuh semangat dari kedalaman jiwanya, dihadirkan utuh tanpa sebuah eufemisme, begitu saja terhidang isi perut pikirannya ke hadapan pembaca.

Terhadap bunyi yang gaduh demikian, pembaca harus pandai-pandai menyimak makna di balik kegaduhan yang ditawarkan. Dan terus terang, aku tertarik untuk membahas pemaknaan di balik setiap kegaduhan racauannya. Apa yang hendak disampaikannya? Apa yang menjadi kegelisahannya?

Sensasi barangkali itu yang pertama-tama akan kita temui dalam karya Gieb. Terutama karena bentuknya yang anomali. Karena cara tuturnya yang anomali. Tetapi tidak pada pesannya, karena sebuah racauan pun tentulah sedang menyampaikan sebuah gagasan, yang seabsurd apapun tetaplah perlu untuk dimengerti.

Maka untuk dapat menjawabnya, aku terpaksa mengasumsikan sebuah hipotesa: penerimaan atas persetubuhan sebagai proses pelepasan yang normal dan alamiah dari diktum-diktum yang mengekang, entah moral, entah patriarki, entah politis, atau yang lain. Benarkah demikian?

Dalam “Sengal”, Gieb menulis demikian:
Nafas kita begitu sengal ketika pada sebuah jeda menemu diri yang menggigil di belakang konstelasi. Mengimajinasikan geografis yang sesak dengan sistem kode digital. Saat ciuman masa lalu dan masa depan bisa kita ciptakan secara simultan… Kita membeku. Dalam persepsi kuasa tubuh yang meninggalkan rasionalitas. Bahwa yang terbatas adalah yang tak terbatas. Menggeser spekulasi sebuah rindu yang mencengkeram.

Dalam narasi tadi, kesadaran yang kita pahami sebagai sumber kebenaran personal bahkan bisa dipertanyakan kembali karena kesadaran begitu mudah digoyahkan. Rasionalitas yang tali-temali dengan kesadaran pun tampaknya juga ikut goyah, manakala dihadapkan pada ciuman, rindu, hingga wajar bila kemudian kita tersengal. Gieb sedang berbicara tentang banyak hal dalam racauan “sengal”: kesadaran/rasionalitas/pikiran yang terdefinisikan sebagai sumber kebenaran personal pun bisa patah/tumpul manakala dihadapkan pada kehendak tubuh.

Lalu apakah tubuh itu? Gieb menjawabnya demikian dalam “Samar”: Begitulah. Kita menangkap semesta yang saling berkaitan. Tubuh mempengaruhi pikiran. Pikiran mempengaruhi tubuh. Energi biologis menjadi luapan semangat. Sebaliknya luapan hati menjadi letupan tubuh yang menggagas percintaan…

Maka, inilah yang sedang disampaikan Gieb dalam racauannya. Ia berbicara banyak juga tentang bagaimana memaknai tubuh, bagaimana mendekonstruksi tubuh untuk memahami peta-petanya, mendefinisikan rindu, memaknai secara baru realitas yang sudah terlanjur didefinisikan oleh banyak orang dan dipahami secara umum. Dan tentu saja banyak kisah persetubuhan dan percintaan. Aku tak tahu benar bagaimana cara memahaminya kisah cinta itu selain mencoba membacanya dengan hati-hati, seperti yang Gieb tulis dalam “Setubuh”: Sesungguhnya bila Dia menghendaki sesuatu, hanya dengan perintah “Bersetubuhlah!” Maka jadilah sebuah eros. Meski dengan sederhana. Seperti diksi yang langa. Dan aku sia-sia saja memahaminya.

GIEB YANG TERDEFINISI

Gieb bukanlah prosa, puisi, melainkan anomali. Sekeping info yang ia tuliskan tentang dirinya tak cukup untuk menjelaskan lebih lanjut siapa dia. Namun barangkali “Redup” mampu menceritakan lebih pada ki
ta:

Lelaki itu, Gieb. Berlari sepanjang empat tahun yang sia-sia. Menertawakan angin dan daun-daun. Berkejaran dengan lampu-lampu… Lelaki itu Gieb. Menjadi sub-altern. Kontestasi pada status. Gender. Lelaki dengan sifat-sifat Tuhan… Bingung. Sufi. Absurd. Berserikat dengan sepi.

Ah, tiba-tiba aku ingin minum bir dingin.

3,5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s