Mencermati Maggie, Menikmati Imajinasi

Balada Ching-Ching dan Balada Lainnya
Karya Maggie Tiojakin

Terbit Juni 2010 oleh Gramedia Pustaka Utama | ISBN: 9789792258288 | Binding: Paperback | Halaman: 186

DARI sekian jumlah pendatang baru dalam dunia menulis, nama Maggie Tiojakin mungkin masih terasa asing bagi publik pembaca di Indonesia. Bagi yang mengakrabinya, barangkali mereka mengenal lebih dulu Maggie dari tulisan-tulisannya di “Weekender” The Jakarta Post, karena juga profesinya sebagai jurnalis di tempat itu dan beberapa tulisan lepas yang dimuat di harian berbahasa Inggris itu, atau mereka mengenal Maggie lewat sejumlah majalah seperti Femina.

Menurutku, sebagai penulis Maggie Tiojakin sangat menarik. Ia mempunyai imajinasi yang kuat, melenting jauh. Usia bagi penulis kelahiran tahun 1980 di Jakarta atau lokasi, bukan menjadi penghalang bagi dirinya untuk menuliskan tentang berbagai hal yang centang-perentang di dunia ini. Apa yang tulis bukan melulu tema-tema cinta, pengkhianatan, prosesi lahir-mati, tetapi merambah lebih dalam ke titik krusial kemanusiaan: sisi terdalam kemanusiaan kita yakni pikiran manusia.

Aku tidak bisa menjelaskan lebih jauh tentang siapa dan bagaimana Maggie sehari-hari, meskipun sangat menarik misalnya, menuliskan tentang penulis perempuan ini dari riwayat penulisannya yang sungguh panjang. Di usia yang masih belasan tahun, dua tulisannya pernah dimuat di majalah Anita Cemerlang, lalu di umur 16 tahun ia menulis novel pertamanya berjudul NIBOR, yang merupakan kebalikan dari ROBIN, sepanjang 700 halaman, dengan 48 bab, yang entah berada dimana sekarang ini. Yang kedua berjudul Karang Timur sepanjang 450 halaman, dengan 40 bab, untuk kemudian ia, sebagai penulis dengan beragam pengalaman mulai dari copywriter, penerjemah, pengadaptasi film ke novel, sampai jurnalis, akhirnya memilih menggeluti menulis cerita pendek karena cinta. Betul, karena cinta!

Kecintaannya ini ia tunjukkan dengan mengelola sebuah situs gratis yang menghadirkan cerpen klasik karya pengarang dunia baik yang sudah ternama maupun belum dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia untuk asupan masyarakat luas. Situs ini dinamakan Fiksi Lotus (http://fiksilotus.wordpress.com/)

Narasi yang disodorkan dalam ke-13 cerpen ini menyodorkan peristiwa sehari-hari, yang tampak begitu saja mengalir, tanpa perlu membuat bangunan setting, alih-alih Maggie secara cerdik memperkuat sisi karakter setiap tokoh dengan “pikiran manusia” sebagai settingnya. Semisal cerita berjudul “Liana, Liana”.

Di dalam cerita itu, seorang anak kecil bernama Liana gelisah karena ibunya tidak kunjung pulang seperti biasanya. Lalu Liana larut dalam pikirannya sendiri dan membayangkan yang tidak-tidak sampai ia lelah dengan segala macam kemungkinan dan skenario yang ia bangun sendiri. Ujungnya, ternyata si ibu baik-baik saja.

Lihat, sederhana sekali. Maggie melakukannya lagi di cerita berjudul “Ruang Tunggu” dan “Obsesi”. “Ruang Tunggu” menceritakan tentang seorang ibu bernama Nina, yang mengalami keluhan pada dadanya. Rupanya jantungnya mengalami kebocoran, dan berita ini membuatnya panik dan ingin teriak ke semua orang bahwa kebocoran di jantungnya kelak akan membuat ia mati kehabisan darah. Sedang cerita “Obsesi” bercerita Pana yang jatuh cinta pada Kemarau, hingga menjurus pada obsesi.

Kesanku, kekuatan karakter justru menonjol saat seorang penulis menuliskan dari sisi psikologis tokohnya. Tokoh/karakter bukan sekedar wayang dua dimensi, tetapi menjadi sungguh hidup, lengkap dengan needs and wants. Bukan sekedar pajang nama dan jabatan.

Beberapa cerita lain mulai sedikit mewah dengan kehadiran dua tiga tokoh, dan tampaknya upaya untuk menghadirkan dialog-dialog lebih sering dihindari oleh Maggie. Ia lebih tertarik untuk mendalami ketakutan seorang gadis dalam cerita “Kawin Lari” ketimbang memberi porsi dialog semacam pertengkaran dengan pasangannya. Atau dalam “Anatomi Mukjizat” yang memberi porsi pada pikiran yang berkecamuk dalam benak Malik, dan bukan pada dialog dengan istrinya.

Satu-satunya yang berporsi dialog dan cukup panjang adalah pada cerita berjudul “Dua Sisi” antara Andari dan seorang gadis bernama Aysha. Tapi belakangan pembaca akan tahu Aysha mungkin tidak pernah berdialog dengan Andari. Bisa jadi itu juga pikiran Andari sendiri. Cerita “Dua Sisi” sebagai cerita paling panjang dalam kumpulan ini, justru secara penceritaan paling lemah dan membosankan. Mungkin karena sejatinya ia cerita bersambung, sehingga terasa di bagian pertengahan terasa terseret.

Lalu bagaimana penilaian akhirnya? 3,5 bintang untuk karya Maggie ini, dengan berbagai catatan yang sudah aku tuliskan di atas. Usulku, kesampingkan soal penulis global dan lain sebagainya, dan cukup perhatikan kiprah penulisan Maggie berikutnya, karena aku yakin kelak Maggie Tiojakin akan menjadi penulis paling menjanjikan dalam khasanah perbukuan Indonesia.

3,5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s