Bila perkutut menjadi sebuah kado untuk bapak

Sejumlah Perkutut Buat Bapak
Karya Gunawan Maryanto

Terbit Mei 2010 oleh Penerbit Omahsore | ISBN13: 9789791904797 | Binding: Paperback | Halaman: 52


‘hurr-ke-te kung…. hurr-ke-te kung….’

BAGAIMANA cara seorang seniman panggung, penulis puisi, budayawan ingin memberikan kado terindah untuk bapaknya? Gunawan Maryanto — penulis puisi, sutradara teater garasi, budayawan kota Yogya — memilih memberikan buku puisi. Buku puisi ini bukan buku puisi yang biasa ia tuliskan karena si bapak tidak suka puisi, tetapi berisi puisi tafsir tentang ciri mathi perkutut. Menarik kan. Tetapi mengapa perkutut?

Sakralisasi Perkutut oleh orang Jawa
Sebagaimana dipercaya oleh kebanyakan orang Jawa, perkutut adalah binatang sakral. Ia tidak boleh dibunuh, harus dipelihara dengan seksama. Dengar saja suaranya yang mistis: ‘hurr-ke-te kung…. hurr-ke-te kung….’

Tetanggaku selalu bilang, mendengarkan burung perkutut itu mburu antenge pikir lan urip. Bunyinya yang khas terdengar indah, merdu, namun juga menenteramkan, memberikan suasana nyaman pada lingkungan. Maka bagi sebagian orang, memelihara perkutut dianggap laku olah batin bagi yang bersangkutan. Selain suaranya, lewat ciri fisiknya perkutut memberikan sinyal-isyarat atas sejumlah peristiwa kosmis yang sulit dijangkau atau dideteksi akal-budi manusia. Dengan demikian, perkutut seolah dianggap sekumpulan mata facet dari kutub-kutub magnet yang mampu menangkap gejala alam dan memancarkan kembali ke dalam bentuk sederhana dan mudah dipahami secara inderawi oleh pemiliknya.

Sakralisasi itu bahkan diejawantahkan dengan membuat primbon khusus untuk memelihara perkutut, seperti “Katuranggan Oceh-Ocehan” dari Kasunanan Giri (1478-1670) yang ditulis begitu rumit. Lalu ada “Katurangganing Kapal lan Peksi” dari Kasunanan Bonang (Tuban), juga ada “Karuman Wasiteng Wali” yang terbit tahun 1512.

Namun “Sejumlah Perkutut Buat Bapak” menawarkan yang lain. Yang dilakukan mas Cindhil adalah menafsirkan sejumlah ciri mathi perkutut yang ia tahu, memasukkan imaji, pengetahuan, dan diksi ke dalamnya hingga menjadi sekumpulan puisi yang kesemuanya berpusat pada tema sentral: perkutut.

Aku suka pada beberapa puisi yang ada, semisal “Sangga Buwana”, “Raja Wana”, dan “Gedong Menga”. Berikut nukilannya dan catatan arti ciri mathinya:

sangga buwana

di punggungku, nak, ada sehelai bulu putih
tanda lahir yang tak bisa kubaca sendirian
dan aku bukan atlas
aku hanya sanggup memanggulmu
sebentar, tak cukup lama
itu bulu jatayu, pak, mati kena ketapelku
sebab sinta keluar dari permainan
itu bukan soal cinta
keluar garis atau tidak, itu saja

(hal. 25, ciri mathi sangga buwana: di punggungnya ada sehelai bulu berwarna putih, akan mendatangkan rezeki)

raja wana

dadamu terbelah,
suatu waktu sebuah sungai pernah hadir
dan mengalir di sana
ketentraman tumbuh di sepanjang tpinya
seperti pohon gayam
menjulurkan dahannya ke atas sungai

dadamu terbelah
aku ingin istirahat di sana

(hal. 31)


gedong menga


suaramu menggambar jendela di dadaku
lalu seseorang akan datang membukanya
–kau tahu siapa dia
mengucapkan selamat pagi
selamat memburu rejeki hari ini
banyak atau sedikit tak mengapa
pulanglah
banyak atau sedikit
hanya cara kita menghitungnya

(hal. 42, ciri mathi gedong menga: perkutut yang manggungnya menyongsong terbitnya matahari, pemiliknya banyak rezeki dan selamat.)

Menurutku, sebagai buku persembahan buku ini tentu buku ini berarti. Namun bagi pembaca yang lebih luas lagi, buku ini akan lebih bagus bila mencantumkan sedikit pengantar soal perkutut bagi orang Jawa dan dilengkapi dengan ilustrasi sedikit untuk membuatnya jauh lebih menarik daripada memandang bidang-bidang kosong yang tak terisi.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s