Oleh-oleh Permainan Kaum Digital Immigrants

Gambar Oemboel Indonesia
Karya Ibnu “Benu” Wibi Winarko

Terbit 2010 oleh GARENG (Penggemar Toelen Gambar Oemboel) | ISBN: 9786029668902 | Binding: Paperback | Halaman: 136

SIAPA yang tak ingat permainan jadul ini? Umbul kalau anak-anak Yogya menyebutnya, Gagambaran di Sunda, Gaburan di wilayah Pantura Tegal, bahkan anak-anak Jakarta mengingatnya dengan permainan “tepokan” atau gambaran. Di luar Jawa, permainan ini juga populer, semisal di Padang dengan sebutan “gambar-gambar”.


Seingatku, cara memainkannya begini. Dua anak masing-masing memberi kartu gambar gacoan/gacuk kemudian salah seorang melemparkan ke udara (atau di”tepok” oleh dua anak kalau di Jakarta) dan dibiarkan kedua kartu itu jatuh ke tanah.

Sing mlumah dibayar, sing mengkurep mbayar yang artinya “yang terlentang dibayar, yang tengkurap membayar”. Bukan dengan uang, tetapi dengan kartu gacoan/gacuknya tadi. Atau bahkan bisa dengan tumpukan kartu.



Mengingat permainan itu dan sejumlah permainan masa kecil lainnya seperti gamparan, Galah Asin/Gobak Sodor, Gatrik atau Tak Kadal, benteng) sembari memperhatikan bagaimana anak-anak kelahiran tahun 2000 ke atas bermain, sedikit membuatku gusar.

Perkaranya begini. Ada sebuah makalah yang ditulis Marc Prensky berjudul “Digital Natives, Digital Immigrants” yang bercerita tentang dikotomi antara mereka yang lahir saat semua teknologi sudah serba digital, yang kemudian disebut dengan kaum “Digital Natives”, dengan mereka yang lahir sebelum teknologi digital mampir ke dalam hidup mereka, yang mendapat sebutan kaum “Digital Immigrants”. Paper itu membuatku mengernyitkan dahi saat membaca data bagaimana generasi Digital Natives menghabiskan waktu. Berdasar penuturan Prensky, rata-rata total waktu anak lulusan kuliah zaman sekarang membaca kurang dari 5.000 jam selama hidupnya, tapi menghabiskan lebih dari 10.000 jam bermain video games dan 20.000 jam untuk menonton televisi. Games, email, Internet, ponsel, dan instant messaging telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup mereka. Itu berarti, cara mereka berpikir dan memproses informasi berbeda dari kaum “Digital Immigrants”, bahkan lebih jauh lagi diperkirakan pola pikir mereka pun berbeda.

“Different kinds of experiences lead to different brain structures,” demikian menurut Dr. Bruce D. Perry dari Baylor College of Medicine. Oh, well, bisa jadi aku terlalu parno saat memperkirakan tidak dimainkannya sejumlah permainan masa kecilku dulu karena anak-anak generasi “Digital Natives” akan lebih mengambil pengalaman saat memainkan Ragnarok, Counter Strike dengan tembak-tembakannya, tapi kira-kira pengalaman apa ya? Dan pola pikir macam apa ya yang akan lahir dari permainan itu?

Hmmm… Amit-amit jabang bayi. * getok-getok kayu *

Untuk mereka yang berusia 30 tahun ke atas di tahun 2010 ini, gambar umbul mungkin masih bisa mereka ingat seperti apa. Sejarahnya seperti apa, buku ini yang ditulis oleh seorang kolektor, sekaligus penggemar Gambar Umbul, memberikan penjelasan yang cukup komprehensif.

Gambar umbul diperkirakan berawal dari gambar cetak dan kartu hadiah dari pabrik rokok atau toko kelontong di era 1930-1940. Gambar itu berukuran 32 cm x 25 cm bernomor urut 1-20 yang didominasi adegan cerita wayang purwa seperti Harjuna kawin. Dalam perkembangannya, bukan lagi menjadi sisipan hadiah, melainkan dijual dalam bentuk lembaran gambar umbul yang bisa berisi 100 kotak, 50 kotak, atau 32 kotak.

Gambar umbul berkembang sesuai tren zaman. Cerita wayang dan legenda berkembang menjadi cerita film, seperti Hercules, Benhur, dan Darna. Dari awalnya sekadar gambar tokoh berubah mirip komik, tetapi tanpa balon berisi dialog. Yang menarik karena dibatasi oleh jumlah kotak, kisah film Benhur yang memakan durasi waktu dua jam, bisa diceritakan hingga tamat dalam jumlah kotak gambar yang terbatas.

Isinya juga tak melulu cocok dengan anak kecil. Kadang-kadang ada pelukis gambar umbul yang menyisipkan gambar seksi, tapi sebagai anak kecil pada jaman itu, hal seperti itu belum jadi hal yang prioritas. Anak-anak kecil lebih menyukai tokoh-tokoh kesukaan seperti superheroes, bintang film, atau nomer kesukaan yang membawa hoki dalam permainan.

Buku yang tebalnya 136 halaman ini mengajakku untuk menyelami lebih dalam aspek-aspek di dalam dunia umbul. Bukan sekedar permainan ternyata, tetapi banyak juga aspek lainnya. Misalnya, kita akan tahu bahwa umbul itu banyak jenis, banyak ragam, dan banyak unspoken story yang tak kita ketahui seperti persaingan bisnis antara Gunung Kelud dan Murni, 2 raksasa mainan umbul pada tahun 80-an. Juga kita baru tahu bahwa para pelukis umbul itu masing-masing mempunyai ciri khas, yang hampir bisa disejajarkan dengan para komikus.

Sebagai generasi “Digital Immigrants” yang pertama kali menikmati barang canggih saat komputer masih monokrom (warna layar cuma hijau), dengan cara menyalakan perlu beberapa disket untuk start-up, dan hardisk terbesar hanya berukuran 4MB, ingatanku cukup disegarkan dengan kehadiran buku ini dan diingatkan untuk bersyukur bahwa mempunyai pengalaman masa kecil yang unik, terutama saat mengenang bagaimana teman masa kecilku bermain curang saat memainkan umbul ini, entah dengan ditekuk ujung kartunya, atau dua sisinya dilem dengan kartu yang sama, paling tidak bukan dengan “cheat code”.

Catatan pertemuan dengan buku dan penulis buku ini

Akhir Juni 2010.

Belum genap seminggu sejak aku menemukan buku Gambar Oemboel Indonesia, respon teman-temanku untuk memesan buku ini terus mengalir. Baik teman di Goodreads, maupun teman penyuka buku di luar komunitas pembaca ini. Mungkin tiap orang akhirnya terikat pada masa kecilnya, dan dalam hal ini terikat pada permainan umbul atau gambaran.

Selama membaca buku ini, aku berpikir alangkah menyenangkannya bila bisa menggelar pameran gambar umbul di Jakarta, seperti yang sudah digelar penulisnya di Bentara Budaya Jogja tahun 2003 dan terakhir bulan Mei 2010 lalu. Tapi mungkin kah ada yang tertarik datang?

Berbekal keberanian, aku hubungi si penulis yang bernama lengkap Ibnu Wibi Winarko, tapi lebih senang dipanggil Benu. Orang Yogya asli, tapi ternyata bekerja di Tangerang. Jadwalnya: Senin-Jumat di Jakarta (ngekos
di daerah Gunung Sahari), tapi Sabtu-Minggu pulang ke Yogya. Aku katakan padanya bahwa aku sangat gembira menyambut buku yang sangat informatif ini dan sebagai pembaca sangat senang ada penulis yang mendedikasikan hidupnya untuk mengabadikan hal yang mungkin bagi kebanyakan orang kelihatan remeh-temeh, tapi dari sisi kebudayaan sangat penting. Penting karena ia merekam sebuah jejak bahwa ada permainan yang begitu besar pengaruhnya pada sebuah generasi, yang bagi generasi mendatang tidak akan lagi ditemukan karena sudah digantikan permainan yang individual, yang tertutup, yang minim nilai kulturalnya. Permainan umbul adalah permainan yang teramat asing bagi generasi digital native yang telah amat terbiasa dengan layar komputer atau televisi dan gagang stik/keyboard. Mereka tak kenal tangan yang memerah atau kecurangan dengan cara menekuk kartu umbul agar kartunya selalu dalam posisi terbuka.

1 Juli 2010

Sore hari, sang penulis pun ingin bertemu. Tentu saja, aku menyambut baik. Aku ajak Gieb dan Erry untuk menemaniku bertemu penulis ini. Penulis yang rela merogoh koceknya untuk membeli gambar umbul dari pasar ke pasar, membeli plat sisa cetak dari Gunung Kelud (GK) yang kalau dinilai seharga sebuah sepeda motor baru, dan memburu para pelukis gambarnya dari kota ke kota.

Pertemuan yang teramat sederhana, tanpa spanduk, tanpa formalitas pertemuan, antara penulis dan pembaca. Cukup ditemani makanan pesanan masing-masing dan tentu saja taburan cerita mengenai buku. Aku pikir ini sesuatu yang amat baik, menciptakan jembatan dialog untuk berbicara mengenai buku dari mereka yang menggelutinya sebagai penulis dengan para pembaca. Membiarkan penulis menyapa pembacanya bukan dengan sekadar teks, tetapi juga dengan membagi pengalamannya (dan perjuangannya saat menulis). Dan aku sadar, sampai hari ini pengalaman ini belum bisa dinikmati secara luas. Berapa banyak penulis yang bisa ditemui pembacanya?

Di penghujung pertemuan, kami berfoto bersama dan saling berjanji tukar kabar. Karena semoga ada teman-teman yang tertarik untuk menikmati pameran gambar umbul ini, seandainya kelak jadi diadakan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s