Mengembara Bersama Wallace Dalam Kapsul Waktu

Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam
Karya Alfred Russel Wallace

Terbit November 2009 oleh Komunitas Bambu | ISBN 9793731567 (ISBN13: 9789793731568) | Binding: Hardcover | Halaman: 486

Penerjemah: Tim Komunitas Bambu (Translator)


PADA bulan November 2009 telah terbit terjemahan The Malay Archipelago The Land of The Orang-Utan and The Bird of Paradise. A Narrative of Travel with Studies of Man and Nature, buah pengembaraan Alfred Russel Wallace, seorang naturalis asal Inggris yang tak pernah mengenyam pendidikan tinggi tetapi temuannya tak terperikan pentingnya bagi perkembangan Teori Evolusi dengan menunjukkan peran penting “seleksi alam” dalam proses evolusi.

Isi buku ini merupakan hasil pengamatan yang amat jeli terhadap hamparan hewan dan tumbuhan, dan manusia, yang dijumpai oleh A.R. Wallace dalam perjalanannya ke-23 tempat dari tahun 1854 sampai dengan tahun 1860. Selama ekspedisinya di Nusantara, Wallace telah menempuh jarak tidak kurang dari 22.500 kilometer, melakukan 70 kali perjalanan terpisah, dan mengumpulkan 125.660 spesimen fauna meliputi 8.050 spesimen burung, 7.500 spesimen kerangka dan tulang aneka satwa, 310 spesimen mamalia, serta 100 spesimen reptil. Selebihnya, mencapai 109.700 spesimen serangga, termasuk kupu-kupu yang paling disukainya.

Selama tahun-tahun terakhir di Kepulauan Nusantara, terutama saat di Ternate selama 8 tahun terakhir ia sering berkorespondensi dengan Charles Darwin dan tampaknya mereka tiba pada kesimpulan yang lebih kurang sama mengenai persebaran dan evolusi spesies. Surat-surat dari Ternate inilah yang mendorong setahun kemudian Darwin menerbitkan karyanya, The Origin of Species, setelah diyakinkan oleh kesimpulan-kesimpulan Wallace. Kini keduanya disandingkan sejajar sebagai penemu teori evolusi, meskipun namanya seolah tenggelam di bawah bayang-bayang besar Charles Darwin.

Di Indonesia, buku ini diterjemahkan dengan judul Kepulauan Nusantara Kisah Perjalanan Kajian Manusia dan Alam. Terjemahan ini dikerjakan oleh tim Komunitas Bambu dan dieditori oleh Uswatul Chabibah . Di dalam proses penerjemahan itu, nama-nama tempat tetap dipertahankan unsur aslinya dengan tambahan anotasi nama-nama tempat itu kemudian. Versi terjemahan ini terbit dengan 482 halaman termasuk indeks.

Sebenarnya karya terjemahan ini merupakan hasil terjemahan kedua. Terjemahan pertama dikerjakan oleh penerbit Rosda Karya tahun 2000 dengan judul Menjelajah Nusantara: Ekspedisi Alfred Russel Wallace yang menurut mereka yang sudah membacanya merupakan terjemahan dari ringkasan karya Wallace karena lebih tipis, hanya 300-an halaman. Namun baik terjemahan pertama maupun terjemahan kedua terpaku pada kata “Kepulauan Nusantara” sebagai terjemahan “The Malay Archipelago” dan mencantumkannya sebagai judul. Suatu kebetulan? Ataukah ada alasan kuat di belakangnya?

Buku ini merupakan sebuah karya yang multi-aspek. Karya ini bukan sekedar sebuah buku berisikan catatan perjalanan yang ditulis oleh seorang naturalis bernama Alfred Russel Wallace, tetapi lebih daripada itu ia menawarkan banyak hal menarik dan masih relevan hingga hari ini.

Aspek 1: Penjelajahan dan penemuan
Buku ini dituliskan saat konteks Abad Penemuan ketika dilakukan “Penjelajahan Samudera” untuk menemukan daerah-daerah baru juga jalur-jalur pelayaran baru menuju dunia timur untuk menjelajahi kekayaannya. Apa yang dilakukan oleh Wallace juga dilakukan oleh kebanyakan naturalis lain dengan mengambil wilayah yang berbeda, seperti Charles Darwin yang pergi dengan kapal HMS Beagle ke kepulauan Galapagos.

Pada masa itu, Kepulauan Nusantara adalah sesuatu yang asing bagi Inggris. Bangsa-bangsa Eropa beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari orang Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”, sementara kepulauan ini memperoleh nama Kepulauan Hindia atau Hindia Timur.

Terutama bagi bangsa Inggris, kepulauan nusantara adalah terra incognito yang ingin mereka dalami dan kenali kekayaannya. Maka berdatanganlah para ilmuwan ke kepulauan nusantara, bukan hanya naturalis seperti Wallace, namun juga sebelumnya datang etnolog terkenal Inggris, George Windsor Earl. Penemuan mereka ini jelas memperkaya pemahaman dunia akan kepulauan nusantara, bahkan nama Indonesia-pun akhirnya tercetus (nanti akan dibahas lebih lanjut)

Aspek 2: Sumbangan Wallace pada Teori Evolusi
Tak dapat disangkal bahwa apa yang ditulis oleh Wallace mengenai Kepulauan Nusantara dan surat-surat yang ia tujukan ke koleganya di Inggris, Charles Darwin, dalam rangkaian surat yang dikenal dengan nama “Letter from Ternate” memberi kontribusi sangat besar pada tersusunnya Teori Evolusi khususnya bagian seleksi alam. Surat itu menjadi terkenal karena disertai makalah yang diberi judul “On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitelty from the Original Type”. Dari makalah itu, Wallace mengemukakan pemikirannya mengenai proses seleksi alam mempertahankan suatu spesies di dunia. Spesies yang mampu bertahan disebut Wallace sebagai hasil kelangsungan yang terbaik atau yang paling memiliki kemampuan bertahan tidak akan punah.

Ada tiga hal yang menjadikan Wallace penting bagi kita:
1. Wallace adalah penemu 6 zona zoogeografi dan fenomena garis wallacea yang menjelaskan distribusi satwa di Kepulauan Nusantara.
2. Wallace adalah peletak dasar teori seleksi alam
3. Sebagai naturalis, Wallace patut ditiru karena observasinya yang cermat dan mampu membuat analisa dari hasil pengamatannya.

Aspek 3: Biogeografi
Kedatangan Wallace dan pengetahuan yang ia bagikan di dalam buku ini menjadi pondasi ilmu Biogeografi yakni ilmu tentang bagaimana penyebaran spesies-spesies (satwa dan tumbuhan) di permukaan Bumi dan bagaimana penyebaran itu terjadi. Ketika ia melakukan perjalanan di Kepulauan Nusantara, ia menemukan perbedaan yang tajam jenis-jenis organisme antara bagian baratlaut dan tenggara, meskipun daerah tersebut memiliki kondisi iklim dan daratan yang sama. Lalu ia menarik garis di antara Filipina dan Maluku, Kalimantan dan Sulawesi, dan di antara Pulau Bali dan Lombok. Garis hipotetik itulah yang kemudian dikenal dengan Garis Wallace.

Aspek 4: Kekayaan hayati yang diakui dunia
Apa yang tercakup dalam buku ini membuktikan bahwa keanekaragaman hayati Kepulauan Nusantara sangat memukau sang naturalis ini. Bahkan 150 tahun kemudian, sejarah telah membuktikan bahwa keanekaragaman hayati Indonesia kedua terbesar di dunia setelah Brasil. Hanya saja pengakuan dunia akan keanekaragaman hayati ini kini berada dalam sebuah paradoks, saat negeri ini terlihat tidak berbuat banyak untuk mengelola karunia ini.

Aspek 5: Keindonesiaan
Kita boleh berbangga bahwa sudah sejak lama Indonesia menjadi perhatian dunia. Para Indonesianis yang datang dengan rangkaian pemikiran sosiologis dan antropologis pada tahun 1970-1990-an ternya
ta bukan yang pertama. Justru jauh sebelumnya para naturalis, etnologis, sudah lebih dulu berlomba memperhatikan Indonesia, bukan hanya alamnya tetapi juga masyarakatnya yang majemuk.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s