Bila seorang pujangga jatuh cinta

Ciuman Hujan: Seratus Soneta Cinta
Karya Pablo Neruda

Terbit 15 Desember 2009 oleh Penerbit Mahda, Yogyakarta | Binding: Softcover | ISBN: 9789791979702 | Halaman: 128

Dialihbahasakan dari bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Stephen Tapscott ke bahasa Indonesia oleh Tia Setiadi. Versi asli berjudul Cien sonetos de Amor

SEORANG Plato pernah berujar demikian:
“At the touch of love, everyone becomes a poet.”

Ungkapan Plato tak berlebihan. Bahkan ungkapan tadi juga pantas disandangkan pada seorang Pablo Neruda. Pablo Neruda memang seorang penyair (cinta), tetapi saat bersentuhan dengan cinta, ia menyajikannya secara luar biasa.

Begini bila seorang Pablo Neruda menuliskan demikian tentang istrinya Matilde Urrutia:
“Matilde: nama sebentuk tumbuhan, atau batuan, atau anggur,/ dari segala hal yang bermula di bumi, dan akhirnya: / kata yang di sana tumbuh fajar pertama yang membuka,/ yang di sana musim panas menyinari jeruk-jeruk yang rekah.

Begitulah cara Pablo Neruda memuja nama istrinya dalam sebuah soneta. Itu baru namanya. Ia serukan secara serta-merta sebagai awal seratus soneta cintanya. Nama, karena biasanya orang lebih dulu memuji nama untuk kemudian menyudahinya dengan eksplorasi lain.

Tapi Matilde Urrutia lebih dari sebuah nama. Dia adalah mantan seorang penyanyi Cile yang pernah bekera merawat Pablo Neruda ketika sakit saat lawatannya ke Meksiko pada akhir 1945 dan akhirnya menjadi istri ketiga dari penyair penting ini.

Kiprah Matilde sebagai istri lantas menginspirasi sang maestro pemenang Nobel sastra 1971 itu untuk menghayati aktivitas serta memperhatikan detail keseharian yang dilihatnya: Matilde Urrutia memasak di dapur, Matilde mondar-mandir menyiram bunga-bunga mawar dan anyelir, atau ketika istrinya tengah menyiapkan sprei dan ranjang tidur dengan lagak-lagu tubuhnya yang anggun.

Apa yang tersirat dalam seratus soneta cinta ini adalah gambaran keagungan dan kesempurnaan Matilde, sehingga tak berlebihan memang jika Tia Setiadi sebagai penyulih sekaligus penulis esai pendamping yang bertajuk “Neruda dan Keabadian sebuah Ciuman” mengatakan bahwa bagi Pablo Neruda, jagad raya adalah mikrokosmos sementara Matilde Urrutia adalah makrokosmos. Bagaimana jelasnya Neruda merumuskan itu, silakan simak soneta XVI:

“Aku mencintai segenggam bumi yang tak lain adalah Engkau./ Sebab padang-padang rumputnya, meluas laksana planet,/ Aku tak punya bintang lain. Engkaulah tiruanku/ Atas semesta yang berlipat ganda

Seratus soneta cinta dalam buku ini terbagi dalam empat perbedaan waktu, yaitu: Pagi terdiri dari 32 soneta (I-XXXII), Senja terdiri dari 21 Soneta (XXXIII-LIII), Petang terdiri dari 25 soneta (LIV-LXXVII) dan Malam terdiri dari 22 Soneta (LXXIX-C). Pembagian waktu ini mengungkapkan bahwa hasrat dan rasa cinta Pablo Neruda pada Matilde hadir di setiap waktu.

Sebagai gantinya, cinta Pablo Neruda ini memang pantas dialamatkan pada Matilde. Matilde yang ada di saat Pablo diusir oleh rezim Pinochet. Hingga akhir hayatnya, Matilde terus berjuang bagi suami yang pernah menuliskan seratus soneta cinta baginya

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s