Memahami kegilaan akan sepakbola

Gilanya Bola
Karya Aji Prasetyo, Cahyo Widi-W Dharmawan-Yudis, Diyan Bijac, Gina S. Noer, Tomas Soejakto, Is Yuniarto, Wahyu Hidayatz, Zarki

Terbit 24 Mei 2010 oleh Cendana Art Media | Binding: Paperback | ISBN: 9789791846271 | Halaman: 158

Editor: Beng Rahadian

RASANYA tak mungkin menghindar dari yang satu ini. Jingle piala dunia makin sering diputar di televisi. Mertuaku sudah menempel jadwal piala dunia di dekat televisi, meskipun belum satupun pertandingan bisa ditonton. Tapi anehnya lagi, kaos-kaos resmi/ilegal tim sepakbola sudah didagangkan dimana-mana, termasuk ramai di situs Kaskus. Gila benar yah.

Kegilaan lain terjadi hari Minggu lalu, 30 Mei 2010, pertandingan Arema-Persija. Sudah sejak dua minggu sebelumnya, pengasuh bayiku yang asli Malang ribet banget: cari kaos Arema dan hunting slayer. Kaos Arema yang bergambar singa barong lengkap dengan tanda tangan semua pemain Arema — tentu saja tidak asli alias cuma cetakan sablon — sudah dibelinya di bazaar dekat rumah. Tinggal slayernya. Untuk yang satu ini, dia sudah mencari di setiap pasar, setiap toko olahraga, ke Blok M Mall, ke Mampang, tapi tidak ketemu. Sampai akhirnya baru ia temukan slayer impiannya di kios-kios dadakan dekat STEKPI Kalibata, pagi hari beberapa jam sebelum pertandingan dimulai.

Lihatlah betapa keranjingannya orang untuk menonton perebutan 22 orang atas 1 bola bulat ini! Orang bisa menamakannya kegilaan, obsesif, maniak, tapi tentu saja itu hanyalah dari kacamata mereka yang melihat. Dari para pecinta bola, tidak pernah satupun keluar sebutan-sebutan itu. Semua tampak wajar, malah aneh kalau ada orang yang tak suka bola.

Memang, sepakbola adalah sebuah cabang olahraga dengan jumlah penggemar terbesar di dunia. Saat ini diperhitungkan ada sekitar 3 miliar orang yang memainkan olahraga menyepak kulit bundar itu. Bila semua dikumpulkan dalam satu negara, maka pantas disebut sebagai negara adidaya dengan disatukan oleh ideologi tunggal: sepakbola.

Bicara soal politik dan sepakbola, ada yang menarik. Coba baca buku Memahami Dunia Lewat Sepakbola Kajian Tak Lazim tentang Sosial Politik Globalisasi atau Drama itu Bernama Sepakbola Aku pikir, sudah teramat jelas bahwa sepakbola melampaui batasan dari sekedar bola bundar semata. Sepakbola dapat menjadi senjata untuk membalas dendam, alat untuk meningkatkan harga diri dan terkadang sebagai alat untuk berdiplomasi.

Mungkin kali pertama sepakbola digagas dan kemudian disebarluaskan oleh orang Inggris ke segala penjuru dunia, tak ada yang mengira kalau suatu saat nanti sepakbola akan menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang memengaruhi banyak aspek kehidupan di dunia ini.

Di Italia, orang-orang Napoli dan Italia selatan yang lebih proletar, menggunakan sepakbola untuk meningkatkan martabat mereka di mata orang-orang Italia utara yang lebih borjuis. Sebelum Diego Maradona datang ke Napoli dan segera menjadi dewa di kota itu, orang-orang Italia selatan hanya dicap sampah oleh orang-orang Italia utara. Proses kedatangan Maradona sendiri cukup unik karena hampir sebagian besar orang Napoli menyumbangkan Lira dan segala harta benda kesayangan mereka untuk membayar biaya kedatangan sang bintang dari Barcelona.

Di Uganda, saat diktator maha kejam Idi Amin masih berkuasa, sepakbola menjadi salah satu penyelamat orang-orang di sana. Seseorang bisa lolos dari maut dan hukuman para tentara sang diktator bila terbukti kalau dia penggemar sepakbola.

Sebelumnya di Piala Dunia Mexico 1986, Diego Maradona dan rakyat Argentina telah membalas “kekalahan mereka di perang Malvinas dari Inggris” lewat sebuah pertandingan sepakbola yang akan dikenang sepanjang masa. Bukan hanya lewat sebuah rivalitas dan pertarungan kelas tinggi namun juga lewat sebuah gol indah Maradona dan sebuah gol tangan Tuhan.

Kegilaan ini lama-lama menjadi hal yang tak bisa dipisahkan begitu saja. Aku ingat masa kecilku, saat membaca komik Roel Djikstra, kurang lebih sekuat dan sekelam itulah dunia sepakbola yang sesungguhnya. Mungkin karena itu, aku kurang begitu mendalami sepakbola.

Aku hanya sebatas penonton. Sebatas menyukai kegilaan ini. Ikut bergadang sesekali. Ikut pestanya setiap 4 tahun sekali. Tapi tentu saja bagian dari masyarakat Indonesia yang melantunkan doa agar kelak sepakbola Indonesia bisa mendunia. Seperti halnya doa-doa yang secara implisit terbaca di dalam komik kompilasi ini yang menawarkan cerita yang lucu (“2010”), fantastis (komiknya Is Yuniarto), sekaligus miris (“Kartu Merah untuk Kasih”). Salut untuk kerja teman-teman Akademi Samali untuk menunjukkan kecintaan mereka pada sepakbola.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s