Mencoba Mengenali Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan 1906-1966
Karya Rosihan Anwar

syahrirTerbit Februari 2010 oleh Penerbit Buku Kompas & KITLV | ISBN: 9789797094683 | Binding: Softcover | Halaman: 176

AKU hanya kenal Sutan Sjahrir sebatas nama, sedikit kiprah politiknya, dan kisah cintanya yang selalu jadi bahan obrolan yang menarik. Jujur saja, pengetahuanku akan dirinya tersisihkan dengan pengetahuan tentang Soekarno-Hatta yang lebih mudah ditemukan.

Dibanding Soekarno dan Mohamad Hatta, ketokohan Sjahrir menyimpan lebih banyak tanda tanya, apalagi termasuk salah satu tokoh yang sengaja dilupakan, padahal pada era awal persiapan proklamasi kemerdekaan Sjahrir merupakan satu dari triumvirat Indonesia di samping Soekarno dan Hatta.

Detil sejarah seperti mengapa Sjahrir dipanggil dengan nama “Bung Kecil”, aku tak pernah tahu sebabnya. Lalu bagaimana penjelasannya atas kekalahan Partai Sosialis Indonesia (PSI) di pemilu pertama tahun 1955, itu pun tidak banyak aku tahu. Pengetahuanku mengenai bapak bangsa yang satu ini, kuakui hanya sebesar secuil tai kuku. Untunglah aku bertemu buku ini di Kompas-Gramedia Fair 2010. Terus terang, yang paling menarikku adalah penjelasan bahwa di dalamnya ada 100 foto tentang Sjahrir sedari kanak-kanak hingga wafatnya. Wah, ini seperti yang lama aku idamkan. Siapa tahu pertanyaan-pertanyaan yang selama ini hinggap di kepala itu, terjawab juga.

Buku ini adalah satu dari 2 buku yang terbit 5 Maret 2010, bertepatan dengan 101 tahun Sutan Sjahrir. Di dalamnya memuat tulisan esai biografis oleh wartawan senior Rosihan Anwar dengan kata pengantar oleh sosiolog Ignas Kleden. Dilengkapi dengan seratus foto tentang perjalanan hidup Sutan Sjahrir sejak ia di besarkan di kota Medan sampai dimakamkan di Taman Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Konsepnya datang dari Jaap Erkelens, warga Belanda, yang bertahun-tahun pernah bertugas sebagai Kepala Perwakilan Badan Riset dan Penerbitan Belanda, KITLV, di Jakarta. Cita-citanya adalah menerbitkan buku foto dengan esai biografis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tentang tiga tokoh utama Revolusi Indonesia pada HUT ke-100 mereka, yakni Soekarno (terbit tahun 2001), Mohammad Hatta (terbit tahun 2002), dan Sutan Sjahrir, yang seharusnya terbit pada tahun 2009, tetapi karena beberapa kendala teknis baru terbit tahun 2010. Jaap Erkelens bertekad untuk menunjang setiap buku dengan 100 foto yang dipilih secara ketat.

Untuk buku seratus tahun Sjahrir ini, ia memerlukan dua tahun menelusuri sejumlah arsip yang menyimpan foto-foto Sjahrir. Dan, kalaupun diketemukan, pemilik arsip minta harga yang cukup tinggi untuk setiap foto yang akan dimuat sehingga memerlukan pendekatan diplomasi yang agaknya dilakukan oleh Jaap Erkelens secara efektif. Beberapa dari foto dalam buku ini berkesan sekali, seperti foto masa kecilnya yang disertai narasi bahwa ia dibesarkan dengan buku-buku, fotonya yang berdiri di samping perwakilan Belanda sehingga tampak kontras badannya bila disandingkan — suatu peristiwa yang membuatnya akhirnya dipanggil Bung Kecil, foto saat ia berpidato yang tampak sangat percaya diri, lalu sejumlah foto saat Sutan Sjahrir dibuang. Foto yang terakhir ini jarang aku lihat, termasuk juga foto saat pemakamannya.

Ada detil-detil lain, yang ditemukan lewat foto, semisal Sutan Sjahrir menghadiri pemakaman Chairil Anwar, yang tak lain masih keponakannya sendiri. Lalu, fotonya dengan beberapa perempuan yang kemudian menjadi istrinya. Ini akan jadi bahan gosip yang mengasyikkan buat diobrolkan dengan Nanto Sriyanto. Meskipun yakin ini foto-foto tua, tetapi semua foto tua ini tampak hebat, dicetak dengan kertas kualitas luks.

Terus terang aku terpesona oleh foto-foto dan pengantar dari Ignas Kleden. Luar biasa! Ia berhasil betul mengangkat sisi yang tidak banyak diketahui oleh orang awam kebanyakan dan arti penting Sutan Sjahrir bagi bangsa ini. Esai biografis Rosihan Anwar tampil dengan premis demikian: “Riwayat hidup Sjahrir, kita rumuskan premisnya sebagai berikut: Cita-cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan.” Namun kalau boleh jujur, aku pikir esai biografis Rosihan kurang lancar bercerita dan pada halaman pertengahan, sudah lari antara foto dan keterangan bercerita. Hampir-hampir menggagalkan aspek konsepsi buku ini yang dirancang akan digerakkan oleh kumpulan foto yang ada. Namun dari esai biografis inipun, aku mendapat informasi yang cukup jelas mengenai ideologi “Sosialisme Kerakjatan” yang sudah lama aku dengar tapi ternyata belum benar-benar aku dengar penjelasan detilnya dalam kerangka pemikiran Sutan Sjahrir. Lalu aku juga mendapat informasi lain, mengapa pada akhirnya tokoh ini seolah “dihapuskan” dari sejarah bangsa dengan menemukan banyak penjelasan atas keterlibatannya dalam PRRI, yang tak seperti yang selama ini aku baca atau dengar.

Buku ini, bila memang itu cita-citanya, berhasil membuatku sebagai bagian dari generasi muda berhasil mengenang Sutan Sjahrir meskipun lewat foto dan esai biografisnya. Bahkan aku mencoba mencari cara agar bisa menceritakan dirinya kepada anak-anakku kelak. Semoga saja demikian.

Sebagai tambahan informasi, buku kedua yang terbit 5 Maret 2010 adalah cetak ulang Mengenang Sjahrir yang pernah terbit tahun 1980. Hanya saja kini ada pencantuman subjudul yang tidak ada pada edisi aslinya: “Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan”. Agak aneh subjudulnya, karena menurutku makin banyak orang yang tahu Sutan Sjahrir. Pengikutnya seperti tak surut jumlahnya, paling tidak aku kenal beberapa orang diantaranya.

Hal lain yang cukup mencuat selama aku membaca buku ini adalah buku ini mampu memberikan cermin sejarah bahwa politik Indonesia tidak selamanya tampak bodoh dan jorok seperti belakangan hari ini. Tidak terjadi misalnya perkawinan antara penguasa dan pengusaha seperti yang dipertontonkan secara mencolok: presiden dan Sekber Koalisi di tangan Aburizal Bakrie — sedikit mengingatkan pada pola hubungan Sekber Golkar dan Orde Baru. Sjahrir adalah contoh politikus negarawan yang patut dianut karena ia meletakkan kepentingan bangsa lebih besar daripada apa yang diusung partainya dan dirinya sendiri. Gagasan-gagasan politiknya, yang pada dasarnya antifasisme, antikolonialisme, antifeodalisme, dan membela politics of value mencuat dalam kerja-kerja yang dilakukannya. Tentu saja, apa yang ada sekarang di Senayan dan Istana sana semakin jauh dari konstruksi politik Sjahrir karena instrumen yang ada justru dijadikan alat untuk melegitimasi segala tindakan atas nama adat, budaya, tradisi, yang bercampur baur dengan keyakinan dan agama untuk menegaskan perbedaan antara satu dengan yang lain.

Rating: 4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s