Jika tak mampu membelinya, curi…

The Man Who Loved Book Too Much
Karya Allison Hover Bartlett

Terbit April 2010 oleh Pustaka Alvabet | ISBN: 9789793064819 | Binding: Paperback | Halaman: 300

Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Editor: Indradya Susanto Putra

PENCURI BUKU? Aku adalah salah satunya. Cukup sering malah. Tidak ada pembenaran untuk itu. Kalau ditanya apa alasannya? Aku sering bingung. Kalau kujawab digerakkan karena rasa ingin tahu, sepertinya aku bisa saja membacanya sampai selesai di perpustakaan atau pinjam dari teman. Kalau dikatakan ingin memilikinya untuk dipamerkan seperti yang dilakukan John Charles Gilkey seperti dalam buku ini, aku pikir tidak juga. Aku tidak begitu suka memamerkan apa yang aku punya. Tapi aku tahu apa alasan yang sering aku gunakan untuk pembenaran diri. Kira-kira bunyinya demikian: Buku itu sendiri yang “minta untuk dicuri”. Aku hanya mengabulkan permintaannya.

Dari hasil mencuri, aku pernah punya satu set buku karangan John Earl Steinbeck mulai dari karya klasiknya The Pearl hingga The Grapes of Wrath yang memenangkan nobel. Pemicunya karena aku suka terjemahan Djokolelono atas karya Steinbeck berjudul Tortilla Flat yang diterbitkan Pustaka Jaya dengan judul Dataran Tortilla. Sayang (mungkin ini juga bukan kata yang tepat karena sebenarnya bukan milikku), buku yang dicuri itu akhirnya berakhir dicuri orang juga. Baru belakangan ini aku mengumpulkan lagi –tanpa mencuri tentu saja– dan mendapatkan semua karya John Steinbeck termasuk Diintai Bentjana yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1958, sudah dicetak ulang dengan judul Manusia dan Tikus belakangan ini.

Iseng-iseng aku mencoba mencari kisah sejenis di internet. Ternyata ada fakta-fakta yang menarik. Misalnya Perpustakaan Kota Malang, Jawa Timur, selama kurun waktu 2007-2009 telah kehilangan sekitar 32 ribu eksemplar buku atau sekitar 20 persen dari total koleksi sebanyak 128.000 buku yang ada di perpustakaan tersebut. Bayangkan kalau pencurinya hanya satu orang, mungkin dia membutuhkan lebih dari satu rumah untuk menampung buku demikian banyaknya. Lalu ada lagi kisah pencurian buku yang cukup ramai beritanya tahun lalu, dicurinya naskah buku Api Sejarah jilid II. Entah, apakah sekarang sudah tertangkap pencurinya atau belum.

Namun semua itu tidak dapat mengalahkan ketercenganganku atas kisah non-fiksi yang ditulis Allison H. Bartlett tentang John Charles Gilkey si pencuri buku dan Ken Sanders si agen dan detektif buku yang menyebut dirinya sendiri “bibliodick”. Antara tahun 1997 sampai 2003, John Gilkey dengan modal catatan atas transaksi tumpukan kartu kredit di tempat perbelanjaan Saks, tempatnya bekerja, melakukan penipuan kartu kredit untuk membeli buku-buku yang langka, terutama yang ada dalam daftar “100 Buku Terbaik”, kira-kira seharga lebih dari 100.000 USD. Kisah pencuriannya sendiri tidak spektakuler, malah cenderung biasa. Kisah yang lebih menarik ada pada kisah Ken Sanders dan teman-temannya. Mereka adalah agen buku/penjual buku langka, yang mendedikasikan diri untuk memperjualbelikan buku-buku kepada para kolektor. Ken Sanders sendiri pernah menjadi Ketua Keamanan ABAA, asosiasi penjual buku antik, selama periode kejahatan John Gilkey, menjadi orang yang berhasil menangkap dan memenjarakan John selama 3 tahun atas kejahatannya. Kisah mereka berdua dituliskan dalam bentuk in-depth investigation dengan serangkaian vignette menarik yang berpusat pada pertanyaan pokok: akankah kesukaan pada buku bisa berujung pada kegilaan? Seperti kisah seorang pendeta yang menusuk orang yang mengalahkannya pada lelang berulang-ulang dan membunuh 9 lainnya hanya karena ingin menjarah perpustakaannya. Pertanyaan ini terus-menerus diajukan oleh Allison di dalam bukunya, menggambarkan betapa tipis jarak di antaranya.

Aku suka buku ini. Ada sejumlah sebab mengapa aku tercengang atas buku ini dan hampir menobatkannya sebagai buku yang “berhasil mencuri perhatian tahun 2010”:

Dalam acara Booksmith di San Fransisko (videonya bisa dilihat di sini), Allison berkali-kali menegaskan bahwa yang ia ditulis adalah buku non-fiksi tentang pencuri buku. Inilah yang aku pikir menjadi daya pikat utamanya. Berapa banyak buku non-fiksi tentang pencurian buku? Apa yang ditawarkan buku ini selain kisahnya, tetapi juga orang yang menjadi sumber kisah ini masih hidup dan tetap berkeliaran “menghantui” semua kolektor dan agen buku di Amerika.

Hal kedua yang layak mendapat pujian adalah cara tutur Allison. Aku pikir ini adalah kepiawaian seorang penulis in-depth investigation menuturkan kisah yang demikian tegang ke dalam tulisan yang mengalir dan dapat menarik pembacanya untuk tak melepaskan buku ini buru-buru dari tangannya. Karena selain kisah si pencuri buku yang eksentrik ini — nyaris tidak masuk akal dan isi otaknya kacau — Allison menawarkan informasi yang luar biasa: mulai dari deretan harga buku-buku edisi pertama langka yang bisa menembus angka ratusan ribu dolar hingga cerita-cerita mengenai kolektor buku. Salah satu yang aku ingat luar kepala adalah kisah tentang seorang ahli botani Fitzpatrik yang harus tidur di dapurnya sendiri karena rumahnya penuh buku dan pada saat kematiannya berhasil mengumpulkan buku lebih dari 90 ton buku (1 ton = 1000 kilogram) sehingga jumlah beban buku itu mengalahkan beban yang sanggup ditampung oleh rumahnya sendiri.

Ketiga, kisah yang ditawarkan unik. Di awal kita disuguhi pesona koleksi John Gilkey, lalu kegigihan Ken Sanders untuk menangkapnya, namun terakhir kita sebagai pembaca harus ikut juga menilai apakah Allison turut serta “bersalah” karena ia tahu informasi yang tak seharusnya ia simpan. Buku ini, dalam kacamataku, menjadi dekat, menjadi personal, tidak berjarak. Padahal, aku harus ingatkan lagi, ini buku non-fiksi. Berapa banyak buku non-fiksi yang bisa menawarkan hal seintim ini?

Mengenai terjemahan yang dilakukan Lulu Fitria Rahman dan supervisi Pustaka Alvabet, aku pikir mereka sudah cukup serius mengerjakannya. Aku tidak menemukan masalah yang berarti atas kualitas terjemahannya dan yang aku senang adalah buku ini nyaris tanpa kesalahan cetak/tanda baca.

Lalu apakah buku ini layak untuk “dicuri”? Aku mengutip saja slogan yang dianut oleh para anarkis: “Jika tak mampu membelinya, curi!”

Catatan penting sebelum mencuri: Mencuri buku merupakan tindakan kriminal. Di Bandung, Lili Amalia nekat mencuri buku di masjid Baitul Ruhiyat Komplek Bahagia Permai, Buahbatu, September 2009. Selain Al-Qur’an, Amalia mencuri beberapa buku, antara lain: Ensiklopedia Al-Qur’an, Syaamil Al-Qur
an, Terjemahan Nailul Authar, Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Ringkas Hadist Shahih Al-Bukhori, buku Musa vs firaun, buku Tokoh-tokoh yang diabadikan Al-Qur’an, Bulughul Maram, dan Tafsir Fi Zhilalil Quran.

Modus pencurian dilakukan Amalia dengan berpura-pura menjadi jemaah masjid yang akan menumpang shalat. Setelah dirasa aman, ia mencongkel paksa lemari masjid dengan obeng yang telah disiapkannya. Karena tidak punya pengalaman mencuri, aksi pertamanya itu dipergoki pengurus masjid, sehingga Al-Qur’an itu tak jadi dibawa pulang. Ia kemudian divonis 6 bulan. Jadi, mencuri buku jelas tindakan pidana.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s