Mencecap Folklor Rasa Science-Fiction

Kemamang
Karya Koen Setyawan

Terbit Desember 2009 oleh Goodfaith | Binding: Paperback | ISBN: 9786026900 | Halaman: 317

PADA buku Kemamang yang ditujukan padaku, Koen Setyawan menulis ini, “Do you believe?” He? Kok tumben sekali mengutip sebuah pertanyaan. Pertanyaan itu biasanya ditujukan sebagai sapaan para ufolog kepada orang awam. Pertanyaan retorik yang sugestinya justru semakin menegaskan akan eksistensi kecerdasan dan mahluk lain di luar manusia. Apakah Koen Setyawan penganut ufologi?

Tentu saja pertanyaan ini wajar, mengingat yang menggilai UFO/Unidentified Flying Object bukan semata orang luar. Paling tidak di Indonesia ada dua organisasi ufologis yang cukup disegani, yakni BETA-UFO dan UFONESIA.

BETA-UFO adalah salah satu yang cukup mudah diamati kegiatannya, yang mendasari keinginan mereka agar masyarakat luas mendapat pengetahuan lebih tentang UFO. Komunitas lain juga ada, sebut saja: SUFOI (Studi UFO Indonesia), OMEGA (Organisasi Masyarakat Eksplorasi Gejala Antariksa), SCUFOS didirikan Hary Iswanto pada 10 April 1995, Grey Race Foundation didirikan dan dikelola Fan Fan Darmawan, IUFOH (Indonesia UFO Hunter) didirikan Hasraldi, dan UFO Indonesian Community dibentuk oleh Michael Gumelar. Komunitas- komunitas ini dibentuk bukan karena latah, tetapi (ini yang jarang orang ketahui) lahir lantaran banyaknya kasus penampakan UFO atau BETA (Benda Terbang yang Aneh) yang terjadi di Indonesia.

Ketua BETA-UFO Nur Agustinus bahkan melansir Jakarta, Bandung, dan Cirebon adalah segitiga pemunculan UFO. Di situsnya (http://www.betaufo.org/id/), Komunitas BETA-UFO menyatakan bahwa selama tahun 2007 ada 32 laporan penampakan UFO di Indonesia yang 11 di antaranya terjadi di wilayah Jabodetabek. Sebagian di antaranya tidak berupa berkas cahaya. Sementara itu, sepanjang 2008 tercatat ada 34 laporan tentang penampakan BETA-UFO dari seluruh Indonesia dan 13 di antaranya terjadi di wilayah Jabodetabek. Untuk tahun 2009, bahkan mereka menyediakan tabulasi kemunculan yang bisa diunduh untuk umum.

UFONESIA kurang lebih bergiat di bidang yang sama –meskipun diembel-embeli sebagai lembaga peneliti independen. Agak berlebihan soal ‘independen’-nya mengingat pemerintah Indonesia tidak pernah membentuk satu tim khusus untuk menyikapi kemunculan UFO– dan sedikit menambahkan bahwa di tahun 2009 jumlah penampakan UFO agak berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Bila Anda berpikir para ufolog di Indonesia ini ‘orang-orang baru’ dan ‘amatir’, barangkali ada baiknya sedikit mengulas sejarah keberadaan mereka. Bermula pada tanggal 30 Juni 1979, bertempat di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta. Kala itu digelar sebuah ceramah berjudul “UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini”. Penyelenggaranya adalah Yayasan Idayu dengan pemateri Marsekal Muda TNI J. Salatun. Perwira Tinggi TNI-AU ini diminta untuk membahas masalah UFO mengingat karya-karyanya di dalam merintis masalah UFO di majalah Angkasa, hingga tulisan-tulisan di dalam majalah-majalah UFO luar negeri. Bahkan perwira tinggi tersebut telah ditunjuk oleh menteri luar negeri pada saat itu, Adam Malik, untuk mengawal tokoh penelitian UFO kaliber internasional Prof. Dr. J. Allen Hynek yang berkunjung ke Indonesia pada penghujung tahun 1976.

Nama yang disebut terakhir adalah Direktur Observatorium Darborn, dekat Detroit, yang semula menolak adanya UFO sebagai kenyataan, akan tetapi setelah penyelidikan-penyelidikannya, dia mengubah sikapnya mulai tahun 1965, karena sangat banyaknya laporan-laporan terperinci yang disampaikan kepadanya. Dan beberapa tahun kemudian, dia menyatakan pendapatnya secara resmi bahwa “piring terbang” memang benar-benar ada dan bahwa benda itu merupakan kendaraan angkasa luar, yang datang dari dunia lain yang juga berpenghuni. Malahan lebih daripada itu, dalam tahun 1972, di Universitas “Northwestern”, dia mengadakan kursus pertama di dunia mengenai UFO.

Salah satu ajaran Prof. Dr. J. Allen Hynek adalah pengklasifikasian penampakan UFO:
* Perjumpaan jarak jauh (Relatively Distance Sightings): Melihat UFO dari jarak yang sangat jauh, sehingga UFO terlihat hanya seperti titik kecil saja seperti bintang di langit. Namun karena gerakannya yang aneh serta fenomena yang ditampakkan tidak umum, maka benda terbang itu termasuk kategori UFO.

Perjumpaan jarak jauh dibagi dalam 3 tipe yakni:
1. Nocturnal lights (NN): Nampak seperti titik sinar di langit, umumnya berwarna merah, biru, oranye atau putih, dengan pola gerak dan kecepatan yang sulit dijelaskan sebagai obyek sinar lain pada umumnya
2. Daylight discs (DD): Nampak di siang hari, umumnya berbentuk oval (bulat telur), bentuk piring, atau obyek berbahan metalik. Bisa nampak jauh di angkasa maupun berada dekat di tanah dan seringkali nampak mengambang. Kadang tiba-tiba bisa menghilang dengan kecepatan yang luar biasa.
3. Radar-Visual cases (RV): Kasus yang jarang dilaporkan, yakni nampak di layar radar berupa titik berkedip yang tidak dapat diterangkan sebagai obyek pesawat atau benda lain yang dikenal. Biasanya harus disertai dengan konfirmasi penampakan melalui saksi mata.

* Perjumpaan Jarak Dekat (Close Encounters)
Yang terbagi menjadi beberapa tingkatan, yakni:
1. Perjumpaan dekat tingkat pertama (CE-1): Melihat UFO sedang terbang dalam jarak yang relatif cukup dekat sehingga cukup jelas untuk melihat bentuknya.
2. Perjumpaan dekat tingkat kedua (CE-2): Melihat UFO sedang dalam posisi mendarat di permukaan tanah, umumnya ditunjang dengan bekas-bekas pendaratannya.
3. Perjumpaan dekat tingkat ketiga (CE-3): Melihat UFO mendarat serta terlihat pula ufonaut (alien) yang sedang turun atau berada di luar pesawat mereka.
Ada lagi tingkatan keempat dan kelima yang dikembangkan oleh para penerus Allen Hynek adalah penculikan (CE-4) dan berkomunikasi dengan alien lewat kontak telepati (CE-5).

Kembali ke pertanyaan pertama: apakah Koen Setyawan seorang ufolog? Apakah cukup ilmiah cerita yang ia ajukan?

Bila kita hati-hati mengikuti petualangan tokoh Hari dan Panji hingga akhir, maka di awal cerita kita disodorkan tafsir cukup berani dari penulis bahwa legenda “kemamang” sesungguhnya adalah fenomena BETA/UFO. Lalu hingga setengah cerita diceritakan bahwa Hari dan Panji bukan saja mengalami perjumpaan (CE-3) bahkan di akhir baik Hari dan Panji sudah mencapai tingkatan CE-5 saat mereka bertelepati dengan para mahluk asing itu. Wow! Ini bahkan dalam sejarah penampakan UFO di Indonesia sekalipun belum pernah ada kejadian CE-5. Memang pernah beberapa kali kejadian CE-4, tetapi tidak ada CE-5. Yang paling terkenal adalah kejadian pada Sudjana Kerton, seniman Indonesia yang diculik UFO (CE-4). Sampai tahap ini, aku berhenti mempercayai Koen adalah seorang ufolog. Bagiku, ia adalah penulis fiksi yang berfantasi tentang UFO.

Maka aku mulai membaca karya Koen Setyawan dengan cara lain, dari sisi folklor, yang terutama adalah mitologi di seputar “kemamang”. Brinsley Le Poer Trench menulis, “Mitologi bila ditulis secara tepat merupakan sejarah yang diringkas dan bersifat sejajar. Ada semacam kebenaran yang tersembunyi di belakang sebuah ceritera kuno, mempunyai ar
ti dan makna yang lebih luas daripada arti sejarahnya sendiri”. Terhadap mitologi dan dongeng-dongeng, kita harus lihat dalam sudut pandang baru.

Begitupula dengan cerita rakyat tentang “kemamang”, yang mencuat di daerah Gunung Lima, Pacitan, Jawa Timur. Saat itu, di tanggal 13 Desember 1969 jam 22.10 WIB terlihat sesuatu yang bulat, bergaris tengah kurang lebih 5 meter, berpendar merata dan berwarna biru. Ia mengambang 10 meter di atas tanah. Menurut cerita penduduk, daerah dari Gunung Lima ke timur sampai Lorok memang menjadi tempat timbulnya gejala-gejala cahaya aneh, tidak hanya seperti yang disebut tadi, tetapi ada pula yang seperti api unggun yang kadang-kadang berhenti, kadang-kadang melompat-lompat baik secara horisontal maupun vertikal dan yang dinamakan “obor setan”. Gejala tersebut rupa-rupanya bersifat musiman. Ada pula gejala lain yaitu yang dari jauh bersinar sangat terang seperti sinar lampu petromaks, dan pernah pada malam-malam tertentu berterbangan sampai ratusan jumlahnya. Mereka menyebutnya “kemamang” atau semacam roh halus.

Cerita yang kurang lebih mirip juga terjadi tahun 1971 di daerah Gunung Lawu. Saat itu ada UFO berbentuk cakram terlihat di siang hari, mendarat dan terbang kembali, sekitar 1 mil dari danau buatan Telaga Sarangan. Warnanya keperakan dan berbentuk seperti piring dengan bulatan kubah di atasnya dengan bahan material tembus cahaya. Diameternya sekitar 10 hingga 15 meter, dibandingkan dengan bekas pendaratannya yang berdiamater sekitar 25 meter. Di bagian bawah UFO itu ada sinar yang kuat menyorot ke bawah, yang berubah warna tiap detiknya. Warnanya seperti warna pelangi. Pada waktu yang bersamaan, cahaya yang berputar juga terlihat di bagian kubah. Penduduk setempat menyebut kejadian itu sebagai “ndaru.” (Sumber: Sign Historical Group Workshop Proceeding I, 1999, J. Salatun) Di daerahku, Yogya, barangkali disebut dengan “banaspati”.

Aku suka sekali bagian saat Panji dan Hari menuding tabiat masyarakat kita untuk mengatakan segala sesuatu yang tidak rasional itu merupakan ulah roh halus, setan, atau jin. Tidak ada upaya untuk mencari kemungkinan lain, yang barangkali lebih bisa diterima oleh akal sehat. Karena bagian itu, menjelaskan dengan baik, dan bila hal itu diterima sebagai sebuah “batu lompatan” maka barangkali Indonesia memiliki cerita-cerita UFO yang sumbernya justru bisa digali dari folklor yang berkembang di tiap daerah, mulai dari mitologi, cerita rakyat, hingga lainnya. Itu baru tentang UFO.

Lewat buku terdahulunya, Giganto, Koen Setyawan sudah membuktikan bahwa kisah-kisah tentang kriptid bisa juga ada dan tercatat dalam cerita-cerita lisan masyarakat pedalaman di seantero Indonesia, yang direpresentasikannya lewat Julag dan hubungannya dengan Gigantopithecus. Pandangan fiksi ilmiah yang cukup menarik dan perlu diteruskan.

Hanya saja, Koen harus lebih sedikit berhati-hati berbicara tentang UFO, paling tidak, perlu lebih dilengkapi datanya agar lebih ilmiah lagi. Penulis dan editor juga harus memperhatikan cerita di halaman 270-an, saat pak Lurah berlari ke arah Panji dan Hari, ternyata ada logika yang keliru tentang Budi. Budi sebelumnya sudah disebut datang ke arah mereka bersama pak Lurah, akan tetapi di halaman-halaman berikutnya, Budi tiba-tiba datang lagi dengan terhuyung-huyung sendirian. Ada berapa Budi sesungguhnya di cerita ini? Ini merupakan “lubang” yang harus segera diperbaiki agar cerita berjalan mulus hingga akhir.

Aku suka pada imajinasi yang ditawarkan, terutama bagian akhirnya, yang sedikit mengingatkanku akan cerita “War of The Worlds” yang sempat mengguncang teror di seluruh Amerika.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s