Ketika Kematian Dikalahkan oleh Kenangan

Mengenang Hidup Orang Lain: Sejumlah Obituari
Karya Ajip Rosidi

Terbit Januari 2010 oleh Kepustakaan Populer Gramedia | Binding: Paperback | ISBN:

9789799102225| Halaman: 417

SEMAKIN hari rasanya aku makin mengakrabi kematian. Pergumulan personal akan kematian memberi suatu pemahaman bagiku bahwa kematian tidak perlu ditakuti dan justru perlu disyukuri, karena niscaya semua orang hidup akan menghadapi kematian tanpa kecuali.

Namun lewat pergumulan itu pula aku tahu bahwa kematian tidaklah sepenuh-penuhnya membuat orang ‘hilang’. Adapun kenangan yang dimiliki seseorang atau sekumpulan orang selalu membuatnya tetap hidup. Salah satu bentuk kenangan seseorang atau sekumpulan orang akan hidup manusia yang punya peran penting adalah obituari.

Obituari sebenarnya tak lebih dari berita duka cita atas meninggalnya seseorang yang seringkali ditambahkan narasi dari seseorang atau sekumpulan orang akan hidup seseorang yang dirasa signifikan, yang baru saja meninggal. Obituari membuat kenangan akan seseorang terus-menerus hidup. Malah dapat dikatakan demikian: “kematian telah dikalahkan oleh obituari”.

Di Indonesia selain Rosihan Anwar, salah seorang penulis obituari yang cukup sering aku temui adalah sastrawan Ajip Rosidi. Ajip selalu menulisnya secara personal, berdasarkan kenangan yang ia miliki akan seseorang itu selama ia hidup.

Di buku Mengenang Hidup Orang Lain, Ajip Rosidi menghadirkan kisah-kisah nyata tentang hidup sejumlah tokoh yang ia kenal selama hidupnya. Beberapa tokoh yang ditulis aku kenal (bahkan dengan baik), tetapi ada juga yang tidak. Bagiku, bukan masalah kita mengenalnya atau tidak, tetapi lewat membaca obituari hidupnya, kita menjadi punya gambaran bagaimana laku-hidup seseorang itu semasa hidupnya.

Salah satu yang aku kenal hidupnya adalah sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Meskipun sering mendengar langsung kisah hidupnya dari Bung Pram sendiri semasa hidup atau keluarganya, namun tetaplah aku terkagum-kagum pada cara Ajip menceritakan siapa Pramoedya sebenarnya. Dalam judul “Pramoedya Individualis Sejati”, aku menemukan sosok Pramoedya yang jauh dari hingar-bingar kepolitikan, sesuatu yang cocok dengan pengalamanku saat bertemu dengannya semasa hidup.

Pramoedya memang bukanlah seorang komunis, yang lekat dengan ajaran Marxisme-Leninisme. Ia lebih senang disebut Pramis, karena buatnya lebih berlaku prinsip hidupnya sendiri ketimbang prinsip hidup yang dipatokkan oleh orang lain. Pramoedya yang keras kepala, yang hingga akhir hayatnya selalu tak bisa lepas dari rokok (yang membunuhnya pelan-pelan) dan nutrisari, meskipun gula darahnya sudah mencapai angka 600-an. Itu kenanganku. Namun Ajip Rosidi mampu mengimbuhkan lewat obituari yang dituliskannya sejumlah hal yang aku tahu cuma sepotong-sepotong semisal kesusahan hidup Pramoedya sewaktu muda, detil kisah cintanya dengan istri-istrinya dan lainnya.

Misalnya ia imbuhkan perihal kejadian saat Pramoedya mendirikan biro penulisan naskah, yang ternyata tak cukup sukses hingga Pramoedya harus morat-marit menghidupi keluarganya. Hingga satu kali, Pramoedya mengetuk pintu rumah Ajip Rosidi karena kelaparan. Ia sudah tidak makan berhari-hari dan minta nasi. Ajip yang hanya punya nasi dingin, akhirnya memberikan pada Pramoedya yang dengan lahap menyantap nasi itu berlaukan mentega saja. Atau imbuhan lain, saat Pramoedya mendekati Maimunah. Ternyata Maimunah bersama kakaknya dan Ajip Rosidi, yang saat itu tugas jaga di Gunung Agung! Jadi selama ini, Ajip-lah yang berperan menjodohkan keduanya.

Pada obituari mengenai Rendra, aku temukan imbuhan lain yang cukup menjelaskan, terutama soal perpindahan agama Rendra, lalu niatnya kawin lagi dengan Sitoresmi, dan kemudian Ken Zuraida. Semuanya aku anggap sebagai kenangan yang secara jujur disampaikan Ajip Rosidi akan diri mereka selama hidup.

Aku pikir kenangan-kenangan yang ada di dalam buku ini cukup menyenangkan dibaca meskipun tentu saja kita tidak dapat lepas dari sudut pandang personal Ajip Rosidi yang bisa jadi tidak sebangunan dengan kenangan yang kita miliki. Biarlah lewat kenangan-kenangan yang kita miliki ini mereka terus ‘hidup’.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s