Rasanya Seperti Baru Kemarin Membaca Bumi Manusia

Bumi Manusia
Karya Pramoedya Ananta Toer

bumaTerbit 1980 oleh Hasta Mitra | ISBN: 9798659120 | Binding: Paperback | Halaman: 408

2010

RASANYA seperti baru kemarin, saat aku diam-diam membuka lemari tanteku di Madiun, lalu membawa novel Bumi Manusia ini ke dalam kamar seraya sembunyi membacanya. Sembunyi, mungkin itu kata yang tepat, karena memang belum begitu lama Bumi Manusia dinyatakan sebagai bacaan terlarang di Indonesia karena dituding membawa paham Marxisme-Leninisme dan Komunisme. Mungkin dengan dibaca sembunyi itu juga, kupikir aku bisa sedikit merasakan saat Bumi Manusia ditulis Pramoedya dengan sembunyi-sembunyi di Pulau Buru pada tahun 1975.

Rasanya juga seperti kemarin, Minke duduk berhadapan denganku, bertukar pikiran soal menjadi orang Jawa. Lewat dirinya, kutangkap sebuah sikap bahwa ada ketidakadilan dan penghinaan di balik kultur feodalisme Jawa. Sikap yang mungkin ditangkap sebagai pemberontakan, tampak jelas di satu adegan dimana ia harus bersimpuh di depan ayahnya sambil mengutuk dalam hati.

1981

Kubaca bagian ini dengan terperangah:

“Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demu tahun kebelakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu….Sembah–pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.”

Ritual Jawa yang membalut manusianya, dalam semangat kefeodalan tokh sampai hari ini masih bisa kita lihat bukan? Atau barangkali kita laksanakan? Feodalisme, begitu burukkah?

2010

Aku belajar kemudian pada tahun 1997 dalam studi-studi Gerakan Sosial, bahwa dulu feodalisme ditunjukkan dengan sikap jumawa bagai raja, permaisuri, putri dan pangeran. Sikap angker kalangan ningrat. Sikap anggun dan kecongkakkan, terutama pada kalangan rakyat jelata yang dianggap kastanya berada satu level di bawahnya, baik dari segi warna darah yang dinyatakan hiperbolis berwarna biru, sedang darah rakyat berwarna merah kecoklatan, maupun dari segi status sosial. Dalam feodalisme, ada kotak kekal yang tidak bisa dilangkahi: kelas raja atau pamong praja (government) dan kelas rakyat jelata (the governed). Pengkotakan ini berlaku selamanya. Artinya, kotak itu sejati, mengikat sampai turun-menurun. Negara, dalam sistem ini, adalah milik kalangan ningrat yg berdarah biru dan adalah kewajiban rakyat berdarah merah coklat tua itu untuk tunduk dan selalu bertekuk lutut di depan kaki para ningrat.

Kalaupun kemudian, feodalisme digerus oleh bangkitnya kesadaran akan hak-hak yang sama, yang tonggaknya dimulai dari Revolusi Perancis hingga mendunia, tokh sampai hari ini sisa-sisa kebudayaan feodal itu masih kita lihat bukan? Sebagai ganti raja, kita patronkan Lurah, atau orang-orang penuh kuasa yang mengatur orang sekitarnya dengan uang. Dalam hal lain, feodalisme kekal dalam bentuk-bentuk budaya yang coba dipertahankan, misalnya dalam perayaan pernikahan adat Jawa.

Salah satu yang mengganggu dalam pernikahan adat Jawa, misalnya saat istri diminta membersihkan telor ayam yang suami pijak dengan kakinya yang kotor. Itu benar-benar penghinaan, perendahan hakikat perempuan. Mungkin itulah sebabnya Minke ingin menyelami sikap dan pemikiran kehidupan seorang nyai, istri simpanan seorang Belanda, yang pada masa itu dipandang rendah oleh masyarakat dan tidak punya hak di sisi undang-undang. Nyai Ontosoroh, ibu dari Annelies, perempuan yang kepadanya cinta Minke akhirnya tertambatkan.

Bumi Manusia bertutur tentang perjalanan hidup seorang anak pribumi bernama Minke, cerminan pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakan pada jaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama. Kisahnya berlatar Indonesia jaman penjajahan Belanda, antara tahun 1898 hingga 1918, di mana seorang anak pribumi dipandang rendah dan tidak setaraf dengan bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda.

Kisah cinta antar-ras menjadi pengikat roman ini, yang diakhiri dengan kekalahan sang tokoh dan upayanya untuk berjuang melawan sistem peradilan yang timpang. Kebanggaan pada Eropa itu pada akhirnya menjadi sebuah tragedi. Ia harus tunduk kepada hukum Belanda, yang tidak hanya menginjak harga dirinya tapi juga merampas haknya.

2007

Aku berdebar menantikan pagelaran teater Nyai Ontosoroh hari ini. Bukan debur itu karena Happy Salma yang akan memainkannya, tetapi karena fisik Nyai Ontosoroh itu akhirnya mawujud di depanku, meskipun dalam bentuk teater.

Nyai Ontosoroh adalah figur penting dalam Bumi Manusia. Lewat Nyai Ontosoroh, kontradiksi antara nilai timur dan barat tarik-menarik begitu kuat. Ontosoroh adalah seorang perempuan Jawa, dijual oleh ayahnya demi sebuah jabatan. Seorang gundik yang lebih terpelajar dari Bupati berkat tuntunan Tuan Mellema. Nyai Ontosoroh mengutuk nasibnya, namun menolak untuk dipanggil Mevrow (nyonya) dan selalu meminta untuk dipanggil Nyai (panggilan untuk gundik). Karakter ini penuh dengan kegetiran. Penekanan akan sebutan Nyai menunjukkan sifat terpelajarnya yang membuat dirinya sadar akan kedudukan sosial, tapi menurutku dengan meminta untuk dipanggil Nyai, ia juga mengingatkan dirinya sendiri akan nasibnya yang sungguh mengenaskan.

Nyai Ontosoroh membenci “Jawa” yang selalu menunduk-nunduk dan menjilat untuk mendapatkan kedudukan, namun ia pun jijik pada “Belanda”, gurunya, yang kemudian menjadi gila dan mentelantarkan dirinya dan keluarganya. Nyai Ontosoroh membenci “Jawa” yang mengutuk kedudukannya sebagai gundik, namun ia pun membenci “Belanda” yang tidak mau mengakui dirinya sebagai ibu sah anak-anaknya dan menghormati dirinya sebagai seorang manusia terpelajar yang fasih berbahasa Belanda hanya karena dirinya seorang gundik, seorang budak.

2010

Sampai hari ini aku masih menyayangkan perlakuan semena-mena terhadap buku ini. Dimana bagian yang menyangkut soal ideologi marxisme? Justru karya ini sarat pesan kemanusiaan serta pembelaannya terhadap harkat dan martabat manusia. Bumi Manusia adalah kristalisasi kesadaran sebuah bangsa yang berupaya keluar dari “kepompong”-nya. Minke adalah sosok gelisah, namun ia menuai kesadaran bahwa bila ia keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, ia memproyeksikan kebanggaan berbangsa.

Bumi Manusia, meskipun bersetting abad ke-19, sesungguhnya masih relevan pada situasi masa kini. Saat bangsa ini masih goyah akan kebangsaannya sendiri, masih tarik-menarik antara dua kekuatan besar: feodalisme di satu sisi dan modernisasi, saat dimana sejumlah orang memiliki kendali begitu besar pada mayoritas, menuliskan peraturan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu hanya karena mereka berada dalam posisi yang bisa menggunakan kekuatan untuk menekan yang marjinal.

Sampai hari ini, aku belum menyesali bahwa aku membaca Bumi Manusia milik tanteku di usia yang begitu muda, di tahun 1981, di kamar secara sembunyi-sembunyi.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s