Membincangkan Bunuh Diri Dalam Teks 9 dari Nadira

9 Dari Nadira
Karya Leila S. Chudori

Terbit Oktober 2009 oleh Kepustakaan Populer Gramedia | ISBN:

9789799102096 | Binding: Paperback | Halaman: 270


AKU menikmati karya fiksi 9 dari Nadira ini dengan cara sedikit berbeda. Sesuai dengan sifatnya sebagai kumpulan cerita pendek, dan karena tegas-tegas ditolak oleh Leila S. Chudori sebagai novel, maka ada cara unik untuk membincangkan 9 dari Nadira ini. Pembaca bisa mulai dari mana saja, tetapi semuanya bermuara dari satu kejadian penting yang kemudian menggelundung laksana bola salju: ibu Nadira bunuh diri di kamar mandi dengan cara minum racun. Seolah-olah tanpa peristiwa bunuh diri ini, 9 dari Nadira ini tidak akan berwujud atau terlahirkan dari tangan dingin si penulis.

Perihal bunuh diri ini menarik. Karena jika kita ingat-ingat lagi karya-karya sastra Inggris klasik hingga modern, tampaknya bunuh diri marak kita temui, malah boleh dibilang menjadi unsur penguat utama dalam narasi. Dengan bunuh diri, pengarang dapat menggambarkan penyimpangan, cinta, rasa hormat, dan kehilangan. Apakah bunuh diri itu digunakan sebagai aksi ultim atau hasil depresi berkepanjangan, bunuh diri menjadi konteks yang menguatkan teks yang hendak dinarasikan. Meskipun perihal bunuh diri ini tentulah layak diperdebatkan, namun tindakan bunuh diri ini memiliki kemampuan untuk menciptakan kontroversi di dalam hidup. The Awakening karya Kate Chopin memicu kontroversi saat diterbitkan tahun 1899. Toni Morrison meraih ketenaran lewat novel berlatar bunuh diri juga lewat Beloved.

Di Indonesia, amat jarang bunuh diri hadir dalam teks sastra. Padahal di luar sastra, seolah-olah ada tali tak kasat mata yang menjembatani fiksi dan realita, terjadi fenomena bunuh diri di masyarakat kita. Bila sebelumnya, fenomena itu kebanyakan dipicu oleh rasa putus asa sejumlah besar pelajar berkaitan dengan dunia pendidikannya: biaya sekolah, stres karena Ujian Nasional, tidak lulus UN, maka yang terjadi belakangan ini berkaitan dengan bunuh diri di tempat keramaian: di mal, di jembatan, di tiang antena jaringan televisi atau BTS. Bunuh diri dapat muncul oleh beragam sebab.

Dalam studi sosiologi klasik, teori Emile Durkheim yang paling sering dikutip. Dalam Suicide, Durkheim mengelompokkan fenomena bunuh diri menjadi tiga kelompok, yaitu egoistik, altruistik, dan anomik. Teori lain tentang bunuh diri adalah bunuh diri absurditas, bunuh diri eksistensialis, bunuh diri karena patologis, bunuh diri romantis, dan bunuh diri heroik. Kriminolog Ronny Nitibaskara mencoba memetakannya menjadi 4 sebab, lainnya lagi, terutama kaum moralis, menuding bunuh diri terjadi karena lemahnya agama yang diimani, tetapi yang paling menarik dari itu semua adalah pendapat ini: bunuh diri adalah sebuah praktek protes kepada pemerintah akan ketimpangan ekonomi dan kekuasaan. Bunuh diri akan membuat pemerintah “melek” bahwa di luar sana, bunuh diri terjadi akibat kurangnya pendidikan yang bersumber dari keuangan atau perekonomian yang jelek.

Tapi tetap semua penjelasan tadi agak susah untuk menjelaskan tentang kejanggalan bunuh diri yang dilakukan ibu Nadira. Namun yang pasti, kehidupan Nadira, mau tidak mau, dituntun oleh kejanggalan ibunya. Karena Nadira menjalaninya dengan janggal, memicu kejanggalan lain dalam hubungan interpersonalnya dengan orang lain. Begitulah bunuh diri ini bergulir, menggelundung, menciptakan efek yang membekas pada pembaca tentang makna penyimpangan, cinta, rasa hormat, dan kehilangan. Makna-makna ini dapat kita temukan berceceran di cerita-cerita pendek yang ada di dalam buku ini.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s