Gara-gara 9 Dari Nadira

Sebuah Mahluk Mungil
Karya Katyusha

Terbit 1981 oleh Gramedia | ISBN: – | Binding: Paperback | Halaman: 96

GARA-GARA membaca 9 dari Nadira karya Leila S. Chudori, aroma bacaan ’80-an langsung merebak lagi. Leila memang dulunya kukenal lewat cerpen, lalu lama kemudian baru kubaca lagi di berbagai ulasan mengenai dunia film. Tapi bukan dia yang ingin kuulas sekarang. Tapi gara-gara Leila, aku jadi ingat Katyusha.

Katyusha adalah nama pena seorang penulis muda di majalah Hai tempo dulu. Tulisannya ringan, enteng dengan bahasa sehari-hari. Nama “Katyusha” sendiri mungkin ia comot dari sebuah lagu di Rusia atau sesuatu yang ada kaitannya dengan roket Rusia di zaman yang namanya perang dingin baru mulai digulirkan. Kurnia Effendi pernah melacaknya dan tahu nama aslinya Hermawati Poespitasari. Sempat tercatat sebagai mahasiswa Oceanologi ITB dan menurut info terakhir berada di Sydney, Australia. Bahkan ia sendiri, pernah main ke rumah Katyusha di Bandung. Tapi aku sendiri tak pernah, sosoknya masih kubiarkan abstrak.

Gara-gara Leila, aku bongkar-bongkar lagi lemariku dan ketemu buku ini. Buku yang tipis, yang lebih tepat disebut cerbung (cerita bersambung) yang dibukukan. Dan gara-gara Leila, aku baca lagi cerbung ini.

Masih aktual? Mungkin sudah lewat. Tapi aku takjub, betapa pada tahun 1981, cerita-cerita pop begitu kuat dan kental mengangkat apa yang terjadi di dunia remaja sendiri, tanpa perlu repot-repot membeo pada dunia luar. Coba tengok Balada Si Roy karya Gola Gong. Betul-betul otentik 80’an yang dipenuhi oleh kegiatan traveling yang asyik yang barangkali hanya bisa dikalahkan oleh kegiatan jalan mundur ke beberapa kota.

Aku pikir semua ini berkaitan erat dengan hadirnya majalah Hai atau Aneka Cemerlang. Dulu itu rasanya belum remaja, kalau belum baca Hai. Karena begitu SMP, aku sudah tak mau lagi baca majalah Bobo dan lebih banyak menyimak artikel Hai tentang pesawat tempur, komik Roel Dijkstra, kubisme yang diusung sampul-sampul Hai, hingga kisah Lupus yang lucu dan kocak karya Hilman Hariwijaya.

Waktu aku membacanya lagi, reaksiku masih terkekeh-kekeh. Tokoh ‘aku’ dalam cerita itu (Dani) yang kepincut Kati memang menawan. Si bungsu dari 6 bersaudara yang semuanya laki-laki, si anak manja yang masih suka memeluk kaki ibunya. Aku suka dengan penggambaran karakternya, keadaan keluarganya yang seru dan cowok semua, relasi dengan teman-temannya, hobi sofbolnya dan kesadarannya bahwa ‘mahluk mungil’ yang selalu merecokinya ternyata adalah cinta tulusnya.

Lucu memang bila mengingat masa itu, tapi pasti aneh kalau coba-coba dibaca anak jaman sekarang. Yang ada dia malah heran dan bertanya, apanya yang lucu? Apanya yang menarik? Padahal… masa 80-an adalah masa terindah, tuan-tuan.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s