Orang-Orang di Persimpangan Jalan dalam Oeroeg

Oeroeg
Karya Hella S. Haasse

Terbit 2009 oleh Gramedia | Terbit pertama kali: 1948 | Binding: Paperback | ISBN: 9789792249866 | Halaman: 144

Alih bahasa: Indira Ismail

OEROEG berkisah tentang persahabatan antara seorang anak laki-laki Belanda dan anak laki-laki pribumi. Persahabatan berubah semasa Agresi Militer. Si sinyo Belanda bingung melihat perubahan Oeroeg, sementara Oeroeg sang bocah pribumi menjadi patriotis dan ikut aksi revolusi kemerdekaan Indonesia sehingga persahabatan mereka berada di persimpangan jalan.

Novel berlatar Sukabumi zaman kolonial ini diterbitkan pertama kali pada 1948 dalam bahasa Belanda. Namun baru tahun ini, buku tersebut dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Penulisnya, Hella Serafia Haasse, masih hidup. Usianya kini 91 tahun, kelahiran Batavia pada tanggal 2 Februari 1918. Ibunya adalah seorang pianis bernama Katherina Diehm-Winzenhohler dan ayahnya seorang inspektur keuangan pemerintahan kolonial Belanda bernama Willem Hendrik Haasse. Lewat pekerjaan ayahnya, kehidupan di Indonesia pernah dirasakan Hella.

Oeroeg adalah novel debutnya pertama kali, tetapi terjemahan ini bukanlah terjemahan pertama karya Hella. Sebelumnya sudah terbit Mata Hati karya Hella S. Hasse juga, seingatku bukan dari penerbit Gramedia.

Semangat “Mooi Indie” dalam Oeroeg

Sesungguhnya Oeroeg adalah novel yang mengusung semangat “mooi Indie”, sama seperti lukisan-lukisan yang bertebaran di jagad seni rupa, yang menggambarkan serba keindahan, serba nyaman, serba indah-gemah ripah loh jinawi.

“…Oeroeg mengusulkan kami berenang di sungai yang mengalir dengan bunyi menarik dan menggemeriik melalui bebatuan. Sungai itu setengah tersembunyi di bawah semak-semak yang merunduk. Kami melempar pakaian-pakaian sehingga menumpuk di antara semak-semak itu, lalu turun ke air yang segar dan sebening kaca..”

Jangankan tokoh Aku, aku pun saat membacanya ingin juga merasakan keindahan lingkungan perkebunan Kebon Jati, jauh di pedalaman Pegunungan Priangan, Sukabumi, Jawa Barat. Maka tak heran, bila dalam ingatan tokoh Aku, ia tak bisa lepas dari negeri tempatnya tumbuh besar, tempatnya bertemu dengan Oeroeg, sahabat karibnya dari kecil yang ibarat bumi-langit, statusnya berbeda jauh darinya. Ia yang anak seorang administrateur Belanda, seorang pengurus perkebunan di zaman Hindia-Belanda berteman baik dengan Oeroeg, anak inlander/pribumi, si sulung dari mandor perkebunan.

Hella S. Haasse membungkus semangat “mooi indie” ini dengan cerita persahabatan. Wajar, anak-anak belum tahu keberpihakan. Dari sampul, kita sudah bisa menangkap bahwa isi novel akan menyentuh persoalan perbedaan sosial ini. Gambaran dua anak lelaki berdiri di bawah deras hujan, yang satu lengkap bersepatu, berambut terang, dan mengenakan payung. Sedangkan di sebelahnya bisa dipastikan bahwa itu adalah Oeroeg, anak inlander yang bertelanjang dada dan kaki, berambut gelap, serta berlindung di bawah daun pisang sesungguhnya cukup memberi gambaran gamblang bagaimana isinya nanti.

Situasi semakin sulit dengan berbagai persoalan di seputar pekerjaan ayah Aku dengan ayah Oeroeg, antara tuan dan mandor, serta balasan terhadap jasa Deppoh, bapak Oeroeg yang telah menyelamatkan anak seorang tuan Belanda. Lagi-lagi ini penggambaran wajah bagaimana tidak semua orang Belanda itu jahat. Penggambaran yang bisa jadi benar, karena bukan berarti semua Belanda yang ada di negeri ini penjajah.

Hubungan Indonesia-Belanda

Cukup menggelitik bagiku untuk mendudukkan peran novel yang telah memenangkan penghargaan ini dalam sejarah bangsa kita. Karena pada tahun novel Oeroeg ini terbit pertamakali di Belanda tahun 1948, sesungguhnya sedang terjadi peristiwa dalam hubungan Belanda dengan Indonesia. Sebuah peristiwa yang sebenarnya bisa dicatat sebagai kejahatan perang yang dilakukan pemerintahan Belanda kepada bangsa ini.

Dalam sejarah tercatat, pada tahun 1947 delegasi Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan Keamanan PBB, korban pembantaian terhadap penduduk yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa. Mengenai bagaimana pembantaian itu dapat dilihat dalam buku yang terbit tahun 1995, berjudul De Excessennota yang berisi hasil penyelidikan yang dilakukan berdasarkan keputusan Parlemen Belanda atas berbagai penyimpangan dan kejahatan yang dilakukan oleh tentara Belanda di Indonesia antara tahun 1945 – 1949. Buku itu memuat cukup rinci mengenai puluhan kasus pelanggaran yang dilakukan oleh tentara Belanda. Beberapa kalangan di Belanda sendiri menyatakan, bahwa yang disebut secara lunak sebaga “Excess”, tidak lain adalah “war crimes” atau kejahatan perang. Jadi novel terbit di saat keadaan dan situasi politik antara Indonesia dan Belanda sedang bergejolak karena Agresi Militer Belanda II atas Indonesia.

Pembantaian itu berkaitan dengan tidak diakuinya pengakuan proklamasi 17 Agustus 1945 oleh pemerintah Belanda, karena mereka hanya sekedar menerima proklamasi 17 Agustus 1945 secara politis dan moral serta menyatakan rasa penyesalan atas penderitaan bangsa Indonesia atas tindakan militer yang dilancarkan tentara Belanda setelah proklamasi. Media di Belanda jelas menulis, bahwa Menlu Belanda Ben Bot menyatakan “anvaarden” (menerima) dan bukan “erkenning” (pengakuan).

Lalu apakah terbitnya novel ini dan diterimanya novel ini seperti hendak “menutup mata” terhadap hubungan buruk di antara kedua negara ini? Ataukah memang Hella S. Hasse terlalu jujur, hanya ingin mengungkapkan kebanggaannya sebagai anak kelahiran Batavia yang pernah merasakan keindahan panorama negeri ini tanpa pretensi lebih jauh? Atau bisa jadi novel ini menjadi menarik dikarenakan ia mencuatkan bagaimana persahabatan sejati bisa tumbuh subur bahkan di tengah konflik dan masalah-masalah perbedaan ras.

Orang-orang di Persimpangan Jalan

Aku mencoba melihat novel ini sebagai sebuah pernyataan dari “orang-orang di persimpangan jalan”, mereka yang berdiri di dua kutub yang berbeda, antara Belanda dan Indonesia. Baik penulisnya, maupun tokoh-tokoh di dalam novelnya, ataupun dari para sineas Belanda yang kemudian mengangkat novel ini ke dalam film berjudul sama. Masing-masing aku ulas satu persatu di sini.

Hella S. Hasse lahir sebagai anak Eropa di tanah jajahan. Rasanya tentu sulit menyingkirkan semua kenangan masa kecilnya itu dari ingatannya. Sudah terlanjur tertancap keindahan Tangkuban Perahu, panorama perbukitan yang membentang di Jawa Barat. Kegelisahan kebanyakan anak Eropa kelahiran Indonesia ibarat kegelisahan seorang anak yang harus berpisah dengan rumahnya. Rumah pemikirannya adalah Indonesia. Itu menjadikan dirinya bagian dari “orang-orang di persimpangan jalan”, orang-orang yang sebenarnya bingung mengenai identitasnya: sebagai anak Eropa, tapi kenapa dia justru mengagumi Tangkuban Perahu daripada Scheveningen, pantai tempat wisata di Den Haag yang sangat terkenal di Belanda?

Problema yang sama juga terjadi pada tokoh Aku di novel ini. Ia sulit mengidentifikasi dirinya. Ia tidak segamblang gurunya, si pemburu, yang secara mengesankan mengatakan ini:

“…lebih tinggi atau l
ebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu—itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu—bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?”

Ia jelas-jelas sudah memilih menjadi pribumi. Sedang tokoh Aku, adalah tokoh yang bimbang. Ia selalu dalam medan gaya tarik antara pribumi dan Belanda, dan pada akhirnya ia memilih menjadi Belanda. Indonesia sebagai rumahnya hanya ada di dalam masa lalunya. Itulah yang membuat ia tidak mengerti tentang Oeroeg, tidak mengerti mengapa Oeroeg begitu marah.

Oeroeg pun dilanda hal yang sama. Ia sempat bingung, namun para pembaca akhirnya mengetahui bahwa Oeroeg memilih menjadi bagian dari gerakan nasionalis yang ingin memerdekakan diri, meskipun ia tahu resikonya adalah menjauhkan diri dari sahabatnya sendiri.

Oeroeg dalam film

Lalu bagaimana dengan para sineas yang mengangkat novel ini ke film. Di film, tokoh Aku memiliki nama. Namanya Johan. Ia lahir dan tumbuh di negeri Hindia Timur. Johan adalah anak dari pemilik perkebunan Hendrik Ten Berghe, Hendrik memiliki jongos yang bernama Deppoh, anak Deppoh inilah yang bernama Oeroeg. Sejak kecil sampai remaja Johan bersahabat dengan Oeroeg, namun persahabatan antar ras itu mulai rusak ketika Oeroeg mulai menyadari sikap bangsa Belanda yang suka merendahkan bangsa pribumi.

Titik balik sikap Oeroeg yang tadinya bersahabat menjadi bermusuhan dengan Johan adalah pada saat Oeroeg dan Johan menonton film di gedung yang sama namun posisi mereka jelas dibedakan. Pada masa itu posisi penonton dibagi berdasarkan ras. Ras kulit putih menonton dengan posisi normal, sementara bangsa pribumi menonton dari balik layar, sehingga semua tulisan akan terbaca terbalik.

Oeroeg semakin sadar akan kesalahan sistem yang diskriminatif yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda saat ia bergabung dengan pergerakan nasional. Hubungan antara bekas sahabat tersebut semakin tidak harmonis dan diakhiri dengan kepergian Johan ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Ketika Johan kembali ke negeri ini ia masih berharap untuk bisa bersahabat dengan Oeroeg, namun Oeroeg menegaskan kalau persahabatan itu tidak akan terjalin selama seseorang masih dianggap lebih rendah daripada orang lain.

Rupanya Johan si anak pemilik perkebunan ini telah kehilangan sahabat dan tanah kelahirannya sekaligus. Sangat ironis ketika ia ingin pulang ke negeri kelahirannya yang indah ini, namun ia justru disuruh pulang dari “rumah”nya sendiri oleh TNI saat ia melewati pelbagai tulisan di tembok yang ditulis oleh para nasionalis. “Dutchman, Go Home!”

Sangat jelas bagaimana perbedaan novel dan filmnya. Sutradara Hans Hylkema menggunakan narasi yang lebih jauh lagi, menarik persahabatan hingga ke persoalan identitas, sesuatu yang lebih politis daripada novelnya yang sekedar menonjolkan persahabatan masa lalu. Narasi film bicara lebih dalam dan lebih memikat dengan memadukan masa lalu Johan dan Oeroeg dan pencarian Johan terhadap Oeroeg di masa Agresi Militer II dalam tempo yang cepat.

Penutup

Biarpun ada celah kekurangan yang hadir dalam novel ini, namun aku melihat novel ini penting. Paling tidak di kemudian hari, misalnya, pembaca bisa membandingkan bagaimana para tokoh di novel Oeroeg ini bila dibandingkan dengan para tokoh di novel Burung-Burung Manyar yang juga mengalami gejala kegelisahan yang sama soal identitas.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s