Unjuk Gigi Luis Sepúlveda – Sastrawan Eksil dari Cile

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Karya Luis
Sepúlveda

Terbit Desember 2005 oleh Penerbit Marjin Kiri | Binding: Paperback | ISBN: 9799998042 | Halaman: 116

Terbit pertama kali tahun 1989
Alih bahasa: Ronny Agustinus

SASTRA eksil senantiasa menarik perhatian. Mungkin karena jarak dengan tanah air membuat karya sastra itu jadi lebih menawarkan pesona panorama yang lebih luas ketimbang realita yang senantiasa kita lihat sehari-hari. Kita bisa membacanya di karya-karya sastrawan eksil Indonesia semacam Agam Wispi, Utuy Tatang Sontani, atau Sobron Aidit, dan mungkin masih banyak lainnya. Selain pesona panorama itu, ada lagi yang lebih menarik: karya-karya sastra eksil selalu bisa tampil ‘terus terang’. Kita bisa menilai baik-buruknya suatu negeri, tanpa lebih dulu harus menghadapi sensor yang dilakukan oleh si pengarang sendiri, sebelum kekuasaan turut campur. Mereka “ibarat keran yang mengucurkan air deras tanpa henti”, begitulah aku senantiasa mengibaratkan mereka.

Begitu pula saat kita membaca novella pertama Luis Sepúlveda ini, Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (The Old Man who Reads Love Stories). Pada saat ia menulis, Luis Sepúlveda sebagai sastrawan Cile, tetapi ia lebih banyak hidup sebagai seorang eksil sebagai konsekuensi sikap politiknya yang berseberangan dengan kekuasaan. Bila orang bertanya, dimana ia tinggal: dia akan menjawab “antara Hamburg dan Paris”. Namun itu tak membuatnya hilang dari pembicaraan orang senegerinya.

Dengan setting di pedalaman hutan Ekuador, ia piawai memikat orang dengan cerita yang demikian dekat, menggerakkan banyak orang untuk terpikat oleh karakter-karakter yang ia ciptakan, yang ia sisipi pemikiran-pemikiran murni dan keberanian bersikap beda, yang sebenarnya adalah miliknya jua.

Dikisahkan tentang seorang lelaki tua bernama Antonio Jose Bolivar Proano yang sebenarnya hanya ingin sendirian, bersantai di gubuknya untuk bisa membaca novel-novel cinta sambil mengunyah daging monyet ditemani tegukan bir Frontera. Namun lelaki tua itu akhirnya harus terseret (atau tepatnya diseret oleh situasi) ke dalam sebuah perburuan melawan kekuatan paling mematikan di hutan Ekuador.

Jadi novella ini bercerita tentang sebuah misteri pembunuhan. Hanya saja si pembunuh bukanlah lawan yang mudah. Lelaki tua itu harus melacaknya dan kemudian membunuhnya tanpa harus membuat dirinya sendiri dibunuh. Segala bekal pengetahuan tentang hutan yang ia pelajari dari Indian Shuar, ia gunakan untuk mengejar mimpi-mimpinya. Tapi pada akhirnya, yang ia inginkan di masa tua adalah membaca kisah cinta, membayangkan orang-orang di Venesia, yang ke sana ke mari naik gondola. Sesekali ia terkekeh-kekeh membayangkan banyak orang di Venesia yang begitu buka pintu, jatuh ke air. Atau sibuk ingin memberi nama kanonya dengan “Gondola dari Nangaritza” gara-gara terinspirasi pada kata gondola.

Aku tidak akan mengulas bagaimana akhir novella ini. Tapi cukuplah dengan memberi penilaian bahwa novella Luis Sepúlveda berada di atas novella Ernest Hemingway yang meraih Nobel Sastra 1954: Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and The Sea). Secara sekilas karakter dan plot yang dikedepankan oleh dua novella ini kurang lebih sama. Sama-sama tentang lelaki tua yang di kurun waktu hidupnya harus menaklukkan sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya, dan ia membuktikan manusia bisa dihancurkan tapi tidak bisa dikalahkan. Yang membedakan adalah kejelian yang luar biasa dari seorang Luis Sepúlveda menyikapi penebangan lahan, sarkasme pada kekuasaan yang menjurus pada sikap anarkis, dan kelucuan yang tak dibuat-buat. Tentu saja ini semua tak lepas dari peranan penerjemah novella ini yang sudah barang tentu pantas diganjar ucapan terima kasih yang tak terhingga. Salut!

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s