Melihat Lebih dari Sekedar “Beli atau Tidak Beli”

Saya Berbelanja Maka Saya Ada: Ketika Konsumsi dan Desain Menjadi Gaya Hidup Konsumeris
Karya Haryanto Soedjatmiko

Terbit November 2008 oleh Jalasutra | Binding: Paperback | Halaman: 118

“Bumi menyediakan banyak untuk kebutuhan semua orang, tapi tidak untuk keserakahan semua orang.”
– Mahatma Gandhi –

TELAH LAMA masyarakat kita telah jadi korban pemikiran bahwa kita tidak dapat hidup tanpa materi dan kepemilikan. Sebuah ungkapan “Greed is good” atau “Serakah itu baik” mencuat lewat tokoh Gordon Gekko yang diperankan Michael Douglas dalam film berjudul Wall Street produksi tahun 1987 untuk menegaskan situasi ini. Tidak berlebihan memang ungkapan itu, malah boleh jadi sekarang lebih cocok bila ungkapan itu sedikit dikoreksi menjadi “Makin serakah makin baik”, sejalan dengan makin parahnya ketergantungan kita akan materi dan kepemilikan.

Sebegitu parahnya, hingga tanpa sadar muncul kebiasaan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan dalam hidup ini, sampai ke ketergantungan kita yang berlebihan akan energi listrik, bahan bakar, dan gaya hidup. Aku pikir hampir setiap orang pernah punya pengalaman ini: membeli barang/benda secara impulsif atau sekedarnya untuk mengikuti kemajuan teknologi. Sekian juta orang di seluruh dunia juga pernah jatuh di kesalahan yang sama. Hal itu terjadi bukan karena kita butuh benda-benda itu, tetapi karena kita ingin untuk memiliki benda-benda tersebut. Karena kita ingin lalu kita belanja… Belanja menjadi sebuah pernyataan eksistensialis yang dirumuskan dengan gaya plesetan oleh Haryanto Soedjatmiko menjadi “emo, ergo sum!” alias “Saya Berbelanja Maka Saya Ada”.

Agaknya ada yang salah pada masyarakat kita saat memahami konsumsi. Kebutuhan untuk hidup telah menjadi berubah menjadi kebutuhan untuk memiliki segala barang, termasuk benda yang tak berharga namun untuk sejumlah alasan sepertinya melengkapi kemanusiaan kita. Selubung kepalsuan dibenamkan dalam benak kita hingga kita mulai kehilangan identitas kemanusiaan kita sendiri.

Mau tidak mau aku jadi ingat buku “Fight Club” karangan Chuck Palahniuk. Dalam buku itu, Chuck Palahniuk menulis sebuah kritik terhadap “hilangnya identitas kemanusiaan” dikarenakan konsumerisme yang berlebihan. Kenyataannya, tanpa disadari terkadang seseorang mengidentifikasi dirinya sendiri berdasarkan apa yang ia tonton, apa yang ia baca, apa yang ia kenakan, apa yang ia makan di pagi hari, apa yang ia pilih sebagai perabot rumah tangganya, atau bahkan hal-hal (yang terlihat) sepele lainnya. Peradaban manusia saat ini rusak karena konsumerisme. Fight Club sendiri yang semula hanya klub tanding fisik kemudian berkembang menjadi Project Mayhem, sebuah gerakan radikal-anarkis melawan arus konsumerisme massa yang begitu deras.

Buku itu menggambarkan sebuah dilema, yang sebetulnya sama-sama diangkat isunya oleh Haryanto Soedjatmiko ini. Sebuah dilema antara kebutuhan dan keinginan, antara materialisme dan spiritualisme, antara menunda belanja hingga belanja berlebihan, semua seolah tersimpulkan dalam narasi dalam buku Chuck bahwa “Advertising has these people chasing cars and clothes they don’t need. Generations have been working in jobs they hate, just so they can buy what they don’t really need.”

Baik kita amini atau tidak, konsumerisme sudah memangsa semua aspek kehidupan kita hingga sumber daya yang kita jadikan tumpuan. Di dekade yang lampau, konsumerisme telah menjadi pola perilaku yang tak hanya berdampak pada kita, tapi juga pada lingkungan dan masyarakat seluruhnya. Perilaku ini tidak hanya mendorong kita untuk percaya bahwa kita bisa menjadi seperti yang kita lihat di televisi, desain, tetapi juga menjadi bahan bakar rasa dahaga kita untuk memiliki lebih banyak barang.

Sayangnya, isu yang baik ini dikemas terlalu tekstual oleh Haryanto, hingga menjadi semacam buku pengantar konsumerisme yang disertai kutipan-kutipan ilmuwan sosial dari zaman positivisme hingga neo-Marxist yang membuatnya sangat membosankan dan tidak mencerahkan. Justru aku lebih mudah memahami konsumerisme lebih baik dari karangan Chuck Palahniuk yang tadi kusebutkan.

2/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s