Kisah Seorang Kritikus Sebelum Hingar Bingar Masa Kini

Dari Festival ke Festival: Film-film Manca Negara dalam Pembicaraan
Karya Salim Said

Terbit 1994 oleh Pustaka Sinar Harapan |Binding: Softcover |ISBN
9794162647(isbn13: 9789794162644)| Halaman: 210

SEBELUM gegap gempita Jakarta International Film Festival (JifFest) sekitar 12 tahun lalu, barangkali hanya segelintir orang yang bisa mengomentari (atau bisa juga disebut menjadi kritikus) film mancanegara di luar film-film Hollywood. Salah satunya, tentu saja penulis ini: Bung Salim Said. Tapi itu kurun yang teramat jauh sekali. Pada saat aku mengenal Salim Said di paruh akhir tahun 1990-an, dia sudah banting stir jadi pengamat militer dan kekuasaan. Porsi pengomentar/kritikus mulai ditempati “wajah baru” dengan nafas baru. Jadi waktu pertamakali buku ini aku nikmati, rasanya kikuk juga untuk membiasakan diri membaca komentar filmnya dibandingkan dengan komentar-komentarnya yang analitis soal militer. Apalagi film-film yang dikomentari sungguh-sungguh film lama yang dulu hanya diputar di Kine Club, tempat Salim Said biasa bergumul dengan sesama pegiat film lainnya. Untung ada beberapa film lawas yang aku tahu cukup detil seperti film Akira Kurosawa dan Abbas Kiarostami, sineas-sineas non-Hollywood yang pantas untuk diperbincangkan dan dipertanyakan terus.

Isi buku ini ternyata nggak cuma memberi gambaran film-film yang dahsyat di zaman dulu, tapi juga soal festival macam Berlinale, Montreal, Cannes, Nantes, hingga tabiat-tabiat orang film. Dan tentunya yang paling menarik adalah mencermati tabiat orang-orang film Indonesia, yang tak berubah dari waktu ke waktu…

Kaitannya dengan kelihaiannya menulis militerisme barangkali bibitnya bisa ditemukan di sini: di artikel tentang film-film propaganda perang yang diusung Amerika mulai dari The Green Beret yang diperankan oleh John Wayne (yups, si koboi itu tapi di sini jadi jendral), Rambo yang dimainkan Slyvester Stallone, dan Uncommon Valor yang menunjukkan secara jelas, bagaimana aspek politis film bisa mempengaruhi sekaligus merefleksikan kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika.

Aku mengamini dan sepakat atas ucapan Rosihan Anwar di pengantar buku ini bahwa Salim Said sudah membuktikan bahwa film bukan cuma semata-mata kesenian dan hiburan, tetapi juga bisa mengandung muatan-muatan lebih luas yang sanggup memperkaya pengetahuan kita tentang obyek yang digarap sebuah film.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s