Ketika kerasnya jalanan bertemu dengan kasih ibu yang lembut

Live Through This: Kekuatan Cinta Seorang Ibu
Karya Debra Gwartney

Terbit 8 Agustus 2009 oleh Mahda Books (Redline Publishing) | Binding: Paperback | ISBN: 9789791992619 | Halaman: 351

MEMBAHAGIAKAN anak-anak adalah impian setiap orang tua. Ini menjadi semacam kredo yang berlaku universal, insight yang terlebih lagi hinggap pada diri setiap ibu. Sehingga sungguh teramat mudah mengikuti perasaan yang menghadang seorang ibu bernama Debra Gwartney saat menghadapi kenyataan bahwa dua dari keempat anaknya: Amanda (15) dan Stephanie (13) memilih “menjauh” darinya dan hidup menggelandang di jalanan.

Begitulah terjadi, demikian tiba-tiba dalam kehidupan Debra, setelah ia cerai dari Tom suaminya yang bertolakbelakang kepribadian dari dirinya, anak-anaknya bereaksi begitu keras. Amanda misalnya, tiga bulan setelah perceraian melukai dirinya sendiri. Ia mengiris tangannya, sebuah katarsis untuk menyatakan kepedihannya atas perceraian kedua orang tuanya.

Pelarian dari rumah hanyalah sekedar upaya anak-anak itu untuk mendapat perhatian, tetapi entah mengapa pelarian ini pada awalnya disikapi dengan demikian buruk: berbagai pertengkaran terus terjadi, disulut oleh hormon remaja yang meledak-ledak dan kekeraskepalaan seorang ibu yang meyakinkan dirinya bahwa dirinya senantiasa benar. Sehingga pelarian yang tadinya cuma sekedar, akhirnya menjadi pelarian yang serius dalam pengertian jarak dan dalam pengertian Amanda dan Stephanie betul-betul tidak mau lagi serumah dengan ibunya.

Debra bukannya duduk diam. Macam-macam upaya dilakukan. Mulai dari marah (lho kok?), menyewa orang yang bernama Steve untuk “menangkap” kedua anaknya ini, ikut terapi, ikut kemping di hutan yang mahal biayanya, dan lain-lain, namun semuanya tidak mampu meluluhkan hati kedua anaknya untuk mau tinggal bersamanya. Semua itu terus berlangsung bertahun-tahun dan dengan hati-hati, Debra mencatat jatuh bangun dirinya menghadapi semua masalah yang ia alami ini.

Macam-macam perasaanku muncul saat membaca memoar Debra Gwartney ini: simpati pada dirinya, ngeri membayangkan kedua anaknya yang hidup di jalan, sedih, takzim, sesal, hingga rasa haru yang menutup kisahan itu. Kesemuanya itu campur aduk tak keruan setiap kali kubalik halaman demi halaman yang mengguratkan kisahnya yang tanpa kenal lelah, daya upaya untuk mengembalikan dua anak tersayangnya yang sudah lebih dari sepuluh tahun pergi dari rumah untuk kembali kepadanya, ke pelukannya. Setiap kali itu pula, aku bercermin betapa menjadi orang tua dan mewujudkan kredo yang universal itu perlu lebih daripada sekedar kata-kata. Kebahagiaan ternyata haruslah diupayakan.

Aku hampir tidak bisa meletakkan buku ini karena setiap halaman punya cerita yang demikian menarik untuk dibaca, tapi sayang sempat bingung juga dengan konteks waktunya yang melompat-lompat antara kejadian 10, 5, 2, atau bahkan beberapa minggu sebelumnya.

Sekedar catatan untuk edisi terjemahannya adalah banyaknya kesalahan tipografi yang mengganggu semisal tidak konsistennya menulis nama salah satu anak: Stephanie, yang kadang ditulis Stephani, Sthepani, Stehpani… duh. Aku sarankan kali lain pihak penerbit pakai proofreader atau editor yang teliti mengoreksi bahasa dan pemenggalan.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s