Gubahan Sutasoma dalam Bingkai Kebhinnekaan Kita

Sutasoma
Karya Cok Sawitri

Terbit Juni 2009 oleh Kakilangit Kencana | Binding: Paperback | ISBN: 9786028556132 | Halaman: 474

SETIAP KALI mendengar nama Sutasoma, pertama-tama pikiranku melayang ke Muhammad Yamin. Adalah Muhammad Yamin yang mengusulkan seloka “Bhinneka Tunggal Ika” untuk dipegang oleh kedua kaki garuda sebagai lambang persatuan. Usul itu ia lontarkan kepada Soekarno dan bapak-bapak bangsa yang hadir. Muhammad Yamin mengambil kata itu dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5.

Secara lengkap bait 5 berbunyi:
Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.)

Kutipan tadi merupakan bagian dari susastra dalam bahasa Jawa Kuno yang sekian lama telah kukenal, versi “Kapustakan Jawi” karya Poerbatjaraka tahun 1952. Kisah ini disadur Pu Tantular pada abad ke-14 dari kisah yang sama di India. Kakawin ini berisi sebuah cerita epik dengan Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Dalam konteks usulan Muhammad Yamin, ia hendak menyatakan toleransi antar agama dan antar kepercayaan yang ada di Indonesia.

Kedua, barulah pikiranku melayang pada cerita yang hendak disampaikan lewat Sutasoma. Dalam kakawin itu diceritakan bahwa Buddha bereinkarnasi dan menitis kepada putra Raja Hastina Prabu Mahaketu. Putranya bernama Sutasoma. Setelah dewasa Sutasoma rajin beribadah, cinta akan agama Buddha (Mahayana). Ia tidak senang akan dinikahkan dan dinobatkan menjadi raja. Maka pada suatu malam, Sutasoma melarikan diri dari negara Hastina. Setibanya di hutan, Sutasoma bersembahyang dalam sebuah kuil. Lalu datanglah Dewi Widyukarali yang bersabda bahwa sembahyang Sutasoma telah diterima dan dikabulkan. Kemudian Sutasoma mendaki pegunungan Himalaya diantarkan oleh beberapa orang pendeta. Sesampainya di sebuah pertapaan, maka Sutasoma mendengarkan riwayat cerita seorang raja, reinkarnasi seorang raksasa yang senang makan manusia, Porusadha. Porusadha memiliki kaul akan mempersembahkan 100 raja kepada Batara Kala.

Sutasoma diminta oleh para pendeta untuk membunuh Porusadha tetapi ia tidak mau. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan seorang raksasa ganas berkepala gajah yang memangsa manusia. Sutasoma hendak dijadikan mangsanya. Tetapi ia melawan dan si raksasa terjatuh di tanah, tertimpa Sutasoma. Terasa seakan-akan tertimpa gunung. Si raksasa menyerah dan ia mendapat khotbah dari Sutasoma tentang agama Buddha bahwa orang tidak boleh membunuh sesama makhluk hidup. Lalu si raksasa menjadi muridnya. Lalu Sutasoma berjalan lagi dan bertemu dengan seekor naga. Naga ini lalu dikalahkannya dan menjadi muridnya pula. Maka akhirnya Sutasoma menjumpai seekor harimau betina yang lapar. Harimau ini memangsa anaknya sendiri. Tetapi hal ini dicegah oleh Sutasoma dan diberinya alasan-alasan. Akhirnya Sutasoma menawarkan dirinya saja untuk dimakan. Tetapi setelah itu si harimau betina sadar akan perbuatan buruknya dan iapun menangis, menyesal. Lalu datanglah Batara Indra dan Sutasoma dihidupkan lagi. Lalu harimaupun menjadi pengikutnya.

Pada saat yang sama, sedang terjadi perang antara Porusadha dan Raja Dasabahu, sepupu Sutasoma. Secara tidak sengaja ia menjumpai Sutasoma dan diajaknya pulang. Porusadha yang sudah mengumpulkan 100 raja untuk dipersembahkan kepada Batara Kala mendapati kenyataan bahwa Batara Kala tidak puas. Batara Kala baru mau menerima persembahan Porusadha bila ada Sutasoma. Maka Porusadha menangkap Sutasoma yang tidak melawan. Sutasoma bersedia dimakan Batara Kala, asal ke 100 raja itu semua dilepaskan.

Pengorbanan diri Sutasoma ini menyentuh hati Batara Siwa yang menitis pada Porusadha. Batara Siwa tahu bahwa Sutasoma adalah Sang Budha sendiri. Maka ditinggalkannya tubuh raksasa Porusadha dan ia kembali ke kahyangan. Porusadha akhirnya bertobat. Semua raja dilepaskan.

Kakawin Sutasoma dalam Sejarah

Dalam konteks sejarah, Kakawin Sutasoma tidak berdiri sendiri. Ada pendahulunya, misalnya Kakawin Arjunawiwaha dan Mahabharata yang ditulis Pu Kanwa, yang juga gubahan dari karya Valmiki. Kakawin memiliki pengaruh yang kuat dalam pola pikir dan perilaku masyarakat Jawa. Filsafat hidup yang terkandung dalam Kakawin Mahabarata misalnya, bahwa kebenaran yang dibawakan Keluarga Pandawa akan selalu menang terhadap kejahatan yang direpresentrasikan oleh Kurawa seringkali dijadikan acuan hidup bermasyarakat. Kurang lebih sama seperti munculnya kakawin Mahabharata yang “dipesan” oleh Raja Erlangga, kehadiran kakawin Sutasoma juga atas “pesanan” Raja Hayamwuruk.

Apa yang membuat Raja Hayamwuruk memesan Pu Tantular untuk menuliskan kisah Sutasoma dengan bumbu sastra setempat? Pada saat itu, Hayamwuruk sebagai raja Majapahit mengalami kekuatan saling bertemu antara agama Siwa dan Buddha. Agar dua kekuatan itu tidak saling merusak yang akibatnya akan menimbulkan situasi yang tidak menguntungkan bagi negara besar seperti Majapahit, kakawin ini disusun dan disebarluaskan. Produksi teks Kakawin Sutasoma yang disponsori oleh kerajaan Majapahit ini besar kemungkinan dimaksudkan agar tercipta toleransi antaragama Siwa dan Buddha.

Tetapi apakah dalam kenyataannya terjadi yang demikian itu? Menurut pandangan Prof. Kern, dalam sejarahnya kedua agama ini memang tumbuh dan berkembang bersama, yang kemudian diistilahkan “vermenging” (percampuran). Namun kemudian menjadi pembicaraan antara Prof. Krom, Rasser, dan Zoetmulder hingga memunculkan istilah “sinkretisme” atau “blendeing” (perpaduan, peleburan) antara Siwaisme dan Buddhisme. Namun istilah ini oleh beberapa sarjana lain dianggap menyesatkan karena dengan munculnya data lebih banyak mengenai kebudayaan kuno Jawa Timur ternyata bahwa kedua agama, Siwa dan Buddha, tidak berbaur dalam keseluruhan sistemnya. Siwaisme dan Buddhisme pada prakteknya masih selalu merupakan agama yang terpisah, juga ditunjukkannya bahwa Buddha terutama dalam Kakawin Sutasoma dianggap lebih unggul dari pada Siwa. Dalam teks Kakawin Sutasoma, memang demikianlah pada akhirnya. Siwa yang menitis pada Porusadha “dikalahkan” oleh sifat pengorbanan Sutasoma yang tak lain adalah Sang Jina, Buddha itu sendiri.

Soewito Santoso dalam buku “Sutasoma” tahun 1975 melakukan penelitian cukup mendalam atas teks Kakawin Sutasoma dengan menyatakan bahwa Pu Tantular secara jelas menggambarkan satu seri pertempuran antar dewa-dewa, yang puncaknya adalah perang tanding antara Sutasoma dan Purosadha. Tanpa keraguan, Pu Tantular bermaksud menunjukkan kepada pembaca siapakah pemenang yang sebenarnya. Dalam teks itu, terdapat 4 dewata yang penting, yaitu: Brahmà, Wisnu, Siwa, dan Buddha. Dewa-dewa tersebut bereinkarnasi ke dunia dalam wujud: Dasabahu, Jayawikrama, Porusadha dan Sutasoma. Pertempuran antara Porusadha dengan Jayawikrama dan dalam pertempuran antara Porusadha dengan Dasabahu, keduanya mati terbunuh. Porusadha mencapai puncak kemenangan, namun saat berhadapan langsung dengan Sutasoma, akhirnya ia kalah. Semua yang gugur di medan pertempuran dihidupkan kembali, segala kehancuran dan kerusakan direhabilitasi kembali, dan kekuatan
Porusadha tidak berdaya untuk membunuh Sutasoma. Inilah yang secara agung ditulis oleh Pu Tantular bahwa Buddha unggul terhadap Siwa dalam hal keunggulan kasih sayang dan cinta (ciri utama dari Buddhisme) mengatasi kekerasan.

Sutasoma di tangan Cok Sawitri

Seperti yang diungkapkan Cok Sawitri dalam peluncuran buku di Pesta Buku Jakarta 2009 lalu, ia menggubah cerita Sutasoma dari apa yang ia dengar sewaktu kecil dan pembacaan atas teks Kakawin Sutasoma yang ada di Bali. Maka dengan demikian, sekali lagi cerita yang sama ditafsir kembali. Dalam tafsir Cok Sawitri, tentulah tidak dapat dihindari tafsir-tafsir personal yang mewarnai penceritaannya dan tentu saja menyesuaikan dengan maksud proses kreatif yang digagas Cok Sawitri pada kali pertama ia berniat menggubah karya ini.

Dalam versi Cok Sawitri, muncul sosok Jayantaka putra Raja Sudasa yang demikian mempesona pembaca. Ia hadir hingga 14 bab pertama dan segera membius para pembaca untuk jatuh cinta pada karakter yang gagah, sakti, dan cerdas. Jayantaka meneruskan niatan Raja Sudasa untuk menegakkan dharma agama dan dharma negara. Malahan, Jayantaka akhirnya meluaskan niatan ini bukan saja di negerinya sendiri, tetapi juga meluas ke negeri-negeri lain. Jalannya adalah penaklukkan 100 negeri dan oleh karenanya ia dikenal sebagai Porusadha, raksasa pelahap kepala raja.

Sedang Sutasoma barulah diperkenalkan pada bab 15 dalam narasi yang kurang begitu menawan dibanding Jayantaka. Cerita makin menarik saat diceritakan perang-perang yang dilakukan oleh Jayantaka lewat jalur lorong bawah tanah negeri Mleca dan dibantu oleh seorang pemburu bernama Belawa. Puncaknya adalah pertarungan antara Jayantaka dan Jayawikrama, dengan kekalahan Jayawikrama karena kepongahannya. Begitu pula saat kehadiran Dasabahu bisa ditebak bahwa peperangan itu pun akhirnya dimenangkan oleh Jayantaka. Akhir kisah adalah penangkapan Sutasoma oleh Jayantaka, yang berakhir dengan petuah Sutasoma bahwa tidak ada yang dikalahkan atau dimenangkan dan baik Sutasoma dan Jayantaka berjalan ke arah yang berbeda.

Gubahan Cok Sawitri dalam bentuk narasi fiksi sastra memanglah suatu yang niscaya untuk menarik para pembaca, baik yang telah kenal dengan teks terdahulu atau belum. Ditambahkannya tokoh-tokoh baru seperti Belawa, Nini, ketiga istri Sudasa, anak-anak tiri Sudasa dan sekaligus saudara Jayantaka sekaligus penokohan baru atas tokoh-tokoh yang ada dalam teks terdahulu membuat novel ini “kaya amunisi”. Bahkan boleh dibilang bukan hanya kaya amunisi, tetapi juga “gemuk” oleh pandangan-pandangan personal Cok Sawitri yang dititipkan ke dalam tiap tokoh yang ada sehingga membuat Sutasoma karya Cok Sawitri ini boleh dibilang cukup berbeda.

Persoalan kebhinnekaan dalam teks terdahulu juga hadir di sini, namun tentu saja keempat dimensi toleransi antaragama yang ada di teks terdahulu kini tergantikan. Gantinya, adalah toleransi antara agama minoritas dan agama mayoritas. Jayantaka dalam teks Cok Sawitri mewakili agama minoritas, yang dalam pernyataan Cok Sawitri mewakili apa yang tengah diperjuangkannya adalah mewakili agama Tantrayana, sedang Sutasoma mewakili agama mayoritas, baik itu Hindu dalam konteks Bali atau agama mayoritas di Indonesia yakni Islam. Petuah dalam gubahan Cok Sawitri cukup jelas melansir keinginannya agar agama-agama mayoritas/besar tidak menghancurkan agama kecil, melainkan belajar untuk mentoleransi dalam semangat kebhinnekaan yang dihembuskan oleh Sutasoma.

Kritik pada masyarakat kelas atas yang berada pada lingkaran istana juga mencuat dalam karya Cok Sawitri ini, yang dengan mudah bisa ditarik garis paralel antara negeri di bawah pimpinan Sudasa dan Jayantaka dengan negeri Indonesia ini. Sebuah paralelisme yang kurang lebih sama dilakukan Pu Tantular sewaktu menggubah Sutasoma kali pertama dari teks aslinya.

Catatan seputar penerbitan Sutasoma

Sutasoma karya Cok Sawitri perlu mendapat perhatian semua orang, karena tali sejarah yang membawa benang merah toleransi antar agama. Sesuatu yang secara luar biasa mampu dihadirkan kembali dan dibumikan oleh Cok Sawitri dalam konteks Indonesia masa kini. Namun, sebagai karya sastra kiranya perlu dipertimbangkan beberapa catatan ini:

Porsi yang demikian besar pada tokoh-tokoh baru, khususnya Jayantaka dan dengan sendirinya secara sadar ataupun tidak sadar telah menyempitkan porsi pada Sutasoma membuat Sutasoma tampil lemah. Sutasoma yang telat hadir kepada pembaca, membuatnya tidaklah spesial atau istimewa menggerakkan cerita ini hingga habis. Jayantaka dengan sendirinya yang mendapat porsi hampir setengah bab buku dengan serta-merta lebih memikat pembaca.

Banyaknya kesalahan pemenggalan dan tanda baca, mungkin juga ejaan yang lazim membuat buku ini terkesan hadir terburu-buru tanpa peran editor yang mampu mencegah hal-hal yang mengurangi kenikmatan membaca.

Mungkin juga dengan hadirnya editor, dapat dicegah kesalahan fatal ini. Dalam teks Sutasoma karya Cok Sawitri ini hadir beberapa kali situasi “minum kopi”. Ini agak aneh dan bertentangan dengan sejarah.

Sejarah kopi di Indonesia baru bermula di tahun 1696, saat Gubernur Belanda di Malabar mengirimkan biji kopi ke Gubernur Belanda di Batavia. Pengiriman pertama hilang karena banjir yang terjadi di Batavia, pengiriman kedua berhasil dilakukan tahun 1699. Barulah sejak itu, kopi dikenal di Indonesia dan dikonsumsi.

Ekspor kopi pertama dilakukan tahun 1711 oleh VOC, dalam tempo 10 tahun ekspor meningkat sampai 60 ton per tahun. Sejak saat itu, Indonesia adalah tempat perkebunan pertama di luar Arabia dan Ethiopia dan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 sampai 1780. Jadi bagaimana mungkin ada kegiatan minum kopi di warung pinggir jalan di paruh waktu abad ke-14? Alangkah bijaksananya bila diganti dengan minum teh atau mungkin wedang jahe yang memang sudah lebih lama dikenal sebagai minuman pembunuh rasa dingin dan masuk angin di Jawa.

Tetapi, beberapa catatan ini hanyalah sebuah catatan ringan yang menyertai pembacaan mendalam atas novel Sutasoma karya Cok Sawitri ini. Selebihnya, aku berpendapat karya ini bisa dinikmati sebagai bacaan yang membuka cakrawala pikiran.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s