Pelajaran dari Graphic Novel Coraline

Coraline
Karya Neil Gaiman, adaptasi oleh P. Craig Russell

Terbit Juni 2009 oleh M&C! | Binding: Art Paper | ISBN: 9792335277 (isbn13: 9789792335279) | Halaman: 186

Apa asyiknya kalau aku punya semua yang kuinginkan?
(Coraline, halaman 133)

SYAHDAN manusia adalah mahluk yang tidak pernah puas. Selalu saja ada yang diinginkan, yang biasanya tidak ada pada dirinya melainkan ada pada orang lain. Begitulah sikap manusia, senantiasa berpusar dan berpusara pada memenuhi kepuasannya sendiri-sendiri. Akankah cukup? Mungkin di mata orang lain sudah cukup, tetapi pada diri yang mencarinya, akan selalu dan senantiasa timbul dahaga yang baru.

Begitulah, dengan kalimat yang tadi diucapkan Coraline, seolah menjadi mantra pematah siklus tanpa ujung itu, untuk sekedar membuat kita merenung meskipun bahan renungan kita kali ini bukanlah buku tebal dengan kutipan-kutipan keilahian, tetapi justru berasal dari bacaan profan bernama graphic novel. Dengan meletakkan kata itu dalam gelembung kata Coraline, P. Craig Russel maupun Neil Gaiman memberi pengalaman eskatologis bagi kita, untuk mengajukan pertanyaan yang sama pada diri kita sekarang ini saat kita mungkin sedang windows shopping di mall-mall yang indah, factory outlet, gerai-gerai elektronik, “Apa asyiknya kalau aku punya semua yang kuinginkan?

Secara langsung, Neil Gaiman memberikan cerminan itu justru pada tokoh yang barangkali akan kita pandang sepele keberadaannya: sekedar gadis kecil (di graphic novel ini tidak terlihat terlalu kecil) yang penuh rasa ingin tahu. Apakah kita harus ditakut-takuti terlebih dahulu macam Coraline yang harus menjahit matanya dengan kancing baju besar? Rasa-rasanya bolehlah kita lebih bijak daripada itu.

Kuncinya adalah belajar mengucapkan syukur. Syukur atas hari ini, rejeki yang didapat, makanan yang disantap, udara yang dihirup. Bila memiliki semua kebendaan belum tentu menarik, mensyukuri kehidupan sudah jelas akan membuat hidup jauh lebih menarik.

***

Neil Gaiman sungguh pencerita ulung. Seolah melawan kategorisasi karya, Neil Gaiman terus menulis menggunakan beragam media yang kelihatannya cocok dengan cerita yang ingin ia sampaikan. Selama karir menulisnya, Neil Gaiman memulai penceritaan kreatifnya dengan komik-komik fantasi yang luar biasa seperti Sandman dan The Books of Magic, lalu narasi berilustrasi semacam Stardust dan The Dream Hunters. Atau kumpulan cerita pendek yang luar biasa seperti “Chivalry”, “Troll Bridge” yang terkumpul dalam kumpulan cerpen Mirror & The Mask, puisi seperti “The White Road”, “Eaten: Scenes from a Moving Picture”, dan “Vampire Sestina”. Selain cetak, ia juga merambah miniseri BBC dengan cerita realisme magis Neverwhere yang kemudian dinovelkan dengan judul yang sama. Versi terjemahan bahasa Indonesianya berjudul Kota Antah Berantah. Novelnya yang sesungguhnya American Gods, menang penghargaan Stoker mengalahkan karya Stephen King dan Peter Straub, Black House, dan sebuah buku anak-anak, Coraline.

Coraline merupakan karya penting bagi Neil Gaiman. Dalam jurnal onlinenya, ia mengungkapkan betapa cerita ini sangat berarti baginya. Tak sulit untuk melihat penyebabnya. Suksesnya dengan Sandman diraih secara kumulatif, sedangkan efek Coraline langsung segera terasa. Buku dan graphic novelnya sangat mudah dibaca, tak butuh waktu lama untuk mencernanya. Jelas-jelas buku ini ditargetkan sebagai buku anak-anak, tapi buku ini tetap bisa dinikmati oleh orang dewasa juga.

Soal isinya, sekilas bisa diceritakan demikian. Coraline Jones baru aja pindah ke apartemen barunya bersama kedua orang tuanya, yang sehari-harinya sibuk kerja di depan komputer. Karna kegiatan orang tua yang super sibuk, Coraline mencari kesibukannya sendiri. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah pintu yang terkunci di dalam sebuah ruangan apartemennya, yang tertutup oleh batu bata.

Coraline akhirnya berhasil menemukan kunci pintu itu, yang ternyata menghubungkan sebuah koridor gelap yang dengan apartemen yang mirip dengan tempat tinggalnya sekarang. Apartemen ini dihuni sama Ibu yang lain dan Ayah yang lain, replika dengan wujud yang mirip orang tuanya, hanya saja mereka memiliki sepasang mata yang terbuat dari kancing.

Coraline yang dibuai oleh keramahan dan kelezatan masakan Ibu lain diminta tinggal tetapi akhirnya Coraline menolak. Tapi waktu Coraline kembali ke apartemen asli, orang tua aslinya hilang. Rupanya orang tuanya diculik dan ia harus beraksi mengembalikan orang tua aslinya dari tangan jahat Ibu yang lain.

Dengan plot yang demikian lurus ini, Philip Craig Russell (http://www.pcraigrussell.net/), komikus ternama Amerika yang telah terlibat berkali-kali dengan Neil Gaiman dalam pembuatan komik Sandman, Endless Nights, akhirnya menuangkan adaptasinya ke dalam gambaran komik yang jauh lebih menarik.

Bila dilihat teliti, gambaran Philip Craig Russell sedikit berbeda dengan karya animasi atas cerita yang sama. Rupanya, menurut percakapan Philip Craig Russel dengan Newsarama (http://www.newsarama.com/comics/080819-PCRussell.html), ia betul-betul tidak melihat proses animasi yang sedang dikembangkan Dave Mckean. Itu sebabnya, dalam versi graphic novelnya, gambaran Coraline lebih terlihat dewasa dan situasi fantasi gelapnya lebih mencekam daripada versi animasi 3D-nya.


Karya yang dikerjakannya selama 2 tahun ini dirancang menjadi 200 halaman, namun kemudian dipendekkan menjadi seperti yang sekarang tersaji. Russell mengaku puas mengerjakan adaptasi ini, karena ia percaya cerita yang ditulis oleh Neil Gaiman memang betul-betul menawan.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s