Upaya Demitologi Raden Saleh

Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie & Nasionalisme
Karya Harsja W. Bachtiar, Peter Carey, Onghokham

raden_salehTerbit 2009 oleh Komunitas Bambu | Binding: Paperback | ISBN: 979-3731-38-9 | Halaman: 240

RADEN SALEH dipercaya—dan dari sebagian besar data yang ada—lahir tahun 1807. Ia tercatat lahir di daerah Terboyo, Semarang, Jawa Tengah. Adalah pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Paijen, yang menjadi guru lukis Raden Saleh. Ia sebenarnya bertugas lukisan pemandangan di Pulau Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Setelah tertarik pada bakat Raden Saleh, Paijen berinisiatif memberikan bimbingan.

Paijen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup membantu Raden Saleh menyelami seni lukis Barat dan belajar teknik pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Paijen juga mengajak pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.

Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Paijen mengusulkan agar Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Konon usul ini didukung oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen yang memerintah waktu itu (1819 – 1826), setelah ia melihat karya “ajaib” Raden Saleh. Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal de Kock, Capellen membiayai Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan kebiasaan orang Jawa, bahasa Jawa, dan bahasa Melayu.

Barulah kemudian Raden Saleh melegenda menjadi pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Jalan hidupnya sangat menarik, sebagai masyarakat biasa, menjadi pelukis istana Kerajaan Belanda hingga pelukis yang dikenal luas di daratan Eropa.

Lebih dari 200 tahun sosok Raden Saleh menjadi legenda, baik oleh karena dirinya maupun karena lukisan yang dihasilkannya. Salah satu lukisannya yang berukuran besar, “Berburu Rusa”, pada tahun 1996 terjual di Balai Lelang Christie’s Singapura seharga Rp 5,5 miliar. Fantastis bukan?

Lebih dari 200 tahun juga sosoknya dibanggakan oleh bangsa Indonesia karena hanya dirinya seoranglah yang mampu menerobos museum akbar seperti Rijkmuseum, Amsterdam, Belanda, dan dipamerkan di museum bergengsi Louvre, Paris, Prancis. Kala itu, pertengahan abad XIX, dunia seni lukis atau seni gambar para bumiputera umumnya masih mengacu pada gaya tradisional yang berkembang di daerah-daerah, dan sebagian terbesar menyimpan potensi dekoratif. Misalnya lukisan Bali, Jawa, ornamen di Toraja atau Kalimantan.

Hanya Raden Saleh seorang yang berkibar dengan gaya lukis fotografis, gaya seni lukis Barat. Raden Saleh tampil berbeda dari seni lukis Indonesia, yang oleh masyarakat Barat dinilai berunsur “religius-kontemplatif-abstrak”, bersifat keagamaan, bersemedi, lepas dari kebendaan.

Berbeda dengan mereka, lewat lukisan-lukisannya, Raden Saleh banyak menggambarkan suasana pemandangan, pertarungan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa. Dirinyalah yang dianggap pencetus aliran lukisan “Mooi Indie” (Hindia Molek) yang amat digemari oleh banyak orang, termasuk oleh Soekarno, dan aliran itu masih berpengaruh hingga saat ini.

Masyarakat umum menjadikannya ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan bangsa ini kepada dunia luar. Oleh peneliti Claire Holt, dianggap sebagai “ayah” bagi gerakan seni modern di Indonesia.

Bukan hanya itu: pada tahun 1969, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memberi Piagam Anugerah Seni sebagai Perintis Seni Lukis di Indonesia. Dan bahkan Alwi Shahab dalam esai panjang yang ditulisnya di harian Republika, 22 Desember 2002 menyatakan demikian tentang lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro yang dilukis Raden Saleh, “Itu merupakan sebuah karya lukis yang revolusioner dan antipenjajahan”. Bahkan akhirnya Raden Saleh ditempatkan di awal barisan panjang dari orang-orang Indonesia moderen dan figur proto-nasionalis.

Posisi demikian seolah makin disahihkan dalam Pameran Seni Visual – 200 Tahun Raden Saleh bertema “Ilusi-Ilusi Nasionalisme” di JogJa Gallery, tanggal 18 Agustus-9 September 2007, terutama yang selalu dirujuk adalah lukisan Raden Saleh berjudul “A Historisches Tableau: Die Gefangennahmen des Javanischen Häuptling Diepo Negoro” (Lukisan historis: Penangkapan Diponegoro).

Selama lebih dari 200 tahun juga, seringkali diungkap kedekatan Raden Saleh dengan Diponegoro. Raden Saleh yang berasal dari keluarga Syarif Bustaman dikaitkan dengan dua sepupunya, yaitu Raden Sukur (yang mengambil nama Raden Panji Adi Negara, lahir pada tahun 1803) dan juga kakaknya yang bernama Raden Saleh (alias Arya Natadiningrat, lahir pada tahun 1801) yang berjuang bersama Pangeran Diponegoro. Oleh karena masih bersaudara, maka mereka sama-sama nasionalis. (Coba lihat http://www.bkpm.org/radensalehba.htm)

Tapi buku ini berbicara lain. Demitologi Raden Saleh — inilah tema sentral buku ini. Buku ini seolah diterbitkan sebagai antitesis nasionalisme Raden Saleh. Ia melawan arus besar pemikiran banyak orang akan diri dan kiprah Raden Saleh, keterkaitannya jiwa nasionalismenya dengan Diponegoro yang disebut-sebut masih saudaranya, dan hasil karya lukisannya yang dirujuk sebagai bentuk nasionalisme dalam gambar.

Mungkin inilah yang dimaksudkan secara implisit oleh J.J. Rizal, sejarawan yang berada di balik terbitnya buku ini. Ia mengangkat kembali persoalan pokok mengenai figur Raden Saleh, justru tepat di perayaan ke-200 kelahiran Radeh Saleh, dengan mengangkat tiga tulisan dari sejarawan yang berbeda: Prof. Harsja W. Bachtiar yang termasuk sejarawan pertama yang menentang nasionalisme Raden Saleh, sejarawan Peter Carey yang sudah lebih dari satu dekade menghabiskan hidupnya untuk meneliti Diponegoro, dan Onghokham, sejarawan yang mengugat “Mooi Indie”.

Prof. Harsja W. Bachtiar, seorang yang berpendidikan Amerika ahli di bidang sejarah Indonesia, yang termasuk dalam generasi pertama dari cendikiawan Indonesia, menganggap bahwa lukisan tersebut sebagai tidak nasionalis.

Dia menulis: ”Wafatnya Diponegoro memberi inspirasi kepada Saleh, yang telah melihat banyak lukisan sejarah ketika di Eropa, untuk melukis apa yang dia sebut sebagai lukisan bersejarah ‘A Historisches Tableau: Die Gefangennahmen des Javanischen Häuptling Diepo Negoro’, yang dilukis untuk Raja Belanda menunjukkan sikap yang tidak nasionalis, namun sangat sesuai dengan hubungan yang menunjukkan rasa terimakasih seorang seniman terhadap aristokratik pelindungnya”.

Harsja W. Bachtiar melandaskan sikap ilmiahnya ini atas banyak catatan tentang Raden Saleh, terutama pada pernyataan kesetiaannya sesaat setelah dituduh ikut terlibat mendukung Peristiwa Tambun, Bekasi pada 1869.

Peter Carey lewat tulisannya yang mengupas khusus lukisan Raden Saleh atas penangkapan Diponegoro mengawali narasi dengan fakta bahwa ada pertentangan antara data-data kisah penangkapan Diponegoro baik dari cerita sisi Belanda yang diwakili de Koc k maupun dari sisi Diponegoro sendiri.

Fakta bahwa pada saat pecah Perang Jawa (Java Oorlog) di tahun 1825, Raden Saleh masih berumur 14 tahun dan tinggal di Bandung atau Bogor, jauh dari lokasi perang itu sendiri merupakan fakta yang susah dikesampingkan.

Raden Saleh meninggalkan Batavia pada tahun 1829 untuk pergi ke Belanda. Ketika Diponegoro ditangkap di Magelang pada tanggal 28 March 1830, Raden Saleh sudah menjadi siswa dari pelukis potret Belanda Cornelis Kruseman di Den Haag. Ketika beberapa tahun kemudian, Raden Saleh pindah ke Paris, seorang wartawan surat kabar melaporkan adanya perlakuan yang buruk dari Belanda terhadap Pangeran Diponegoro. Berita ini mengakibatkan terjadinya reaksi di The Hague. Bahkan pemerintah Perancis pun melayangkan protes resmi kepada pemerintah Belanda.

Pemerintah Belanda ingin sekali tahu siapa yang telah menyebarluaskan berita memalukan ini. Peter Carey yakin bahwa Raden Salehlah yang menjadi sumber di belakang artikel ini. Apa motifnya, Peter Carey masih belum mau memastikan.

Yang pasti, Raden Saleh akhirnya melukis versi lukisan yang mirip lukisan yang dikerjakan Nicolaas Pieneman, sebuah lukisan minyak di atas kanvas, 77×100 cm, berjudul “De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal De Kock” tanggal 28 Maret 1830, yang disimpan di Rijksmuseum Amsterdam.

Raden Saleh pasti pernah melihat lukisan Pieneman atau bahkan pernah melihat beberapa lukisan Pieneman yang lain di Batavia. Mungkin pula Raden Saleh membuat salinan dari lukisan Pieneman di Belanda. Ketika dia membuat sketsa pertama sebelum membuat lukisannya di tahun 1856, sketsa tersebut masih tampak dipengaruhi oleh komposisi Pieneman walaupun terlihat bahwa hubungan antara De Kock dan Diponegoro sudah semakin tegang. Raut muka De Kock tampak tegang demikian pula halnya dengan Diponegoro. Raden Saleh melukis dengan teknik lukisan minyak di atas kanvas, 112×178 cm, memperlihatkan adanya beberapa komposisi dan kualitas emosional yang tercampur dengan baik. Diponegoro yang terlihat marah menjadi pusat pandang di tengah lukisan. Dia berjuang untuk mengatasi perasaannya – ciri khas budaya Jawa -. Wajahnya menunjukkan sikap yang provokatif dan ekspresi menantang dan pejabat Belanda menunjukkan sikap yang kaku dan menghindari tatapan pandangan mata. Begitu pula, Raden Saleh merevisi keberadaan tumpukan senjata yang ada, dan sebaliknya memperlihatkan Diponegoro dan pengikutnya sama sekali tidak bersenjata.

Inilah yang dikritik oleh Peter Carey. Babad Diponegoro versi Menado maupun catatan pribadi De Kock yang diterbitkan memperlihatkan bahwa Diponegoro pada waktu penangkapan memang bersikap pasrah seolah-olah sudah tahu dirinya akan ditangkap dan ada banyak senjata yang disita dari para pengikut Diponegoro terdiri dari 87 tombak, sejumlah keris, dan lain-lain.

Onghokham yang hadir di bagian akhir buku ini, menghadirkan tulisan untuk menggugat “Mooi Indie” yang diusung oleh Raden Saleh sebagai dampak dari Orientalisme, yang istilahnya diperkenalkan oleh Edward Said. Mooi Indie membuat salah penggambaran tentang Indonesia dan lebih lanjut lagi memberi pengaruh pada cara penulisan ilmiah. Onghokham takut bahwa Mooi Indie diteruskan menjadi Mooi Indonesia dan aliran ini terus hidup untuk menggerogoti gambaran yang sebenarnya akan Indonesia karena seolah-olah semua serba damai, serba harmonis, serba seimbang.

Buku ini secara menarik juga menyajikan kisahan tentang rumah milik Raden Saleh di Batavia. Adanya di daerah Cikini dan sempat dikagumi oleh seorang jurnalis yang menyebutkan bahwa istana Raden Saleh adalah yang paling indah.

Istana itu dirancangnya sendiri dengan gaya Indisch Empire dan begitu mirip dengan satu istana kecil di Jerman, yakni Istana Callenburg, lalu ia mempunyai kebun binatang yang kemudian menjadi Taman Ismail Marzuki. Sementara istananya sendiri menjadi RS DGI Cikini di Jl. Raden Saleh, Jakarta.

Oya, makam Raden Saleh ada di Jl. Pahlawan, Bogor. Sesuai dengan tempat tinggalnya terakhir setelah bercerai dari istri pertamanya yang orang Belanda. Rumah keduanya memang berada di Buitenzorg, dan di sana ia tinggal bersama istri keduanya sampai akhir hayatnya tahun 1880.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s