Historiografi tradisional tentang Cirebon

Sejarah Cirebon
Karya P.S. Sulendraningrat

Terbit 1985 oleh Balai Pustaka | Binding: Paperback | ISBN: – | Halaman: 107

DI KALANGAN komunitas pemerhati dan pelestari kereta api (Indonesian Railways Preservation Society), kota Cirebon merupakan kota lintas batas yang penting. Karena Daerah Operasi (DAOP) III Cirebon bertugas menjembatani kereta yang berangkat dari Jakarta-Bandung menuju ke daerah Jawa Tengah dan Timur. Bila jalur ini terputus, niscaya jalur distribusi barang akan terganggu. Bagi komunitas ini, Cirebon juga punya arti lebih karena ia menyimpan kereta elektrik berbahan bakar diesel bersejarah yang dipakai untuk kendaraan transportasi delegasi-delegasi peserta Kongres Asia-Afrika ke-55 di Bandung. Kereta legendaris CC-200 itu terawat dengan baik di stasiun Kejaksan, tinggal satu di dunia. Aku pernah tinggal di Cirebon selama berbulan-bulan khusus untuk mendokumentasikan kereta ini.

Kota Cirebon juga menjadi salah satu kota pelabuhan terpenting di pantai utara Jawa setelah Jakarta dan Semarang. Di sini akan dijumpai pelabuhan Cirebon, pelabuhan yang memiliki peran strategis dalam hal perdagangan sejak masa Sunan Gunung Jati masih berkuasa. Kapal-kapal asing yang mengangkut barang-barang niaga dari dan ke luar negara, pernah meramaikan pelabuhan ini. Pemandangan itu pun masih kita temui hingga saat ini. Bila kita berjalan-jalan di sore hari, maka akan kita saksikan puluhan kapal-kapal besar tengah bersandar di dermaga.

Nilai strategis Cirebon inilah yang menyebabkan Cirebon menyimpan segudang cerita perebutan wilayah yang sudah diterakan sejak cikal bakalnya, di masa kerajaan Galuh-Pajajaran masih tegak berdiri. Potensi strategis ini juga dilirik oleh orang-orang Eropa yang mengunjungi pulau Jawa.

Seorang sejarawan Portugis, Joao de Barros dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita tentang hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, adalah Medez Pinto yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda di bawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang datang ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibentengi oleh sungai.

Bagaimana awal munculnya kota ini? Menurut P.S. Sulendraningrat yang mengutip “Manuskrip Purwaka Caruban Nagari”, di abad ke-14 ada sebuah desa nelayan kecil bernama Muara Jati. Pengurus pelabuhan adalah Ki Gedeng Alang-Alang yang ditunjuk oleh penguasa Kerajaan Galuh (Pajajaran). Karena makin lama makin besar aktivitas baharinya, Ki Gedeng Alang-Alang memindahkan tempat pemukiman ke tempat pemukiman baru di Lemahwungkuk, 5 km arah selatan mendekati kaki bukit menuju kerajaan Galuh. Sebagai kepala pemukiman baru diangkatlah Ki Gedeng Alang-Alang dengan gelar Kuwu Cerbon.

Masa demi masa berganti, tibalah saat Adipati Cirebon yang dipangku oleh Pangeran Walangsungsang mulai berpikir untuk melepaskan diri dari Kerajaan Galuh dengan tidak mengirimkan upeti. Oleh Raja Galuh dijawab dengan mengirimkan bala tentara ke Cirebon Untuk menundukkan Adipati Cirebon, namun ternyata Adipati Cirebon terlalu kuat bagi Raja Galuh sehingga ia keluar sebagai pemenang. Mereka sanggup menang karena didukung oleh kekuatan tentara Islam di bawah pengaruh Sunan Gunung Jati dan panglimanya yang hebat dari Samudra Pasai, yakni Fadilah Khan (Falatehan) yang memimpin pasukan pemukul dari Demak. Falatehan juga yang menjadi penakluk pelabuhan Sunda Kalapa (kelak menjadi cikal bakal kota Jakarta). Dengan demikian berdirilah kerajaan baru di Cirebon, yang kental keislamannya dan menjadi penakluk kerajaan Galuh (Pajajaran) yang besar itu. Makin lama aktivitas kota ini berkembang sampai kawasan Asia Tenggara.

Sebenarnya sampai di titik ini, aku masih nyaman-nyaman saja membaca buku ini. Tapi begitu membaca narasi P.S. Sulendraningrat di halaman 36-44, aku jadi ngeri sendiri. Isinya narasi tentang bagaimana kerajaan Cirebon mulai menjatuhkan kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya, dengan motor Dewan Wali Songo. Dikisahkan bagaimana Sunan Gunung Jati merancang dan terlibat dalam peperangan untuk menaklukkan kerajaan lain semisal Galuh dan “mengubah” dasar kerajaan taklukkannya. Satu-satunya jalan bagi mereka yang tidak mau takluk adalah keluar dengan terpaksa dari wilayah yang dikuasainya dan masuk ke hutan, entah kemana. Bisa jadi memang demikian isi “Manuskrip Purwaka Caruban Nagari” yang dikutip oleh P.S. Sulendraningrat tentang bagaimana Islam disebarkan, tapi ada baiknya digunakan sumber pembanding/penguat, agar tidak timbul kesan yang salah pada pembaca.

Misalnya, kisahan tentang asal nama Cirebon. P.S. Sulendraningrat menyebutkan nama itu berasal dari “ci” berarti air dan “rebon” yang berarti udang, untuk merujuk bahwa tempat itu penghasil udang terbaik. Tapi aku lebih condong memakai sumber historiografi tradisional lain yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.

Di antara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Babad Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad Walangsungsang, dan lain-lain. Dari sumber lain, kita akan menemukan asal mula kata “Cirebon” adalah dari kata “sarumban” yang berarti “campuran”. Ini merujuk bahwa tempat tinggal mereka ditinggali oleh beragam suku bangsa yang bercampur. Penamaan “sarumban” kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berubah menjadi kata “Cerbon”, dan akhirnya menjadi kata “Cirebon”. Menurut sumber ini, para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.

Atau paling tidak buka lagi halaman-halaman awal buku ini. Dua nama profesor Leiden yang amat terkemuka sempat disebut penulis di awal buku ini. Dua nama ini sudah aku kenal lewat guru sejarahku di SMA. Nama mereka dikenal karena perdebatan-perdebatan historiografi di antara keduanya: Prof. Dr. Kern dan Prof N.J. Krom. Nama yang pertama lebih dulu dikenal sebagai ahli sejarah Hindia Belanda, baru kemudian nama yang kedua — yang juga dikenal sebagai “guru” dari Prof. Poerbatjaraka. Aku pikir dengan disebutkannya nama kedua sejarawan hebat ini, buku ini akan lebih komprehensif menceritakan tentang sejarah Cirebon dengan dilengkapi pandangan keduanya. Tapi memang, sampai akhir buku, tampaknya sumber utama lebih pada “Manuskrip Purwaka Caruban Nagari” saja.

Aku pikir cukup reviewnya, dan lebih baik bila sempat mampirlah ke Cirebon sesekali. Banyak yang bisa dilihat mulai dari makam Sunan Gunung Jati dan Falatehan di area Gunung Sembung atau melihat keraton-keraton yang megah.

Bila capek, nikmati wisata kuliner yang barangkali sudah Anda kenal sebelumnya seperti tahu gejrot, empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko, terasi udang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s