Gerundelan “asli” kelas menengah Indonesia

Kopi Merah Putih
karya Indonesia Anonymus

Terbit Mei 2009 oleh Gramedia Pustaka Utama | Binding: Paperback | ISBN: 9789792245295 | Halaman: 192

‘INILAH suara (gerundelan) “asli” kelas menengah Indonesia!’

Itu pernyataanku seandainya ada orang yang ingin tahu apa komentarku atas buku Kopi Merah Putih ini.

Meskipun berlindung di balik nama Indonesia Anonymus (IA) dengan alasan yang mereka percayai sendiri (Anda bisa temukan sendiri di halaman-halaman akhir buku ini) dan mereka mantap menuliskan bahwa tidak penting siapa jati diri yang menulis, para penulis yang menyatakan diri sendiri sebagai kuli kerah putih ini dapat dipastikan merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai “kelas menengah Indonesia”, yang menurut perhitungan Cyrillus Harinowo, jumlahnya sudah lebih dari 30 juta orang. Jumlah ini sudah jauh melebihi jumlah penduduk Malaysia yang mencapai sekitar 27 juta jiwa.

Bagaimana kesimpulan itu aku tarik?

Pertama-tama, aku klasifikasikan tulisan mereka yang ada di buku. Dari 17 tulisan yang ada, empat tulisan mengangkat soal pendidikan, empat tulisan tentang sosial kemasyarakatan, sosial politik juga empat tulisan, tiga tulisan mengenai ekonomi mikro, dan dua tulisan bertema kesehatan.

Selanjutnya, meneliti karakteristik isi tulisan dari masing-masing tema. Paling tidak ada satu di antara para penulis itu memiliki ketertarikan luar biasa pada isu pendidikan dikarenakan data-data yang ia sediakan sungguh memukau. Tentunya untuk mendapatkannya, perlu akses lebih. Pendidikan yang dinyatakan penting bagi perbaikan bangsa ternyata dibiarkan tetap kerdil anggarannya. Dunia pendidikan tingginya tidak mampu bersaing dengan dunia luar. Lulusan-lulusannya meminta pemakluman. Kurang lebih begitu gambarannya. Yang menarik adalah isu pendidikan yang mereka kupas hampir-hampir mirip dengan kritik yang dilontarkan gerakan para priyayi di zaman Hindia Belanda yang bermahzab pendidikan sebagai kunci perubahan masyarat. Tanpa pendidikan yang terorganisir rapi dan prima, mustahil perubahan masyarakat akan terjadi.

Salah satu dari mereka kemungkinan kuat memiliki latar belakang statistika/ekonomi karena sangat gemar menyajikan angka-angka yang sudah dihitung secara nalar. Misalnya sudah disajikan bagi pembaca jumlah sampah yang kita hasilkan setiap hari, atau jumlah watt listrik yang disia-siakan setiap orang. Hampir di setiap tulisan, dilakukan eksperimen –yang aku yakin sebenarnya sekedar backyard sampling pada orang-orang di sekitar mereka– untuk setiap topik yang diangkat. Mungkin penulisnya bekerja sebagai ahli pemasaran/marketing, bisa jadi bukan?

Dan boleh dibilang mereka mewakili betul gambaran kelas menengah Indonesia yang menurut Survei Litbang Kompas dan Academia Sinica Taiwan pada tahun 1996 dinilai konservatif, pro-kemapanan, menganggap masyarakatnya belum siap menerapkan demokrasi dan penuh ambivalensi terhadap pilihan pemihakan yang mendasar dalam berbagai konflik sosial. Meskipun demikian, haruslah diberi catatan bahwa mereka yang menulis ini justru berasal dari kelas menengah baru yang berada pada situasi pasang demokratisasi. Situasi pasang demokratisasi yang sangat besar kemungkinan terjadi karena gelombang keterbukaan yang dihembuskan hari-hari dewasa ini baik oleh media nasional maupun lewat kemudahan mengemukakan pendapat pribadi ke publik lewat internet (apapun medianya mulai dari blog sampai facebook) mengimbas pada banyak orang. Dan tidak sedikit kelas menengah yang memakai bilik-bilik pribadi ini untuk melakukan aksi-aksi sosial. Cobalah mampir ke gerakan Coin A Chance/CAC yang diusung oleh Hanny dan Nita, dua sahabatku. Dari sekedar mengumpulkan uang receh yang teramat sering kita telantarkan, mereka sekarang paling tidak sudah bisa menyekolahkan satu orang anak. Aksi IA memang tidak sama dengan CAC, tetapi kurang lebih semangatnya sama.

Yang membuat kesimpulanku semakin bulat, justru judul buku itu sendiri: yang menurut IA dicantumkan oleh Isman H. Suryaman, editor dari Gramedia.

Mengaitkan kegiatan minum kopi dan demokrasi, mau tidak mau mengingatkanku pada sekelompok mahasiswa kritis yang diminta mengisi acara radio pada tahun 1973. Adalah Rudy Badil, Dono, Nanu, Kasino, dan Indro setiap Jumat malam dari jam 20.30 WIB sampai 21.15 WIB siaran dari stasiun di daerah Prambanan, Mendut, Borobudur dan sekitarnya (atau disingkat PRAMBORS) dan dalam waktu singkat mampu memukau banyak pendengar dengan lawakan kritis. Mereka menamakan acaranya “Warung Kopi”. Korelasi yang menarik kan?

Mengenai isi buku ini selengkapnya, aku tertarik dengan kupasan tentang bajaj, soal harga diri, dan soal usaha kecil. Sekedar berbagi cerita saja, cerita tentang usaha kecil cukup dekat denganku karena kami sekeluarga punya warung kelontong kecil. Dulunya cukup bahagia, lumayan sekali uang yang masuk setiap hari dari sekedar jual air minum, gas, susu, rokok. Tapi sejak ada dua Alfamart yang menghimpit warung kecil kami, warung jadi sepiiii… Cukup banyak warung yang lebih kecil sudah tutup, sisanya di jalan kami hanya tinggal dua warung kecil. Konon ada perda tentang persaingan usaha (di buku tidak disebut) dan ibuku sempat mengajak pemilik toko kecil untuk berserikat dan berunjuk rasa.

Buku ini terpilih masuk nominasi buku akan kuwariskan ke anakku. Meskipun dia sudah mulai meremas-remasnya dengan super gemas tadi malam.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s