Cahaya yang tampak terang di pulau yang sangat penting itu

Sejarah Sumatra
Karya William Marsden

Terbit Juni 2008 (cetak pertama 1811) oleh Komunitas Bambu | Binding: Paperback | ISBN: 9789793731223 | Halaman: 445

BUKU ini merupakan buku klasik dan merupakan salah satu karya pionir mengenai Sumatra yang ditulis sebagai ensiklopedia. Buku ini sarat data yang rinci sehingga memberi deskripsi yang jernih mengenai seluruh aspek kehidupan masyarakat Sumatra mulai dari Aceh, Minangkabau, Rejang, Pasemah, Batak, Lampung dan lainnya.

Ditulis oleh William Marsden, seorang pekerja EIC (East India Company) suatu kongsi dagang Inggris di Indonesia. EIC adalah saingan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie yaitu kongsi dagang Belanda yang bermarkas di Batavia. Dia bertugas di Bencoleen (sekarang Bengkulu), suatu wilayah di Sumatra yang lama dikuasai Inggris berdasarkan perjanjian dengan Belanda.

Sambil menjalankan tugasnya sehari-hari, rupanya William Marsden melakukan banyak hal untuk memenuhi ambisinya: membuat karya ensiklopedik tentang Sumatra, pulau besar dan penting dalam sejarah Indonesia, yang ia tulis dalam bukunya sebagai pulau yang “penting dan fantastis”.

Ia bekerja dengan memadukan hasil penelitian berdasarkan sumber-sumber tertulis berupa laporan-laporan maupun wawancara serta kunjungan ke beberapa tempat di Sumatra, bahkan seringkali ia bertanya kepada banyak orang sebangsanya atau orang Belanda atau pribumi, dan mengumpulkan bahan-bahan publikasi pada zamannya tentang Sumatra.

Tahun 1779, tugasnya selesai di Bengkulu dan ia kembali ke London. Di London ia mendapatkan banyak dukungan dari Royal Society untuk menulis buku tentang Sumatra. Maka pada April 1783, terbitlah karyanya berjudul The History of Sumatra, suatu karya pionir tentang Sumatra yang komprehensif, yang kemudian diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Komunitas Bambu, Jakarta pada Juni 2008. Terjemahan ini didasarkan pada buku asli edisi ketiga yang diterbitkan Oxford University, Kualalumpur tahun 1966. Tebal buku terjemahannya 445 halaman, ringkas dan ringan untuk dibawa ke mana-mana, cetakan bagus, dilengkapi dengan foto-foto tempo doeloe Sumatra periode 1600-1950.

Buku ini diakui sendiri oleh Thomas Stamford Raffles lebih baik dan menginspirasi dirinya menulis The History of Java. William Marsden adalah kawan baik Raffles dan menjadi makin erat saat Raffles “dibuang” oleh pimpinannya ke Bencoleen (sekarang Bengkulu). Ketika membuka diskursus dalam acara HUT XXV Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (The Society of Arts and Sciences in Batavia) pada tanggal 24 April 1813, Thomas Stamford Raffles sampai berkata, “William Marsden telah melemparkan cahaya ke atas Pulau Sumatra dengan The History of Sumatra, sehingga semua tampak terang di pulau yang sangat penting itu.”

Ada begitu banyak topik dalam buku ini, mulai dari Deskripsi Umum, Perbedaan Penduduk, Infrastruktur dan Kehidupan Sehari-Hari, Kekayaan Alam Sumatra, Aneka Varietas Dunia Flora, Keanekaragaman Dunia Fauna, Komoditas Perdagangan dan Hasil Perkebunan, Kekayaan Alam dan Perdagangan Impor, Keahlian Orang Sumatra, Bahasa dan Abjad, Sosiologi Masyarakat Sumatra, Adat Istiadat dan Hukum Adat, Hukum Adat dan Perbudakan, Ritus Perkawinan dan Hiburan, Tradisi Orang Sumatra, Lampung, Perbedaan Penduduk, Kerajaan Melayu dan Kerajaan Minangkabau, Kerajaan-Kerajaan di Tepi Sungai, Batak, Aceh, Sejarah Kerajaan Aceh, Gugusan Pulau di Pantai Barat Sumatra.

Secara khusus tulisan ini akan fokus pada 12 halaman pertama buku ini: mulai dari pendahuluan William Marsden tentang titik lintang beberapa tempat di Sumatra hingga cerita tentang asal Sumatra. Menurutku, William Marsden menulis beberapa pendapatnya teramat dini, yang dalam pendapatku hampir jadi itu tafsirnya sendiri yang aku nilai ceroboh. Bagaimana jelasnya, akan aku tuliskan dalam kelompok-kelompok pembahasan seperti berikut:

TAPROBANA

William Marsden menulis bahwa keberadaan pulau Sumatra tidak dikenal oleh orang-orang Yunani. Namun ini merupakan opini yang ceroboh karena dalam kartografi Yunani, khususnya yang dibuat oleh Claudius Ptolemy, Sumatra tercantum di sana dengan nama Taprobana. Taprobana merupakan pulau yang kaya akan emas, demikian sedikit penjelasan Ptolemy. Namun Marsden menulis Taprobana adalah Sri Lanka. Benarkah?

Baru tahun lalu, debat panjang tentang Taprobana terjadi lagi. Tepatnya terjadi di Australian National Library (ANL) Map Gallery selama bulan Januari-Maret 2008 atas peta Taprobana yang dibuat oleh Sebastian Munster tahun 1580. Bandu de Silva dalam penjelasannya mengenai debat itu mengungkapkan sejumlah alasan mengapa debat itu terjadi lagi: Taprobana terlalu besar digambarkan sebagai Sri Lanka yang jelas-jelas cuma sekedar pulau kecil di selatan India dan posisinya tidak begitu tepat, sehingga lebih cocok bila Taprobana itu Sumatra. Lagipula jalur gunung api yang melintasinya, lebih cocok merujuk pada Sumatra daripada Sri Lanka. Peta yang dibuat oleh Munster diproduksi berdasarkan peta Ptolemy yang dibuat abad ke-2 dan ditemukan kembali di Timur Tengah sekitar tahun 1400.


Gambaran lebih detil tentang Taprobana oleh Ptolemy

Lebih lanjut lagi Frank Haselein, sejarawan Jerman menulis pada tahun 2007 bahwa Taprobana yang ditulis oleh Ptolemy sebenarnya adalah Kalimantan (Borneo). Dalam penjelasannya, Haselein merujuk pada luasan wilayah Taprobana yang semestinya sebanding dengan luas pulau Kalimantan.

Jadi sesungguhnya, tidak bisa ditutup begitu saja pandangan bahwa Taprobana adalah Sri Lanka dan seolah-olah keberadaan Sumatra tidak dikenal sebelumnya.

Bukti-bukti yang semakin hari ditemukan, semisal temuan situs Labu Tua di Barus oleh tim Claude Gillot, menunjukkan bahwa Sumatra memang merupakan pulau yang “penting dan fantastis bagi dunia” sama seperti pandangan Marsden, dan oleh karenanya ada kaitan antara Taprobana dengan Sumatra, karena Ptolemy sendiri menulis Taprobana mempunyai sebuah tempat bernama Barusai (atau kemudian ditulis dengan beragam nama seperti Barus, Barru, Baruga), penghasil kapur barus (Canfora Fansuri) atau ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”, ”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja dan bangsawan di Yunani, Romawi, Mesir, Persia dan lainnya. Kedudukan Barus lebih kurang seperti kedudukan Paris saat ini yang terkenal dengan inovasi minyak wangi mewahnya. Kapur barus ini sudah digunakan bangsa Mesir untuk membalsam mayat Firaun. Dan kapur ini bukan di Kampar (
daerah Riau) seperti yang ditulis oleh Marsden, tetapi lebih ke utara, di Barus (daerah Tapanuli).

OPHIR

Negeri Ophir adalah negeri yang dikenal sebagai penghasil emas yang dipersembahkan oleh Hiram, Raja Tirus, kepada Raja Sulaiman. William Marsden mengatakan, tidak mungkin ada kaitan antara Ophir dengan Sumatra.

Menurutku, pendapat ini juga masih membuka diskusi. Tirus dikenal sebagai pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Timur Jauh adalah seluruh negeri yang berada di jalur pemasaran, termasuk Sumatra yang dikenal dengan hasil emasnya. Sehingga masih ada kemungkinan bahwa negeri Ophir yang dimaksud adalah Sumatra.

FANSUR

Ketika memeriksa catatan-catatan perjalanan Arab, William Marsden anehnya luput saat menerjemahkan keberadaan Fansur. Ia tidak menunjuk pada Barus yang berada di Tapanuli Tengah, tetapi malahan mengasosiasikan Fansur dengan tempat lain. Padahal sudah banyak bukti yang mengarah ke Barus, yang lewat temuan yang paling terakhir dicatat sebagai tempat awal penyebaran Islam di Sumatra.

Fansur adalah nama lain dari Barus, Barru, Baruga, Barrusai. Tempat yang begitu penting sampai Marco Polo menulis demikian dalam jurnalnya: You then come to another kingdom which is called FANSUR. The people are Idolaters, and also call themselves subjects of the Great Kaan; and understand, they are still on the same Island that I have been telling you of. In this kingdom of Fansur grows the best Camphor in the world called Canfora Fansuri. It is so fine that it sells for its weight in fine gold.

Pengarisbawahan itu merupakan sebuah gambaran betapa berharganya kapur barus pada saat itu. Bagaimana mungkin William Marsden abai atas informasi ini? Aku sendiri tidak tahu.

LAMBRI

Jabaran semakin kacau waktu William Marsden menyentuh soal Lambri. Mengenai kota Lambri ini, juga ada dalam catatan Marco Polo yang berbunyi: When you leave that kingdom you come to another which is called LAMBRI. The people are Idolaters, and call themselves the subjects of the Great Kaan. They have plenty of Camphor and of all sorts of other spices… Now you must know that in this kingdom of Lambri there are men with tails; these tails are of a palm in length, and have no hair on them. These people live in the mountains and are a kind of wild men. Their tails are about the thickness of a dog’s. There are also plenty of unicorns in that country, and abundance of game in birds and beasts. Now then I have told you about the kingdom of Lambri.

Oke? Menarik bukan bahwa di Lambri dikenal orang berekor, ekornya sepanjang telapak tangan dan tidak berbulu. Tinggalnya di hutan dan jenis liar. Apakah ini bekantan? Bisa jadi. Lalu ada juga “unicorn”, jangan dibayangkan mahluk fantasi kuda bertanduk itu yah, tetapi ini sesungguhnya adalah badak bercula satu. Soal ini memang menarik, tapi aku tidak mau membahas terlalu banyak karena kurang menguasai.

Kembali ke topik: Bagaimana mungkin Lambri diartikan berbeda dengan Al-Rammi oleh Marsden? Padahal semuanya merujuk pada hal yang sama. Lambri atau dikenal dengan nama lain Ramni (Abu Zaid Hasan), Lamuri (Prapanca), Lanpoli (Ma-Huan) dan Lambry (Tome Pires) sebenarnya merujuk pada kerajaan yang sama pentingnya seperti Barus, Perlak, dan Pase. Berdasarkan temuan arkeolgis berupa keramik Cina dan studi geologi, Lambri terletak di Lambaro, di daratan Kuala Pancu, berdekatan dengan Lhok Lambaro.

Mengenai pembahasan tentang Lambri ini, salah satu rujukan yang bisa dipakai adalah buku berjudul Lobu Tua: Sejarah Awal Barus ditulis oleh Ecole française d’Extrême-Orient Centre de Jakarta, C. Guillot, Pusat Penelitian Arkeologi (Indonésie), École française d’Extrême-Orient, Daniel Perret dan diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2002.

SUMATRA

Terakhir, adalah darimana datangnya nama Sumatra. Marsden kurang begitu jelas menjelaskannya. Jadi aku coba menjelaskannya sebatas yang aku tahu.

Terlebih dulu, harus dijelaskan bahwa penamaan sebuah pulau khususnya di Asia Tenggara masa lalu mengikuti pola negeri mana yang saat itu sedang jaya atau berkuasa. Para pengelana Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Coba baca buku Early Mapping of Southeast Asia untuk mendapat gambaran bagaimana sebuah peta dibuat. Maka darimana datangnya nama Sumatra? Mulai cukup banyak wacana yang mengatakan bahwa nama itu datang dari sebuah kerajaan besar bersama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14.

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatra (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku.

Tetapi yang paling aneh dari semua catatan itu adalah catatan Marco Polo sendiri, yang menyebut Sumatra sebagai Java Minor, entah apakah artinya lebih kecil dari Jawa (padahal Sumatra jauh lebih besar) atau ini dimaksudkan Marco Polo sebagai kembaran dari pulau Jawa.

Baiklah, itu tadi kupasan kritis atas 12 halaman pertama buku ini. Semoga cukup menarik untuk dibagikan karena memang untuk karya-karya seklasik ini, sangat baik dibaca dengan ditemani informasi-informasi terkini.

Sesungguhnya ada begitu banyak topik menarik lainnya di dalam buku yang bertindak sebagai ensklopedia ini. Hanya takut, bila nanti malah melebar menjadi kupasan yang tidak terlalu penting.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s