Kisah Kontestasi Sejarah Lokal

Dari Holotan ke Jayakarta
Karya Slamet Muljana

Terbit 1980 oleh Penerbit Idayu | Binding: Paperback | ISBN: – | Halaman: 84

SEBELUM banyak orang sekarang rajin bicara tentang sejarah lokal sebagai buah otonomi daerah, adalah Prof. Dr. Slamet Muljana sudah memulainya lebih dulu. Nama sejarawan ini sebenarnya sudah muncul sejak tahun 1953, waktu ia menerbitkan pertama kali tafsir Nagarakretagama.

Karya sejarawan dan ahli bahasa yang lahir di Yogyakarta, 21 Maret 1921 dan wafat di Jakarta, 2 Juni 1986 pada umur 65 tahun ini hampir selalu menimbulkan kontroversi. Misalnya dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (1968, cetak ulang 2006) dengan berani ia ungkapkan bahwa Walisongo adalah para ulama keturunan Cina, yang berbeda dengan kepercayaan masyarakat luas bahwa anggota-anggota Walisongo adalah keturunan Arab. Sensor dan pelarangan dari pemerintah Orde Baru pun akhirnya ia terima. Bukunya dilarang terbit karena akan mengakibatkan sentimen anti-Cina. Karya lain yang juga berani menentang pendapat umum adalah Sriwijaya 1960 cetak ulang 2006. Dalam buku itu ia berpendapat bahwa Rakai Panangkaran adalah anggota keluarga Syailendra yang telah mengalahkan keturunan Sanjaya. Padahal pendapat umum mengatakan kalau Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya yang menjadi bawahan Syailendra.

Kalau namanya kurang dikenal oleh orang kebanyakan bisa jadi karena banyak hal. Majalah Tempo pernah menulis demikian: “Seorang penulis jang baru menerbitkan karjanja menghadapi pelbagai kemungkinan reaksi. Ia boleh djadi dipudji dan disandjung tapi mungkin djuga di ketjam atau dimaki. Jang paling berat baginja ialah kalau bukunja itu dianggap sepi didiamkan seperti angin lalu.” Apalagi sejak ia wafat tahun 1986 jarang ada yang menyebutnya kecuali sejarawan LIPI Asvi Warman Adam. Tapi sejak banyak buku-bukunya dicetak ulang oleh LKiS Yogyakarta sejak tahun 2005 orang mulai membicarakannya lagi.

Buku yang kubaca ini tidak termasuk yang dicetak ulang tetapi kadar kontroversi dan kekhasannya memiliki potensi untuk dibahas lebih dalam bagi para peminat sejarah. Judul “Dari Holotan ke Jayakarta” hampir mencerminkan isinya yang sebenarnya mengupas: 1. Holotan kota yang sampai sekarang masih dinyatakan misterius keberadaannya 2. Mohoshin yang senasib dengan Holotan ini yang luput dari judul dan 3. Jayakarta. Karena bukunya susah dicari aku kupaskan satu-satu isi buku yang kupinjam dari Aldo Zirsov ini.

Tentang Holotan:
Pulau Jawa dalam catatan sejarah telah dikenal oleh Cina melalui tulisan pendeta Budha Fa Hsien yang terdampar di “Ya-wa-di” dan tinggal di situ selama 5 bulan setelah berlayar selama 90 hari dari Srilanka menuju Kanton pada tahun 414 M. Menurut catatan Fa-Hsien belum ada pemeluk agama Budha yang ada adalah pendeta Brahmana. Kontak resmi Cina dengan Jawa secara resmi dimulai di zaman Dinasti Sung 420-479 M yang pada tahun 435 M menerima utusan Ja-wa-da atau Jawa Dwipa yang diperintah oleh Sri Pa-da-do-a-la-mo. Yang membawa sepucuk surat dan upeti. Negara asal dari utusan raja Jawa Kuno itu seringkali disebut sebagai Holotan yang diidentifikasikan oleh Slamet Muljana sebagai Areuteun berdasarkan transliterasi dan toponomi bahasa. Holotan disinyalir sebagai kerajaan tua di Jawa Barat sebelum kerajaan Taruma. Bahkan kerajaan Holotan ini bisa dikatakan sebagai kerajaan paling tua di Jawa lebih tua dari “Ho-ling” atau Keling di lembah sungai Brantas Jawa Timur. Wilayah kerajaan tertua itu diidentifikasi oleh Slamet Muljana berada di muara sungai Ciareuten berdasar prasasti Ciareuten.

Kontestasi Holotan sebagai Arueten ini mencoba membedakan atas sejumlah tafsir sejarawan bahwa Holotan berada di tempat lain semisal di Semenanjung Melayu atau bahkan ada di dekat kota Barus di Tapanuli Tengah yang zaman dulu dikenal dengan nama Barousai Baruga atau Barru berdasarkan kartografi yang menyebutkan Holotan ada di selatan Po-luchi. Soal kontestasi ini aku sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk mendukung penjelasan Slamet Muljana biar aku tetap percaya bahwa Holotan adalah Kalasan kota di utara Barus.

Tentang Mohoshin:
Dari penjelasan I-tsing juga diceritakan tentang keberadaan negeri Mohoshin yang cepat-cepat diidentifikasi Slamet Muljana sebagai Bekasi dari transliterasi Cina ke bahasa Sanskrit bhagasin. Untuk melengkapi argumentasinya Slamet Muljana menambahkan beberapa penjelasan yang sayangnya masih kurang kuat untuk aku percayai. Tidak ada catatan kaki atau keterangan sumber.

Dan terakhir tentang Jayakarta:

Di bagian ini Slamet Muljana menantang pendapat Soekanto sejarawan yang ditugasi Gubernur Jakarta Sudiro untuk meneliti kapan kota Jakarta lahir dan Hosein Djajadiningrat. Secara tajam Slamet Muljana mengajukan pertanyaan kritis: Siapa bilang 22 Juni atau 17 Desember adalah hari ulang tahun kota Jakarta? Siapa bilang Falatehan adalah sama dengan Sunan Gunung Jati?

Pada tahun 1954 Gubernur DKI Jakarta Sudiro meminta Mohammad Yamin Sudarjo Tjokrosiswono dan Soekanto meneliti kapan sebenarnya kota Jakarta lahir. Mereka memberi jawaban: 22 Juni tahun 1527 tahun saat Fatahillah mengalahkan Portugis di Teluk Jakarta telah dianggap sebagai asal Jakarta. Sukanto mempublikasikan hasil penelitiannya ke dalam buku berjudul Dari Jakarta ke Jayakarta: Sejarah Ibukota Kita, Soekanto 1954

Hasil penelitian Sukanto segera direspon oleh para ahli sejarah lain. Tak kurang dari Hoesin Djajadiningrat doktor pertama Indonesia yang sejak 1913 telah menjadi doktor sejarah melalui disertasinya yang terkenal tentang sejarah Banten: Critische Beschouwing van de Sedjarah Banten, terbitan Haarlem, 1913. Hoesin Djajadiningrat berkesimpulan bahwa hari lahir kota Jakarta Jayakarta adalah 17 Desember 1526. Argumennya adalah bahwa hari itu adalah hari kemenangan Falatehan/Fatahillah di Jakarta atas Portugis yang konon bertepatan dengan hari kemenangan Nabi Muhammad dalam perang merebut Mekkah. Falatehan adalah seorang ulama yang tawakal maka sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah ia mengucapkan ayat Al-Quran “Inna fatahna laka fathan mubinan” seperti yang yang diucapkan Nabi Muhammad ketika berhasil merebut Mekkah.

Secara mengejutkan Slamet Muljana menyerang pendapat Soekanto dan Hoesin Djajadiningrat dalam rangkaian tulisan ilmiah populer di Koran Suara Karya pada April-Mei 1979 yang kemudian dimuat di bagian ketiga buku ini. Slamet Muljana berargumen dan menolak tanggal-tanggal kelahiran Jakarta dari Soekanto maupun Hoesin Djajadiningrat bahkan Slamet Muljana mengeluarkan kesimpulan yang mengejutkan: bahwa Falatehan atau Fatahillah itu tidak sama dengan Sunan Gunung Jati salah seorang wali dari Wali Songo. Kesimpulan ini dahsyat karena Dennys Lombard yang terkenal dengan Nusa Jawa: Silang Budaya saja masih menulis Falatehan = Fatahillah = Sunan Gunung Jati.

Argumen Slamet Muljana terutama didasarkan kepada naskah “Purwaka Tjaruban Nagari” tulisan Pangeran Arya Tjarbon (1720). Ini adalah naskah sejarah (babad) lokal wilayah Cirebon. Naskah ini sudah diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya ke dalam bahasa Indonesia oleh Sulendraningrat, penanggung jawab Sejarah Cirebon, dan diterbitkan Penerbit Bhratara tahun 1972.

Naskah “Purwaka Caruban Nagari” menguraikan dengan jelas bahwa Panglima Demak yang berasal dari Samudra Pasai dan berhasil menguasai Banten dan Sunda Kalapa pada tahun 1526 dan 1527 bernama Fadillah Khan. Slamet Muljana mengatakan bahwa Falatehan ialah transliterasi (pergantian huruf dan bunyi) dari nama asli Fadillah Khan. Nama aslinya adalah: Maulana Fadillah Khan Ibnu Maulana Makhdar Ibrahim al-Gujarat.

Kemudian, naskah “Purwaka Caruban Nagari” pun sama sekali tak menyinggung pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta seperti diberitakan di banyak buku sejarah ketika Falatehan menduduki Sunda Kelapa dan mengusir Portugis. Nama Sunda Kelapa tetap dipakai sampai akhir tahun 1500-an. Tahun 1628, ketika pasukan Sultan Agung dari Mataram menyerang Batavia yang saat itu sudah diduduki Belanda (nama Batavia dipakai sejak tahun 1613), naskah Purwaka menyebut nama Jayakarta. Artinya ada pergantian nama dari Sunda Kelapa ke Jayakarta, tetapi itu terjadi sekitar akhir 1500-an dan awal 1600-an, bukan sejak 1527.

Slamet Muljana pun berargumen bahwa Falatehan itu adalah ulama sekaligus panglima perang Islam yang pernah hidup di Samudra Pasai, Demak, dan Banten sebelum ke Sunda Kelapa. Setelah menaklukkan Sunda Kelapa, Falatehan diangkat menjadi bupati Sunda Kelapa oleh Susuhunan Gunung Jati (Sunan Gunung Jati).

Nama Jayakarta bukanlah dari ucapan Al-Quran seperti yang diusung oleh Hoesein Djajadiningrat, tetapi dari nama seorang pangeran, cucu menantu sultan Banten bernama Pangeran Wijayakarta/Jayawikarta/Wijayakrama. Ayah pangeran ini adalah Ki Bagus Angke, menantu Sultan Hasanuddin penguasa Banten pada tahun 1550-an (Sultan Hasanuddin adalah anak Sunan Gunung Jati). Ki Bagus Angke ditugaskan Hasanuddin menjadi bupati di Sunda Kelapa. Kemudian, Ki Bagus Angke digantikan Pangeran Jayakarta. Begitulah, sebelum Belanda menguasai Jakarta, saat itu Pangeran Jayakarta tengah menjadi penguasa di Sunda Kelapa.

Lebih lanjut Slamet Muljana mengatakan Falatehan/Fatahillah dan Sunan Gunung Jati/Syarif Hidayattullah adalah dua orang yang berbeda. Kedua orang ini memang dua sahabat sebagai sesama ulama Islam. Ini dua orang yang berbeda karena di atas gunung Sembung, sebuah bukit di sekitar Cirebon, tempat makam para leluhur Cirebon ditemukan baik makam Sunan Gunung Jati maupun makam Fadillah Khan. Sunan Gunung Jati wafat pada tahun 1568, sedangkan Fadillah Khan (Falatehan/Fatahillah) wafat pada tahun 1570.

Itulah tiga hal pokok yang termuat di dalam buku setebal 84 halaman ini, terlalu minim catatan kaki sehingga pembaca serius kurang bisa mengkritisi sumbernya, meskipun wacana yang disampaikan Slamet Muljana hampir dapat dipercaya. Aku sendiri menilai ada bahan yang bisa dipercaya, terutama tentang sejarah Jakarta, tetapi ada yang masih meragukan. Memang dunia sejarah akan selalu penuh dengan kontestasi, karena memang benar: sejarah adalah sekedar catatan mengenai masa lalu. Tinggal siapa yang berani membuktikan ia punya catatannya dan berani mempertahankan argumentasinya.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s