Reformasi “Jauh Panggang dari Api”

Reformasi: Sejak Tumbangnya Orde Baru sampai Lahirnya Reformasi dalam Kartun GM. Sudarta
Karya GM. Sudarta

Terbit Juli 2000 oleh Penerbit Harian Kompas | Binding: Paperback | ISBN: 9799251362 | Halaman: 156

Catatan 12 Mei 2009

Semalam aku tidak bisa tidur, hati ini terus menerus dilanda gelisah. Jenis kegelisahan yang sebenarnya dipicu oleh satu kata yang sekarang “jauh panggang dari api”: Reformasi. Sepuluh tahun lebih sudah pemerintahan Orde Baru tumbang, suatu pemerintahan otoriter yang dicap bukan merupakan apresiasi dan representasi dari “Pemerintahan yang dikehendaki rakyat“. Harapan serta-merta timbul akan suatu era “Pemberdayaan dan Partisipasi maksimal Masyarakat Indonesia seutuhnya” dengan menata kembali segala kemampuan Sumber Daya Manusia, perangkat lunak-keras, sarana-prasarana yang ada dalam tatanan kehidupan bangsa yang sudah lebih setengah abad merdeka ini, maka bangkitlah “Era Reformasi” dengan sejuta harapan. Tapi sekali lagi, semua itu kalau aku renungkan kembali tadi malam “jauh panggang dari api”.

Untuk satu kata itu, aku ambil antologi kedua kartun editorial GM. Sudarta ini dari lemari. Kenapa buku itu? Karena GM. Sudarta pandai memilih satu berita yang dipikirkan banyak orang dan divisualkan dalam 1, 2, atau 3 frame, yang bisa membuat siapapun yang membacanya tersenyum dan tertawa. Memang aku ingin terhibur saja, daripada merenung tidak jelas.

Kartun editorial GM. Sudarta yang dinamakan Oom Pasikom atas reformasi boleh dibilang nyaris sempurna. Ia sudah melakukan pekerjaan antropologi visual/historiografi visual dengan membuat dokumentasi atas apa yang terjadi dalam jagad ipoleksosbudhankam negeri ini dengan gambar karikatur – suatu teknik gambar distorsi yang melebih-lebihkan atau penyederhanaan beberapa karakteristik orang. Orang mengenalnya karyanya dengan karikatur Oom Pasikom, padahal harusnya tetap dipertahankan dengan nama kartun editorial karena diakui sendiri oleh GM. Sudarta dalam pengantar buku ini bahwa karyanya boleh dibilang editorial harian Kompas dalam bentuk karikatur.

Isinya? Sebagaimana bisa disimak dari gambar-gambar di atas maka dapat dikatakan isi kartun editorial GM Sudarta diangkut dari realitas sosial. Dalam kartun editorialnya banyak membopong fakta-fakta sosial budaya yang bertebaran di masyarakat. “Realitas karikatur” adalah pantulan dari realitas sosial budaya sebuah masyarakat tertentu. Pada titik inilah sebenarnya kartun editorial dalam surat kabar yang kehadirannya rutin, intensif dan kritis dari waktu ke waktu akan mampu menyediakan diri sebagai alat baca alternatif atas kecenderungan dan pergeseran sebuah masyarakat. Di dalamnya juga ada cara pandang kritis terhadap dinamika masyarakat itu.

Menyimak karya-karya GM Sudarta lepas masa Orde Baru serasa menyimak upayanya untuk lepas dari jargon Kompas yang hati-hati dalam menyampaikan kritik ala orang Jawa: Ngono ya ngono, ning aja ngono. Begitu ya begitu, tapi jangan begitu. Ungkapan ini, yang telah mengental sebagai ideologi, memberi semacam garis demarkasi bagi hadirnya sebuah kritik. Dua kata ngono pada bagian awal mengindikasikan kemungkinan dan peluang akan hadirnya sebuah kritik dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Di sini tersirat kemampuan manusia dan atau kultur Jawa untuk mengakomodasi datangnya kritik. Sedangkan kata ngono yang ketiga seolah menjadi kunci pokok yang menyiratkan pentingnya etika dan moralitas dalam tiap kritik yang muncul, tentu dengan subyektivitas khas Jawa. Artinya ada relasi yang komplementatif atas hadirnya kritik yang berpeluk erat dengan pentingnya aspek format, bentuk, dan kemasan kritik. Sehingga dalam mencermati kenyataan di atas, terlihat menyeruaknya pemaknaan wacana kritik (khas Jawa) yang bisa ditafsirkan sebagai paradoksal dan mendua. Ideologi kritik semacam ini kian menguat dan strategis untuk dihadirkan ketika Oom Pasikom muncul di tengah kuku kekuasaan otoritarianisme Orde Jawa yang dipimpin raja Soeharto.

Pemerintahan militeristik yang cenderung antikritik waktu itu bagai mengalih-ubah jargon ngono ya ngono ning aja ngono secara eksploitatif menjadi “ngritik ya ngritik ning aja ngritik” atau “protes ya protes ning aja protes”. Situasi represif inilah yang kemudian memberi celah kemungkinan baginya untuk bersiasat membangun kreativitas di forum publik yakni lewat harian Kompas. Siasat ini lumayan berhasil.

Kehadiran karikatur GM Sudarta sendiri bagi harian Kompas berposisi sebagai katup opini redaksi di samping katup lain yakni pojok Mang Usil dan tajuk rencana. Senjatanya jelas: gambar dengan pendekatan humor. Sejak kemunculannya pertama kali di Kompas 4 April 1967, kemudian awal dikreasinya maskot Oom Pasikom hampir empat tahun kemudian pada 20 Februari 1971, hingga sekarang ini, antara Kompas dan karikatur Oom Pasikom seolah menjadi paket tunggal yang integral dan mutual. Keduanya identik, demikian dikatakan Jacoeb Oetama di kata sambutan buku ini pula. Saling menunjang dan menguatkan untuk membangun identitas Kompas seperti yang kita kenali kini.

Lalu kini, apa yang bisa dibaca pada karya-karya karikatur tersebut ketika mereka hadir berhamburan dalam kilasan waktu dan konteks budaya yang terus merambat? Terhadap reformasi misalnya, masihkah kartun editorial GM. Sudarta ini bertuah? Aku pikir masih. Malah semakin berharap, ada generasi penerus yang menggantikan GM Sudarta yang tahun ini makin lanjut usianya. Malah kalau bisa, ada salah satu dari kalangan pembuat kartun editorial yang meraih The Pulitzer Prize for Editorial Cartooning yang sudah dianugrahkan sejak tahun 1922. Mungkin yang pantas sejauh ini, ya cuma GM Sudarta. Tapi itu penilaianku personal, bukan panitia Pulitzer. Oya, soal kegelisahanku tadi malam. Tampaknya sudah dibuyarkan oleh gelak tawaku sendiri saat membaca antologi karya ini.

5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s