Mengimajinasikan Kebangkitan Srimulat

Indonesia Tertawa: Srimulat sebagai Sebuah Subkultur
Karya Anwari

Terbit 1999 oleh Pustaka LP3ES | Binding: Paperback | ISBN: 9798391853 (isbn13: 9789798391859) | Halaman: 437

DALAM lanskap bangsa terkini yang di dalamnya terjadi tarik-menarik kekuatan ekonomi, sosial, politik, dan budaya di Indonesia yang disertai ketegangan penuh kontradiksi antara yang tulus dan munafik, yang jujur dengan pembohong, kasus Manohara, pembunuhan Nasruddin yang melibatkan Ketua KPK Antasari Ashar, flu babi, manuver partai-partai menjelang pemilu presiden Juli 2009 nanti, kebutuhan akan lawakan dan humor sudah barang tentu menjadi niscaya. Sebagai bangsa, kita betul-betul butuh lawakan dan humor. Bahkan boleh kita amini pernyataan seorang filsuf Barat bernama Immanuel Kant yang mengatakan lawakan atau humor dapat mencairkan manusia dari ketegangan. Karena lawakan dan humor akan menghadirkan senyum di wajah rakyat dan bukan tidak mungkin menghasilkan tawa terbahak-bahak karena gembira.

Dulu kita punya barisan pelawak yang humoris. Sebut saja Srimulat, Warkop DKI (dulu Warkop Prambors), Bagito, dan lainnya. Tekanan hidup akibat Orde Baru hingga krisis 1997 menemukan titik perimbangannya dengan kehadiran lawakan yang segar. Pada masa itu, kita bahkan menyebutnya “obat stress”. Tapi sayang kini tinggal sejarah. Warkop, sepeninggal Dono dan Kasino, praktis tidak ada lagi. Bagito pun bubar karena habis. Miing Bagito tampaknya lebih sibuk ingin jadi caleg DPR RI suatu partai untuk daerah pemilihan Banten. Srimulat yang disebut pertama, rontok karena banyak pelawak yang bergabung di dalamnya meninggal: Asmuni, Basuki, hingga yang terakhir Timbul, menyusul para penggagasnya Teguh dan istrinya Raden Ajeng Srimulat, putri wedana Bekonang, Solo.

Apakah dengan demikian kita dilanda krisis lawak? Dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Quo Vadis Lawak Indonesia” yang diadakan oleh Jojoncenter Dokumentasi Komedi Indonesia dan Yayasan Umar Kayam 16 Januari 2009 silam, pertanyaan-pertanyaan seputar masa depan lawak di Indonesia mengemuka dan coba dijawab. Hasilnya dituliskan oleh Sholahuddin demikian: Di Indonesia, seni lawak masih sering dianggap sebelah mata jika dibandingkan dengan kesenian-kesenian lain. Pertunjukan lawak belum mendapat apresiasi yang positif selain hanya sebagai pengisi waktu luang. Begitupun dengan para pelawak. Mereka tidak ubahnya seperti badut yang pamer kekonyolan tanpa muatan lawakan yang bisa membawa pesan.

Hasil diskusi itu ternyata memang sebangun dengan apa yang pernah ditulis Jay Sankey dalam bukunya “Zen and The Art of Stand-Up Comedy” (1998): “Tidak seorang pun sengaja memilih menjalani hidup sebagai komedian. Jalan hidup satu ini begitu sulit dan saat ini juga tidak setimpal penghargaannya. Sehingga hanya mereka saja yang sengaja menerjuninya, yaitu mereka yang tidak hanya semata-mata ingin terjun ke dalamnya tetapi dilatarbelakangi alasan dirinya harus menerjuninya.” Artinya, mereka yang menjalani hidup sebagai komedian atau pelawak akan senantiasa menghadapi perkara yang sama seperti hasil FGD itu sampai kapanpun.

Namun meskipun berat seperti itu, toh terdengar kabar juga padaku dari kota Surabaya sebagai salah satu pabrik tawa Srimulat. Srimulat akan muncul kembali! Kali ini mengusung nama Srimulat Manggung Keliling (SMK) dimotori oleh Bambang Gentolet. Malah sebetulnya sejak Maret 2008, mereka berusaha comeback memakai nama Srimulat Reinkarnasi. Mereka kembali berusaha menghidupkan gelak tawa di Taman Hiburan Rakyat Surabaya, tempat yang menjadi simbol kebesaran grup lawak itu. Namun, perjuangan tersebut seakan kembali tak berarti. Kursi penonton berangsur-angsur sepi. Beberapa pelawak pun akhirnya tetap hidup mendua. Mencari pekerjaan lain di luar panggung Srimulat tersebut alias “Lin C”, istilah mereka untuk cari orderan dari tempat lain.

Lain dengan Srimulat Reinkarnasi yang loyo, Srimulat Manggung Keliling justru mendapat respon luar biasa. Penampilan mereka di Surabaya bulan Maret 2009 lalu dengan lakon “Batu Ajaib” mampu membuat penonton enggan beranjak meski gerimis mengguyur. Lakon yang memparodikan keajaiban Ponari, anak kecil yang mampu menyembuhkan tanpa obat, disambut dengan riuh rendah tepukan penonton. Pertanyaannya ‘akankah Srimulat mampu bangkit lagi kali ini’ segera muncul di kepala. Pertanyaan itu sebenarnya bagian kecil dari harapanku sendiri yang begitu besar agar Srimulat tetap meramaikan dunia lawak Indonesia. Aku bukannya tidak suka pada jenis lawakan ala Extravaganza, para jebolan API yang lahir dan dibesarkan televisi, atau bergenre Project Pop dan Timlo dengan memarodikan lagu-lagu. Bukan itu, tetapi karena mungkin benar yang disebut-sebut Anwari dalam buku “Indonesia Tertawa: Srimulat sebagai Sebuah Subkultur” (1999) bahwa dalam diriku yang secara sosiologis sudah dapat dikatakan mahluk urban tapi ternyata di dalamnya masih menyimpan semangat-semangat romantisme tradisional. Masih menggilai dagelan bahasa ibu, cerita kerajaan, lagu-lagu dan tarian-tariannya.

Memang, Srimulat tak bisa dipisahkan dari kosmologi yang melingkupinya: Jawa. Baik secara antropologis maupun kultural historis, Srimulat adalah subkultur dari kosmologi Jawa yang begitu luas. Dengan bahan yang luar biasa melimpah, Anwari memberi pembuktian yang sulit untuk dibantah bahwa Srimulat erat berkaitan dengan kesenian-kesenian tradisional yang lebih dulu hadir di ranah Jawa. Yang ia maksud adalah kesenian wayang orang, ludruk dan ketoprak. Kesenian-kesenian inilah yang menjadi induk bagi lahirnya kesenian baru yang dinamakan dagelan. Bahkan secara historis, baru aku tahu bahwa lawak/dagelan yang kita kenal justru baru muncul di awal abad ke-20, tepatnya tercetus tahun 1925 oleh Ki Jayeng Gedung alias Ki Gunopradonggo. Saat pergantian set/babak wayang orang atau ketoprak yang memakan waktu, akhirnya tercetus untuk membuat suatu pementasan yang pendek dan bertujuan melulu menghibur penonton agar tidak bete melihat kegiatan pergantian set itu. Maka lahirlah kemudian yang disebut Dagelan Mataram. Dagelan Mataram sebagai sebuah genre komedi muncul sekitar tahun 1930-an. Dagelan Mataram inilah yang kemudian ditiru dan dikembangkan oleh Srimulat dan para penerusnya.

Adalah Teguh dan istrinya RA Srimulat yang mengubah dagelan yang tadinya hanya sebentar dan sekedar pelengkap pertunjukkan tari dan menyanyi hingga akhirnya justru menjadi pertunjukkan utama pada tahun 1969. Sajian “full humor 100%”, begitu mereka menyebutnya. Teguh Srimulat kemudian melambungkan kelompok lucu Srimulat ini pada puncak kejayaannya, antara tahun 1970-1990-an awal. Kelompok humor ini mampu menyedot penonton hingga memenuhi kapasitas 800 penonton di Taman Hiburan Rakyat Surabaya. Bahkan mereka pun mampu membuka franchise panggungnya yang juga laris di Jakarta dan Solo pula dengan mengawaki 300 lebih pelawak dan penghibur. Jagad dunia lawak Indonesia kemudian mengenal nama-nama terkenal antara lain seperti Asmuni, Bambang Gentolet, Basuki, Bendot, Djudjuk, Eko DJ, Gepeng, Gogon, Kadir, Mamiek, Nunung, Nurbuat, Subur, Tarzan, Tessy, Timbul, Triman, Vera, dan masih banyak lagi.

Namun prahara menerpa. Srimulat limbung dan meninggalkan hutang cukup besar waktu menutup cabang di Jakarta kepada pemilik gedung. Setelah vakum 5 tahun, tanpa terduga lewat serangkaian lobi Jujuk, istri baru Teguh Srimulat dengan Kadir Mubarak, eks Srimulat yang sukses main di beberapa film komedi, Srimulat mendulang
sukses kembali dengan nama Srimulat Reuni. Bahkan bukan itu saja, kebangkitan televisi swasta punya andil menghidupkan pementasan Srimulat bukan hanya di satu stasiun, bahkan di beberapa stasiun sekaligus meskipun dengan nama yang beragam: Ketoprak Humor (RCTI) digawangi Timbul dan Basuki, Toples (ANtv), dll. Meskipun pada akhirnya, di tahun 2009 ini, Srimulat kembali tiarap.

Apa yang membuat Srimulat begitu istimewa sebenarnya? JB Kristanto yang pernah meneliti Srimulat di tahun 1970-an menyatakan bahwa Srimulat memiliki dramaturginya sendiri yang beda dengan kesenian tradisional: ludruk, wayang orang, ketoprak, tayuban, dll. Ia lebih modern dengan membagi dalam 2 babak dan masing-masing babak terdiri dari 6 adegan. Babak awal selalu diawali dengan monolog ngudarasa/ngrasani.

Malahan, monolog-monolog Srimulat hampir semua aku hapal di luar kepala. Misalnya begini:

Layar dibuka dan seorang pembantu laki-laki masuk membawa kemoceng. Kain lap tersampir di bahunya.

PEMBANTU
(ngedumel) Ealah… 5 tahun kerja di rumah Pak Tarzan kok, gaji tidak naik-naik. Kalau begini yang naik cuma darah, alias jadi cepat marah. Hehehe.

Pembantu yang muncul di babak pertama sungguh tidak bisa disepelekan. Karena ia justru pemegang peran utama dan hanya yang dipercaya oleh Teguh atau sutradara sajalah yang mampu jadi pembantu. Pembantu itu yang selalu mengawali pertunjukkan Srimulat dengan monolog ngudarasa dan jadi juru pembuka sekaligus penentu apakah pertunjukkan lawak hari itu akan sukses atau tidak. Mana ada jenis lawakan lain memakai formula seperti ini?

Sekarang mengenai isi lawakannya. Menurutku Srimulat terbilang sebagai kelompok pelawak yang “terlalu santun” dalam melawak. Tidak berisi kritik yang tajam, semua serba berlapis-lapis persis seperti orang Jawa. Sindiran sosial dan politik ke pemerintah nyaris sublim, yang kental malah lawakan tentang masyarakat, semisal memperolok orang-orang yang sok kekota-kotaan. Ini misalnya pada tokoh Triman yang sering kepleset mengatakan ‘gilo le’ padahal maksudnya ‘gile lo’. Bukan hanya itu, oleh Anwari disebut Srimulat itu mewakili genre sendiri.

Secara historis, Srimulat diletakkan pada genre berikut:

1. Genre Lawak Srimulat
Srimulat dan deretan lawak tradisional (ludruk, bebodoran) yang mengandalkan improvisasi dari benang merah cerita. Unsur kritik sosial lebih kentara.

2. Genre Lawak Literer (lawak kritis)
Adalah grup lawak yang mematangkan diri sebelum naik panggung dengan skenario. Unsur kritik politiknya lumayan kental. Masuk ke kategori ini adalah Warkop DKI, Bagito, Patrio, dll.

3. Genre Lawak Alternatif
Semisal Ateng-Iskak-Edy Sud, Djayakarta (Jojon) yang tidak mengacu pada dua genre di atas. Lawakan Ateng, misalnya, tidak slapstick tapi juga tidak terlalu kaku mengikuti skenario.

Contoh lawakan macam ini adalah Ateng. Ini plotnya Ateng yang menurutku juga lumayan lucu.
Pelawak 1: Mas masih tinggal di tempat dulu?
Pelawak 2: Oh nggak, yang dulu sudah saya kontrakkan
Pelawak 1: Sama siapa?
Pelawak 2: Sama Dubes
Pelawak 1: Wah, hebat juga ya. Kenapa?
Pelawak 2: Karena rumah itu mau dijadikan percontohan rumah orang miskin di Indonesia.

Apalagi yang bisa ditemukan dalam membicarakan Srimulat? Sungguh banyak, karena kelompok yang sudah muncul tahun 1950-an ini betul-betul punya gudang kisahan yang dapat diceritakan. Misalnya tentang “ideologi” yang dikembangkan Teguh bahwa “aneh itu lucu dan yang lucu itu aneh”. Turunannya adalah berbagai hal aneh berikut ini:

* Eko Londo alias Eko Handai Tolan Hawai Fife O Jhon Tra la la la la la padahal nama sebenarnya Eko Kuntoro Kurniawan
* Tarzan adalah nama panggung Toto Muryadi, pelawak Lokaria Surabaya yang hijrah ke Srimulat
* Polo itu nama yang digunakan Bharata
* Nunung itu bukan nama asli. Nama sebenarnya adalah Tri Retno Prayudati
* Tessy alias Tessy Kadarwati Srimulyani Barokah Kabul yang digunakan Kabul Basuki sebagai nama panggung setelah diminta Teguh untuk ganti nama yang aneh.
* Skripsi untuk skenario benang merah mereka
* Gaya rambut Gogon yang mirip sikat sepatu.
* Yongky yang sebenarnya petinju tapi justru ditampilkan sebagai drakula atau kuntilanak. Tidak pernah kebagian dialog, tetapi kehadirannya memberi warna pada pementasan Srimulat.

Sembari guyonan, aku sempat menyatakan ke Nanto Sriyanto, salah satu teman pembaca buku, perihal barangkali kita inilah generasi terakhir yang akan mengenang gegap gempita Srimulat. Karena memang Srimulat sungguh menemui tantangan yang luar biasa hebat bila nantinya akan muncul kembali. Mau tidak mau Srimulat harus tanggap dengan perkembangan atau pergeseran pasar. Mereka harus mulai menggunakan naskah dan berpakaian jas. Tapi buatku, pada saat itu sebenarnya Srimulat sudah bukan lagi Srimulat yang kukenal, yang bermain-main, bermodal skenario tak kaku. Karena setiap kali melihat permainan mereka, sungguh seperti kata Johan Huizinga, seorang ahli pikir dan filsafat, elemen “bermain-main” dalam kebudayaan dan masyarakat itulah yang menciptakan kegembiraan.

“Marilah kita mulai proses menjadi manusia itu dengan tertawa. Kita butuh Srimulat, kita butuh Srimulat yang membuat tawa kita kembali menjadikan kita sebagai manusia. Kita butuh Srimulat! Agar Indonesia ini bisa tertawa.” Kalimat di sampul belakang buku ini tepat menutup catatan terhadap isi buku ini.

4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s