Potongan-Potongan Sejarah yang Menarik

Asal Usul Perang Jawa, Pemberontakan Sepoy & Lukisan Raden Saleh
Karya Peter Carey

Terbit 2004 oleh LKiS | Binding: Paperback | ISBN: 9793381698 | Halaman: 214

TENTU membangkitkan rasa penasaran melihat judul buku yang satu ini. Apalagi melihat sedikit penjelasan tentang apa yang akan dibahas. Masing-masing dalam satu bab tentang sosok Diponegoro (masih belum terbiasa menulisnya Dipanegara seperti dalam buku ini) dan peranannya dalam Perang Jawa 1825-1930, orang-orang Sepoy yang membuat persekongkolan, dan lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro yang mirip lukisan lain.

Tentang yang pertama, tentu semua kita sudah mengakrabi dengan tokoh yang satu ini dan juga tentang perangnya, bahkan sampai-sampai dibuatkan lelucon semacam ini:

Guru: Berapa lama Perang Diponegoro berlangsung?
Murid: 5 menit bu guru!
Guru: Lho kok?
Murid: Iya, (sambil menunjuk jam dinding) dari 18 25 sampai 18 30.

Dulu juga kita dijejali tentang kisahan, bagaimana heroiknya peperangan ini yang awalnya dari pemasangan patok oleh Belanda. Sungguh, ini kita percaya begitu saja. Tapi sudah dari dulu juga, aku bertanya begini: Kenapa Pangeran Diponegoro selalu digambarkan menaiki kuda, dengan pakaian putih, turban putih, macam ksatria dari kerajaan Ottoman, Turki? Kenapa bukan pakai beskap dan blangkon? Kan dia orang Jawa? Trus, kalau sekedar mencabuti patok, kenapa Diponegoro disebut nasionalis? Benarkah dia anti-kolonial?


Lukisan tangan A.J. Bik tentang Diponegoro, saat ia menjadi pengawal Diponegoro selama penahanan di Batavia.

Dengan pertanyaan-pertanyaan macam itu, masing-masing informasi sudah aku telisik, tapi tidak memuaskan. Sampai akhirnya ketemu buku tipis ini, karangan Peter Carey yang sungguh mengejutkan karena memberi informasi awal yang fasih dan lebih akurat ketimbang isi wikipedia Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Diponegoro). Semua penjelasan Carey cukup masuk akal, apalagi ia menggunakan sumber utama yang baru aku tahu keberadaannya: Babad Diponegoro versi Manado, yang ditulis sendiri oleh Diponegoro di pembuangan sekitar tahun 1830-an. Karena benar seperti yang diutarakan sahabatku Mahatmanto, yang menjuluki buku ini “keberatan judul” sehingga pembaca bisa over-promising selesai membacanya karena kelewat tipis dan sebatas pada menjawab beberapa persoalan awal tentang Diponegoro.

Kisahan Carey diawali dengan penjelasan bahwa Diponegoro adalah anak laki-laki tertua dari HB III, namun sayangnya ia bukan anak dari istri utama, melainkan dari selir raja. Banyak desas-desus berujar, saat HB III wafat dan tahta diserahkan ke anaknya yang masih kecil, sebenarnya banyak pihak menyayangkan. Karena di mata mereka, Diponegoro yang sudah beranjak menjadi pemuda berpengaruh karena kebijakan dan kealimannya, lebih “pantas” dinobatkan jadi raja, meskipun persoalan “pantas” itu tentulah menjadi tidak bijak dalam kacamata tradisional. Karena terbukti, pemerintahan selepas HB III menjadi lemah karena disetir oleh orang-orang yang berada di sekitarnya dan kemudian menjadi sasaran kritik Diponegoro.

Dari kritik-kritik inilah, Diponegoro dituding menyimpan “ketidakpuasan” tersembunyi. Semua tindak-tanduknya “disengaja selalu bertentangan” dengan kemauan pemerintahan kasultanan Yogyakarta yang sah.

Carey memberikan kerangka makro soal konflik “tersembunyi” ini. Bahwa pada saat itu, ketegangan yang terjadi di Yogyakarta diperparah dengan pemerintahan bentukan Surakarta dan campur tangan terlalu dalam orang-orang Eropa (Belanda dan kemudian Inggris) dalam kehidupan sosial-politik-ekonomi di pemerintahan raja Jawa. Ketegangan demi ketegangan muncul dari pencabutan sistem land-rente ke cultuur stelsel yang menanami lahan-lahan dengan tanaman keras kopi, teh, tebu, merica membuat banyak tuan tanah (yang notabene bangsawan) Jawa yang kehilangan penghasilan dari hasil menyewakan tanah yang akhirnya mengalihkan tanah ke bangsa Eropa dan Cina dan rakyat Jawa terlibat hutang begitu besar padahal sudah bekerja keras. Sementara raja yang muda “seolah” melupakan rakyatnya dan digambarkan lebih senang berpakaian ala mayor jendral Belanda di dalam istananya.

Situasi itu membuat Diponegoro geram dan ingin mengembalikan norma lama yang sudah lebih dulu ada sebelum Belanda dan kemudian Inggris mengangkangi kerajaan Jawa. Tentu saja niatannya ini disambut baik oleh banyak bangsawan Jawa dan bahkan pamannya Pangeran Mangkubumi yang sebenarnya dikirim oleh pihak kraton untuk meredam aksi Diponegoro malah mendukung. Bahkan ketegangan ini akhirnya dipertegas sendiri oleh Diponegoro, menjadi semacam perang sabil bagi dirinya: perang melawan kekafiran (Belanda-Inggris-kraton yang kebarat-baratan) dan ia memposisikan diri menjadi imam mahdi. Lalu melengkapi diri dengan atribut semacam pejuang Ottoman, yang bermisi untuk menegakkan agama Islam di tanah Jawa.

Dengan membaca ini, dengan sendirinya pertanyaan-pertanyaanku itu dijawab oleh buku ini. Termasuk juga dengan penjelasan bahwa aksi Diponegoro lebih bersifat lokal dan sektoral di Jawa dan bidang ekonomi dan agama daripada sebuah aksi anti-kolonial yang lebih luas. Bahkan beberapa penjelasan ini memicu pertanyaan, darimana pengaruh ke-Islaman perjuangan Diponegoro itu? Apakah nantinya terkait dengan kiprah Tuanku Nan Renceh yang mengupayakan hal serupa di Sumatra? Coba lihat dari baju yang dikenakan dan tujuan sosio-keagamaannya.

Bagian kedua buku ini tentang persekongkolan orang Sepoy dengan pihak kraton Surakarta untuk menjatuhkan kepemimpinan Inggris. Sepoy adalah nama pasukan-pasukan Inggris yang didatangkan dari Benggala/Bengali sebanyak 5.000 orang. Prajurit Sepoy ini digambarkan begini: prajurit paling tinggi, mempunyai bentuk tubuh paling baik dan mempunyai penampilan paling agung. Yang dinilai oleh Raffles, kemampuannya sudah setara dengan prajurit Eropa, bahkan orang Jawa takut pada mereka ini. Soal ini, aku sudah pernah tahu dari buku Raffles The History of Java. Dalam buku itu dijelaskan dua informasi yang berkaitan dengan orang-orang Sepoy. Pertama di halaman 354-355, yang mengindikasikan bahwa persekongkolan itu bagaimana awalnya dan apa tujuannya dari pandangan Raffles sendiri. Menurut Raffles, persekongkolan ini dimulai dengan perkenalan seorang prajurit Sepoy ke kalangan istana dan segera meraih simpati karena raja dibilang keturunan dari Sri Rama dan mereka bertujuan hendak mengembalikan kejayaan Hindu dari pengaruh-pengaruh Barat. Di halaman 637, Raffles melaporkan keadaan pasukan Sepoy ini di Cimanggis yang hidup sehat dibandingkan para prajurit yang ada di Batavia.

Tapi di buku ini, Carey memberi aspek yang lebih informatif, misalnya dengan penjelasan psikologis kenapa Sepoy ingin memberontak yang salah satunya dipicu oleh ketakutan mereka sendiri kalau-kalau ditinggalkan Inggris dan akan dijual kepada Belanda setelah pemulihan kembali kekuasaan kerajaan Hindia Belanda setelah kekalahan Perancis. Penjelasan-penjelasan lain juga menambah informasi tentang kejadian yang secara terorganisir dihapuskan pemerintahan Inggris dalam sejarah negeri ini.

Bab terakhir buku ini, mengulas soal lukisan Raden Saleh yang diberikan Raden Saleh sebaga
i ucapan terima kasihnya atas beasiswa yang ia dapatkan dari pemerintah kolonial. Lukisan itu mengisahkan kisah penangkapan Diponegoro di Magelang.


Tapi anehnya, lukisan ini amat serupa dengan lukisan Nicolaas Pieneman yang berjudul “The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock”.

Bertahun tahun lamanya dipercaya bahwa Raden Saleh adalah seorang yang pro Belanda karena dimakamnya tertulis “Raden Saleh Djoeroegambar dari Sri Padoeka Kandjeng Radja Wolanda”. Namun lewat lukisan yang mirip ini, Raden Saleh mengungkap sebuah cerita tentang bangsanya: Indonesia.

Pada saat penangkapan Pangeran Diponegoro dengan cara licik oleh Belanda, Raden Saleh masih berada di Eropa tepatnya di Perancis, kiblat demokrasi Eropa masa itu. Belanda sangat merahasiakan kelicikannya pada dunia International untuk menghindari tekanan Eropa.

Karena itu Raden Saleh tahu bahwa lukisan Pieneman bahwa Pangeran Diponegoro yang berdiri dengan wajah letih dan dua tangan terbentang. Hamparan senjata berupa sekumpulan tombak adalah tanda kalah perang. Di latar belakang Jenderal de Kock berdiri berkacak pinggang menunjuk kereta tahanan seolah memerintahkan penahanan Diponegoro tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya.

Ia lalu membuat lukisannya sendiri tentang penangkapan tersebut dengan penggambaran pengikut Pangeran Diponegoro tak membawa senjata. Keris di pinggang, ciri khas Diponegoro, pun tidak terlihat. Menurut kalender peristiwa itu terjadi di bulan Ramadhan. Maknanya, Pangeran dan pengikutnya sedang berpuasa dan datang dengan niat baik mau berunding dan bukan berperang. Diponegoro ditangkap dengan mudah, Jenderal de Kock tahu musuhnya tak siap berperang di bulan Ramadhan. Di lukisan itu Pangeran Diponegoro tetap digambarkan berdiri dalam pose siaga yang tegang. Wajahnya yang bergaris keras tampak menahan marah, tangan kirinya yang mengepal menggenggam tasbih.

Sayang sekali, buku ini terlalu tipis (214 halaman). Aku sebenarnya tidak keberatan bila buku ini ditulis oleh Peter Carey menjadi 1.000 halaman untuk masing-masing bab, seperti bukunya yang belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul The Power of Prophecy Prince Dipanagara and The End of An Old Older in Java 1785-1855.

3/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s